Punya ladang panel surya raksasa, kenapa China masih gunakan batu bara?
Media playback tidak ada di perangkat Anda

Punya ladang panel surya raksasa, kenapa China masih gunakan batu bara?

China gencar mengembangkan energi bersih demi membantu memerangi tingkat pencemaran di dunia.

Hal ini juga menjadi bentuk pemenuhan janji China untuk menghentikan pertumbuhan emisi gas rumah kaca tahunannya pada tahun 2030 di bawah Kesepakatan Iklim Paris.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan membangun ladang panel surya raksasa. Selama tiga tahun terakhir, China sukses membangun ribuan hektar ladang panel surya.

Tahun 2016, China telah menghasikan energi tenaga surya dengan kapasitas 77 gigawatt. Pencapaian itu jauh melampaui produksi negara penghasil energi bersih lainnya seperti Jerman, Jepang, dan Amerika Serikat.

Simak juga:

Energi terbarukan China dihasilkan dari ladang panel surya terbesar di dunia, Longyangxia.

Luasnya mencapai 10 mil persegi dan sekarang memiliki 4 juta panel surya.

Ladang panel surya ini mampu menghasilkan listrik 850 megawatt dan cukup untuk daya sekitar 140.000 rumah.

Saat ini, China bahkan sudah mencapai 'grid parity' atau kondisi di mana biaya untuk memproduksi energi menggunakan panel surya sama atau bahkan lebih rendah dari energi yang berasal dari batu bara.

Di sisi lain, negara ini masih mengandalkan batu bara sebagai sumber energi utama.

China juga tercatat menjadi penyumbang emisi karbon terbesar di dunia, yakni sebesar 25%. Dampaknya, pemanasan global terus terjadi yang menyebabkan es di puncak gunung di Asia mencair dan mempengaruhi cadangan air bersih.