Pengungsi Rohingya kembali mendarat di Aceh, LSM yakini ada jaringan penyelundupan manusia

Pengungsi Rohingya kembali mendarat di Aceh, LSM yakini ada jaringan penyelundupan manusia

Sebanyak 297 pengungsi Rohingya mendarat di pantai Lhokseumawe, Aceh pada Senin (07/09) dini hari. Badan PBB yang menangani pengungsi, UNHCR, menyebut sekitar 183 orang di antara mereka adalah anak-anak. Dari angka itu, sekitar 169 anak berusia di antara 10-18 tahun, sementara 14 anak masih berusia di bawah 10 tahun.

"Ini adalah jumlah anak yang sangat tinggi. Mereka membutuhkan atensi khusus dan aktivitas bagi anak-anak," kata Ann Mayman dari UNHCR.

Kondisi umum para pengungsi, ujar Mayman, "lemah, tubuh dan otot mereka membengkak, banyak di antara mereka yang hampir tidak bisa berjalan, mereka sangat lelah setelah hampir tujuh bulan di lautan."

Simak juga:

Menurut Chris Lewa dari organisasi non-pemerintah Arakan Project asal Thailand, kelompok berjumlah 297 orang ini merupakan bagian dari sebuah kapal besar yang pada awalnya mengangkut sekitar 800 etnis Rohingya dari Bangladesh pada akhir Maret.

"Kelompok ini pergi dari Bangladesh, kebanyakan dari kamp pengungsi, pada bulan Maret. Mereka pergi dengan menggunakan kapal besar yang dilaporkan mengangkut 800 orang. Mereka mencoba mencapai Malaysia pada bulan April, namun mereka tidak bisa turun dari kapal karena pembatasan akibat Covid-19, sehingga Malaysia mulai mendorong mereka kembali ke perairan internasional," ujar Lewa.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Thailand. Pada Juni lalu, sebanyak 94 etnis Rohingya terdampar di perairan Aceh Utara, sebelum akhirnya dibawa ke daratan oleh para nelayan setelah mendapat desakan dari para penduduk setempat.

Selain ditolak oleh negara-negara Asia Tenggara, alasan lain mengapa etnis Rohingya terombang-ambing di lautan selama enam bulan adalah karena mereka "dijadikan tawanan" oleh kelompok penyelundup manusia.

"Penyelundup manusia ini ingin dibayar, jadi mereka menawan para penumpang, itulah kenapa kelompok ini menghabiskan waktu lama di lautan sebelum mereka mendarat [di Aceh],"papar Lewa.

"Kami menghubungi beberapa kerabat para penumpang ini, mereka mengatakan telah membayar [biaya perjalanan] pada Mei lalu, namun kenapa mereka belum mendarat saat itu adalah karena belum semua penumpang di kapal telah membayar. Jadi mereka menawan mereka di tengah lautan," tambahnya.

Pemerintah kota Lhokseumawe menempatkan para pengungsi Rohingya tersebut di kantor Balai Latihan Kerja (BLK) di kota itu, bersama dengan kelompok pengungsi sebelumnya.

Video Editor: Anindita Pradana; kameraman: Hidayatullah (Aceh)