Paduan kisah Yunani dan tarian Indonesia di London

Foto-foto oleh Spencer Lloyd Peet (www.slpeetphotography.com) Hak atas foto Spencer Lloyd Peet
Image caption Begitu memasuki ruangan, langsung terasa susana Indonesia dengan topeng dan kain batik. Hak cipta foto: Spencer Lloyd Peet (www.slpeetphotography.com).

Sebuah teater kontemporer di pusat kota London, The Cockpit, menampilkan drama klasik Yunani, Hippolytos, yang dikemas dengan tari Bali dan Jaipongan, dibawah arahan Dr Margaret Coldiron, yang pernah belajar tari di Bali.

Drama Yunani dengan sentuhan Indonesia ini pertama kali ditampilkan tahun 1998 lalu dalam Konferensi Triennial Classics di Cambridge Inggris. Setahun kemudian ditampilkan di London, sebelum dibawa ke Siprus, dan Amerika Serikat.

Hak atas foto Spencer Lloyd Peet
Image caption Dr Margaret Coldiron -sutradara tari Hippolytos yang juga penari Bali- memandu para penari yang tampil.
Hak atas foto Spencer Lloyd Peet
Image caption Iringan musik kontemporer diramaikan dengan gamelan, yang dipimpin Manuel Jimenez, salah seorang guru gamelan di London.

Kemudian muncul gagasan menghidupkannya kembali untuk tahun 2016 dan persiapan pertunjukan di Teater The Cockpit London ini sudah dimulai sejak Bulan Desember 2015 dengan menggunakan naskah yang diadaptasi oleh Yana Zarifi dan Jamie Masters.

"Tidak ada kesulitan dalam mengkombinasikannya. Yang paling menyenangkan adalah mendapat 'persetujuan' dari para penonton, yang menikmatinya," jelas Dr Coldiron kepada wartawan BBC Indonesia, Liston Siregar.

"Akan senang sekali kalau drama ini juga bisa ditampilkan di Indonesia," tambahnya.

Hak atas foto Spencer Lloyd Peet
Image caption Karakter dalam drama Hippolytos -yaitu dewa dan manusia- tampil dengan topeng Bali, yang dibuat oleh Anak Agung Gede Ngurah dari Lodtunduh, Bali.
Hak atas foto Spencer Lloyd Peet
Image caption Kisah klasik Yunani, Hippolytos, karya Euripides digarap oleh rumah teater Thiasos (www.thiasos.co.uk) dengan perancang panggung Christina Papageorgiou.

Dalam pengantar pertunjukan disebutkan tokoh dalam drama -dewa dan manusia- muncul dengan Topeng Bali sementara paduan suara untuk refrain menampilkan tari Jaipongan, sebuah tari kontemporer yang didasarkan pada tradisi tari rakyat Jawa Barat.

Menurut Dr Coldiron, ada kesamaan antara budaya klasik Yunani dan Bali, yaitu sama-sama memiliki banyak dewa.

"Keduanya juga sama dalam tradisi pertunjukan yang juga merupakan sebuah ritual."

Hak atas foto Spencer Lloyd Peet
Image caption Hippolytos 'ala' Indonesia ini pertama kali ditampilkan di Cambridge Inggris pada tahun 1998.
Hak atas foto Spencer Lloyd Peet
Image caption Selama empat malam hingga akhir Februari, Hippolyptos dipentaskan di The Cockpit, sebuah teater kontemporer di Marylebone, pusat kota London.

Pada salah satu malam pertunjukan, Jumat 26 Februari, digelar tanya jawab seusai pentas bersama Profesor Edith Hall -ahli studi klasik yang menulis buku Introducing The Ancient Greeks. Prof Hall mengaku untuk pertama kalinya dia menyaksikan interpretasi kisah klasik Yunani lewat tari Bali dan Jaipongan.

"Saya juga terkesan dengan kemampuan para penari yang menari sambil bernyanyi dalam Bahasa Yunani. Itu tidak mudah," jelasnya.

Hak atas foto Spencer Lloyd Peet
Image caption Lirik karya Euripides dinyanyikan dalam bahasa Yunani namun dengan tarian Jaipongan.
Hak atas foto Spencer Lloyd Peet
Image caption Tidak satupun penari maupun pemain musik dalam Hippolytos yang orang Indonesia.

Seorang narator sesekali menyela tarian untuk menuturkan kisah drama Yunani kuno, Hippolytos karya Euripides, yang pertama kali dipentaskan di Athena sekitar 428 SM.

Produksi drama Hippolytos ini dibantu oleh seniman Yunani, Christina Papageorgiou, yang merancang panggung dan kostum penari sementara seniman Anak Agung Gede Ngurah dari Lodtunduh, Bali, membuat topeng Bali yang digunakan.

Hak atas foto Spencer Lloyd Peet
Image caption Setelah tampil di London, Thiasos rencananya akan membawa Hippolytos ke Polandia pada Bulan Mei.
Hak atas foto Spencer Lloyd Peet
Image caption Gerakan tari kontemporer menjadi saling melengkapi dengan tarian tradisional Indonesia.

Bulan Mei, drama ini akan dibawa ke Polandia untuk tampil di Teatr Polski di ibukota Warsawa dan ada kemungkinan juga akan menyeberang ke Australia.

Hak atas foto Spencer Lloyd Peet
Image caption Para penari mendapat sambutan hangat dari penonton yang menikmati harmonisasi kisah klasik Yunani dan tarian Indonesia, yang asing bagi beberapa penonton.
Informasi selengkapnya bisa dilihat di situs Thiasos http://www.thiasos.co.uk dan semua hak cipta foto milik Spencer Lloyd Peet (www.slpeetphotography.com)