Joki cilik di pacuan kuda Sumbawa

Umumnya joki cilik berusia enam hingga 12 tahun dan beberapa masih harus dibantu untuk naik dan turun dari kuda pacu.

Foto Ade Kurniawan Rusdy
Keterangan gambar,

Para joki cilik Sumbawa berpacu dengan perlengkapan helm yang tidak memenuhi standar keselamatan dan juga tanpa pelana. Foto-foto oleh Ade Kurniawan Rusdy.

Keterangan gambar,

Juru foto Ade Kurniawan Rusdy melakukan riset, wawancara dengan para joki serta keluarganya, dan mengabadikan kegiatan mereka di dalam dan di luar pacuan kuda sejak tahun 2009 hingga 2013.

Keterangan gambar,

Penggunaan joki cilik di Sumbawa sejalan dengan tradisi leluhur masyarakat Sumbawa bahwa anak laki-laki harus berani dan bertanggung jawab atas semua yang dimilikinya.

Keterangan gambar,

Umumnya joki cilik di Sumbawa berusia enam hingga 12 dan beberapa masih harus dibantu untuk naik maupun turun dari kuda pacu.

Keterangan gambar,

Para joki cilik biasanya mendapat dukungan penuh dari keluarga, khususnya ayah, karena mereka juga menjadi sumber pendapatan keluarga.

Keterangan gambar,

Kakak beradik joki cilik saat upacara ritual penyatuan roh kuda dengan roh sang joki melalui perantara dukun atau dalam bahasa setempat disebut 'sandro'.

Keterangan gambar,

Upacara penyatuan roh kuda dan roh joki cilik dimaksudkan agar saat berpacu dengan kecepatan tinggi, maka joki cilik tidak sampai terjatuh.

Keterangan gambar,

Bilik start merupakan salah satu tempat yang penuh risiko kecelakaan karena pipa-pipa besi membuat kuda yang bersiap-siap start merasa tidak nyaman dan melompat-lompat tidak terkendali.