Hari Pahlawan: Mengenal sosok Rasuna Said dan Martha Tiahahu
Media playback tidak ada di perangkat Anda

Hari Pahlawan: Mengenal sosok Rasuna Said dan Martha Tiahahu

Namanya diabadikan sebagai nama jalan, kantor, dan hunian di Jakarta. Tapi banyak yang tidak tahu bahwa Rasuna Said sebenarnya perempuan.

Rasuna sudah mulai berkecimpung di ranah politik di usia yang belia, 16 tahun. Waktu itu dia menjadi sekretaris organisasi Sarekat Rakyat (SR) cabang Sumatera Barat. Tokoh sentral organisasi ini adalah Tan Malaka.

Dia juga turut merintis pendirian PERMI (Persatuan Muslimin Indonesia) dan bertugas di seksi propaganda. Dia kerap berorasi di hadapan publik, mengkritik pemerintah kolonial Belanda. Dia mengecam cara Belanda memperbodoh dan memiskinkan bangsa Indonesia.

Simak juga:

"Karena keberaniannya mengkritik pemerintah Belanda, ia dijuluki 'singa betina'," sebut Jajang Jahroni dalam "Haji Rangkayo Rasuna Said: Pejuang Politik dan Penulis Pergerakan" yang dimuat buku Ulama Perempuan Indonesia (2002).

Sementara itu, nama Martha Christina Tiahahu menjadi nama sebuah taman di kawasan Blok M, Jakarta, juga salah satu nama kapal perang RI. Sejarah soal pejuang perempuan asal Maluku tersebut jarang diketahui. Literatur mengenai sosoknya pun terbilang langka.

Martha diperkirakan lahir pada 4 Januari 1800 di Nusa Laut, sebuah pulau berjarak sekitar 70 kilometer dari Kota Ambon, Maluku. Pada usia 17 tahun, Martha Tiahahu bergabung dalam gerakan perjuangan melawan Belanda bersama pasukan Pattimura.

Waktu itu, Martha memimpin pasukan tempur perempuan sebagai panglima perang.

Sayang, perlawanannya berlangsung singkat. Martha ditangkap oleh Belanda dan diangkut ke Jawa untuk dipekerjakan secara paksa di perkebunan kopi.

Kesehatannya memburuk dan wafat pada 2 Januari 1818 dalam perjalanan ke Jawa, tepatnya di antara Pulau Buru dan Manippa. Jasadnya dibuang di Laut Banda.

Video produksi: Anindita Pradana dan Pijar Anugerah