'Bertemu pelaku pengeboman yang membunuh orang tua saya'

Garil dan Sarah adalah anak-anak yang kehilangan orang tua karena Bom Bali 1 dan Bom Kuningan, Jakarta. Peristiwa itu memang sudah lama berlalu, namun kepedihan dan rasa marah pada pelaku masih membekas.

Ayah Garil adalah salah satu dari 202 orang yang meninggal dunia karena Bom Bali I pada tahun 2002. Ayah Garil, Aris Munandar, adalah seorang supir angkutan yang kerap menunggu penumpang di depan Sari Club, Kuta, yang merupakan lokasi pengeboman.

Garil baru berusia 10 tahun kala itu, dan harus mengidentifikasi jasad ayahnya karena sang ibu sakit parah.

Simak juga:

Sementara Sarah, kehilangan ibunya di usia lima tahun, bertepatan dengan hari ulang tahunnya. Ibu Sarah, Halila, menjadi korban Pengeboman Kedutaan Besar Australia di kawasan Kuningan, Jakarta, pada 2004.

Pada waktu itu, Halila yang tengah hamil besar, bersama suaminya, Iwan, sedang menuju ke dokter untuk memeriksa kandungannya. Ledakan bom membuat dia terpental dan patah tulang panggul. Iwan, yang harus kehilangan salah satu bola matanya, bersusah payah membawa istrinya ke rumah sakit.

Halila, kendati luka berat, berhasil melahirkan anak keduanya. Namun dia tidak selamat.

Tahun demi tahun berlalu, duka dan kemarahan akibat insiden tersebut terus menghantui Garil dan Sarah. Demi mengentaskan masa lalu, keduanya bertemu dengan pelaku untuk menanyakan hal yang selama ini menyesakkan batin mereka.

Saat mereka bertemu pelaku pengeboman, apa yang mereka tanyakan dan bisakah mereka memaafkan perbuatan pelaku?

BBC mendapatkan izin dari BNPT dan Ditjen Pemasyarakatan untuk menyaksikan pertemuan mereka termasuk di Lapas pengamanan tingkat tinggi Nusakambangan.

*Ini merupakan bagian dari program BBC Crossing Divides, Melintasi Perbedaan, yang mengisahkan berbagai cerita tentang bagaimana orang berinteraksi dalam dunia yang terpolarisasi.

Produser: Endang Nurdin dan Rebecca Henshcke

Pengarah Visual: Haryo Wirawan (scene Ali Imron dibantu oleh juru kamera Dwiki Marta)

Video Editor: Kevin Kim