Istri pertama korban poligami

Power point Sisters in Islam
Image caption Penelitian awal Sisters in Islam dan Universitas Kebangsaan Malaysia mencakup keluarga berpenghasilan rendah

Istri pertama pria yang melakukan poligami harus bekerja keras untuk menghidupi keluarga mereka, menurut hasil penelitian yang dilakukan di Malaysia.

Media playback tidak ada di perangkat Anda

Penelitian LSM Sisters in Islam dan Universitas Kebangsaan Malaysia antara lain menyebutkan istri pertama harus menafkahi anak-anak karena pria yang berpoligami lebih memusatkan pada keluarga baru.

"Istri pertama selalu harus menanggung anak-anak, suami tidak lagi bisa memenuhi sepenuhnya karena sudah ada dua keluarga," kata Irena Idris dari Sisters in Islam kepada BBC Indonesia.

Irena mengatakan penelitian ini baru tahap awal dan dipusatkan pada keluarga yang berpenghasilan rendah dan penelitian selanjutnya akan melibatkan keluarga kelas menengah ke atas.

SIS memperkirakan sekitar lima persen perkawinan poligami di Malaysia.

Masalah seputar poligami

Penelitian ini, menurut Irena Idris, dimaksudkan untuk mengetahui lebih lanjut masalah-masalah yang ditimbulkan dalam perkawinan poligami.

"Di Malaysia banyak yang melakukan poligami...dan selama ini kami tidak memiliki data untuk membahas isu terkait. Berdasarkan data ini, kami ingin lihat bagaimana pengaruh poligami terhadap kehidupan keluarga," kata Irena.

Berdasarkan data awal, lebih 90% dari 523 anak yang diwawancarai dalam penelitian itu menyatakan tidak mau berpoligami bila mereka dewasa.

Peneliti SIS lain Syarifaul Adibah Mohamad Jodi mengatakan melalui studi diharapkan peraturan perkawinan di Malaysia akan diperketat.

Adibah mengatakan seperti dikutip kantor berita AFP perombakan harus mencakup jaminan bahwa istri pertama tetap mendapat dana dari suami dan bahwa suami harus meminta ijin istri sebelum menikah lagi.

"Walaupun para wanita mengatakan mereka tidak bahagia dalam perkawinan, mereka harus menerimanya. Posisi mereka rentan, secara finansial dan emosional," kata Adibah seperti dikutip kantor berita AFP.

Penelitian dengan wawancara lebih 1.235 orang dari keluarga poligami ini, secara resmi akan diterbitkan tahun depan.

Berita terkait