Natal di Gereja Ortodoks Rusia: Kesederhanaan yang kerap dianggap kuno
Media playback tidak ada di perangkat Anda

Natal di Gereja Ortodoks Rusia: Kesederhanaan yang kerap dianggap kuno

Tanggal 25 Desember identik dengan perayaan Natal yang meriah, namun tidak di sini. Hanya ada sebuah pohon natal berdiri di sudut altar, satu-satunya simbol yang terlihat di gereja Ortodoks Rusia jelang peringatan kelahiran Yesus Kristus.

Umat gereja Ortodoks memperingati Natal pada tanggal 7 Januari.

Bukan hanya itu saja yang berbeda. Umat gereja ortodoks di Indonesia harus menjalankan keyakinan iman di tengah bermacam persepsi dan stigma publik. Pakaian dan sebagian ajaran mereka dianggap mirip tradisi Islam.

Simak juga:

Mereka juga berpuasa sebelum hari besar, seperti Natal dan Paskah. Umat Ortodoks Rusia diwajibkan berpantang daging dan yang dihasilkan oleh daging selama 40 hari.

Cara beribadah mereka pun lain. Tak ada kursi, mereka semua berdiri. Laki-laki di sisi kanan, sementara para umat perempuan yang mengenakan kerudung berada di sebelah kiri.

Di seluruh dunia, setidaknya hingga 2018, penganut ajaran gereja Ortodoks Rusia diperkirakan mencapai 150 juta orang.

Di Indonesia, gereja ortodoks pertama kali berdiri tahun 1988 di Solo. Penggagasnya adalah Romo Daniel Byantoro. Saat ini, jemaat mereka berjumlah sekitar 1000 orang.

"Kami adalah kristen tapi minoritas. Kami berhubungan baik dengan beberapa gereja. Ajaran Kristus adalah kasih, saya yakin setiap gereja mengajarkan itu. Walaupun mayoritas atau besar, mereka akan tetap melindungi dan merangkul gereja kecil," kata Romo Boris Setiawan, pemimpin gereja Santo Thomas di Jakarta.

Video produksi:

Produser: Abraham Utama

Video Editor: Lesthia Kertopati

Kameraman: Jefri Tarigan untuk BBC News Indonesia