Kosmetik dari minyak sawit berkelanjutan, bisakah jadi solusi?
Media playback tidak ada di perangkat Anda

Kosmetik dari industri minyak sawit berkelanjutan, bisakah jadi solusi?

Sebanyak 70% produk kosmetik mengandung minyak kelapa sawit. Mencari solusi yang lebih baik, Emmy Burbidge, penata rias berusia 28 tahun asal Inggris, terbang ke Papua Nugini.

Di sana dia mengunjungi perkebunan kelapa sawit untuk menggali lebih dalam tentang bahan baku utama produk kecantikan tersebut.

Produk kecantikan dibuat dari minyak inti kelapa sawit. Harganya lebih mahal karena kuantitasnya jauh lebih sedikit dibandingkan minyak kelapa sawit mentah yang nantinya diproses menjadi minyak untuk memasak dan produk makanan lainnya.

Simak juga:

Permintaan kelapa sawit dari industri kecantikan terus meningkat dan umumnya, peningkatan produksi kelapa sawit dilakukan dengan perluasan perkebunan, yang berarti pembalakan hutan.

Namun beberapa perusahaan sawit tidak lagi menambah luasan perkebunan mereka dan beralih pada sains, dengan merekayasa bibit kelapa sawit untuk menghasilkan lebih banyak buah, di luas kebun yang sama.

Produksi yang kini disebut dengan industri sawit berkelanjutan.

Lalu, bagaimana cara mengetahui produk kecantikan yang menggunakan minyak sawit berkelanjutan?

Di situlah masalahnya bertambah semakin rumit, karena minyak sawit tidak memiliki sertifikasi resmi untuk produk berkelanjutan seperti kopi atau teh. Selain itu label minyak sawit berkelanjutan itu pun jarang yang sampai ke produk kosmetik.

Solusinya, kita harus jeli melihat bahan baku kosmetik yang kita gunakan. Dan jika, perusahaan kosmetik tersebut masih menggunakan minyak sawit yang tidak berkelanjutan, konsumen berhak meminta mereka mengganti bahan baku yang lebih ramah lingkungan.