Kesehatan mental
Media playback tidak ada di perangkat Anda

Pengakuan remaja penyintas bunuh diri: 'Kesendirian itu tidak enak'

Peringatan: Tayangan ini mengandung konten bunuh diri. Kebijaksanaan pemirsa disarankan. Jika Anda dalam kondisi depresi atau memiliki kecenderungan bunuh diri, segera menghubungi layanan kesehatan jiwa terdekat.

Dina (nama samaran) mencoba bunuh diri saat berada di bangku kuliah. Pada waktu itu, dia merasa sendirian, tidak punya dukungan.

"Pemikiran pertama bunuh diri pertama kali tercetus waktu aku SMP. Saat itu kondisi keluargaku sedang tidak baik. Mamaku meninggal dunia, kemudian papaku menikah lagi. Aku juga tidak dekat dengan kakakku. Aku benar-benar merasa sendiri, tidak punya siapa-siapa. Aku terpikir, 'apa aku menyusul mama saja ya?'" ujar Dina.

Tapi, bukan hanya itu yang membuat Dina mencoba mengakhiri hidupnya.

Ada banyak faktor yang membuat Dina terpicu untuk bunuh diri. Salah satunya stigma yang dia dapatkan dari orang-orang di sekelilingnya.

"Saat itu aku merasa ada stigma negatif dari keluarga dan dari masyarakat bahwa mencari bantuan [kesehatan jiwa] itu gila, mencari bantuan itu kurang iman. Aku malas mendengar perkataan itu, jadi aku memilih diam," tambahnya.

Percobaan bunuh diri yang Dina lakukan ternyata gagal. Dia pun tersadar dan mencari pertolongan.

Dina hanya satu dari sejumlah remaja yang melakukan percobaan bunuh diri.

Data Global School-Based Student Health Survey (2015) di Indonesia menyebutkan remaja perempuan yang memiliki ide bunuh diri mencapai 5,9%, sedangkan remaja pria 4,3%.

Adapun percobaan bunuh diri yang dilakukan remaja pria mencapai 4,4%, sedangkan remaja perempuan 3,4%.

Simak juga:

Benny Prawira, psikolog dan pendiri komunitas pencegahan bunuh diri Into The Light, menyebutkan orang-orang yang punya pemikiran bunuh diri tidak harus punya depresi, juga tidak harus didahului dengan gangguan jiwa.

"Tapi gangguan jiwa akan meningkatkan pemikiran untuk bunuh diri berkali-kali lipat," kata Benny.

Dukungan dari keluarga, tambah Benny, akan sangat membantu mereka yang punya keinginan bunuh diri.

"Jika social support-nya ada, tentu itu akan sangat membantu secara signifikan. Karena itu akan mencegah dia sampai ke titik perencanaan bunuh diri yang lebih detil, yang lebih parah," ujar Benny.

Selain itu, Benny melanjutkan, pihak sekolah juga harus ikut berperan.

"Sekolah perlu membiasakan pembicaraan mengenai hal-hal yang mengguncang kondisi kejiwaan siswa," imbuhnya.

Video produksi: Jerome Wirawan dan Dwiki Marta

dibantu oleh Yuli Saputra dan Prayudi.

----

Jika Anda, sahabat, atau kerabat memiliki kecenderungan bunuh diri, segera hubungi dokter kesehatan jiwa di Puskesmas, Rumah Sakit terdekat, atau Halo Kemenkes dengan nomor telepon 1500567.

Anda juga dapat mencari informasi mengenai depresi dan kesehatan jiwa dengan mengontak sejumlah komunitas untuk mendapat pendampingan seperti LSM Into The Light melalui intothelightid.org dan Yayasan Pulih pada laman yayasanpulih.org.