'Saya tidak akan pernah takut pada TikTok'
Media playback tidak ada di perangkat Anda

'Saya tidak akan pernah takut pada TikTok'

TikTok meminta maaf pada Feroza Aziza, remaja Amerika Serikat yang video viralnya dihapus dan akunnya sempat dibekukan.

Video Feroza Aziza tentang tutorial tata rias yang mengkritik perlakuan China terhadap Muslim Uighur ditonton lebih dari sembilan juta kali, namun video tersebut kemudian dihapus.

Kini, akun Feroza sudah kembali aktif dan video tersebut juga bisa kembali ditonton.

Platform media sosial milik ByteDance, perusahaan teknologi asal China tersebut, mengatakan mereka tidak menerapkan prinsip-prinsip moderasi yang dianut pemerintah China. Dan video viral yang diunggah pada 23 November lalu itu terhapus karena 'human error'.

Simak juga:

Feroza menyebut dia akan terus membahas isu tersebut di berbagai platform media sosial yang dia punya, termasuk TikTok, kendati aksesnya ke platfrom media sosial tersebut sempat diblokir.

"Saya akan terus membahasnya, di Twitter, Instagram, di semua media sosial yang saya punya, bahkan Tiktok," ujarnya pada wartawan BBC, Vivienne Nuniss.

"Saya tidak takut pada Tiktok, bahkan setelah akun saya diblokir. Saya tidak akan pernah takut pada Tiktok."

Di sisi lain, Lembaga Human Rights Watch mengatakan kepada BBC bahwa kurangnya transparansi pada platform TikTok patut mendapat perhatian lebih.

"TikTok tidak mempublikasikan data pada video yang dihapusnya atau pengguna yang diblokir, atau alat kecerdasan buatan yang digunakannya untuk memblokir akun seseorang," kata Yaqiu Wa, periset dari HRW..

"Meski secara berulang kali TikTok menekankan pihaknya tidak ditekan pemerintah China terkait konten yang dihapus, namun tetap saja ada kecurigaan, bahwa semua perusahaan China tidak hanya bertanggungjawab kepada para pemegang sahamnya, tetapi juga terhadap Partai Komunis China. "