Pemaksaan jilbab di sekolah negeri: 'Jika lepas jilbab, saya dicap bermoral buruk di rapor'

Pemaksaan jilbab di sekolah negeri: 'Jika lepas jilbab, saya dicap bermoral buruk di rapor'

Organisasi Human Rights Watch (HRW) melaporkan peraturan wajib jilbab di sejumlah sekolah negeri di Indonesia telah menyebabkan tekanan psikologis bagi siswi dan guru perempuan yang menolaknya.

Laporan ini diterbitkan hampir sebulan setelah pemerintah menerbitkan Surat Keputusan Bersama Tiga Menteri yang melarang aturan busana sekolah, menyusul protes siswi Kristen yang dipaksa berjilbab di sebuah sekolah negeri di kota Padang.

Sejak 2014 hingga tahun ini, HRW melakukan wawancara antara lain 140 siswi, guru perempuan di beberapa sekolah negeri di kota di Sumatera, Jawa dan Sulawesi, yang sebagian besar mengalami tekanan psikologis, bahkan dilaporkan ada yang berusaha bunuh diri.

Simak juga:

Salah satu yang pernah mengalaminya adalah Nadya Karima Melati. Dia dipaksa berjilbab saat duduk di bangku SMA.

"Saya harus melakukan konformitas jika ingin diterima di lingkungan yang mewajibkan jilbab," kata Nadya, yang mengaku kerap mencopot jilbabnya di sekolah.

Namun tekanan menggunakan jilbab yang terus menerus membuatnya tidak tahan sehingga dia memutuskan membuka jilbab sepenuhnya.

"Puncak depresinya ketika akhir semester kuliah, aku memutuskan melepas jilbab," ujarnya. "Dan itu guncangan besar, karena aku betul-betul dikucilkan lingkungan."

Video Editor: Lesthia Kertopati