Mengenang Revolusi Kebudayaan Mao Zedong

Lima puluh tahun lalu, persisnya 16 Mei 1966, Mao Zedong meluncurkan salah satu eksperimen sosial terbesar di dunia: Revolusi Kebudayaan.

Buku Merah Mao
Keterangan gambar,

Buku berjudul 'Kutipan dari Ketua Mao' atau sering disebut 'Buku Merah Mao' merupakan salah satu alat 'cuci otak' pada masa Revolusi Kebudayaan yang berisi 427 kutipan Mao Zedong.

Keterangan gambar,

"Revolusi bukan pesta makan malam, bukan pulaseperti menulis artikel atau membuat lukisan; tidak bisa seanggun, semenyenangkan atau selembut itu. Revolusi adalah kerusuhan, sebuah tindakan keras dari satu kelas yang menjatuhkan kelas lain." Begitutertulis dalam 'Buku Merah Mao'.

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar,

Profesor Ji Xianlin dari Universitas Peking menyaksikan langsung kamp kerja paksa pada masa 1968/1969 dengan setiap pagi dimulai dari keharusan untuk mengingat satu kutipan dari Ketua Mao.

Keterangan gambar,

Sepanjang tahun 1964 hingga 1976, diperkirakan lebih dari lima miliar Buku Merah Mao dicetak dalam 40 bahasa, yang menjadikannya sebagai buku yang paling banyak dicetak setelah Alkitab.

Keterangan gambar,

Lencana yang melambangkan pemujaan atas Mao Zedong dengan perkiraan sekitar dua miliar lencana diproduksi pada masa Revolusi Kebudayaan.

Keterangan gambar,

Lencana Mao amat populer pada masa 1967-1969 ketika banyak orang ingin memperlihatkan kesetiaan kepada 'Pemimpin Agung'.

Keterangan gambar,

Kultus individu Mao tidak terbatas pada buku dan lencana saja, juga poster-poster yang antara lain dipajang di kantor, aula, ruang kelas, maupun di dalam rumah.

Keterangan gambar,

Selain poster yang di bagian bawahnya tertulis kesetiaan, ada juga poster-poster yang berisi puisi Mao maupun potret para pekerja, petani, tentara, dan kaum revolusioner muda.

Keterangan gambar,

Selempang tangan ini dugunakan oleh barisan kaum muda yang disebut Pengawal Merah, yang awalnya didirikan di sekolah menengah dan universitas di Beijing tahun 1966 sebelum menyebar ke seluruh negeri.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Mao Zedong mendukung Pengawal Merah dan melakukan inspeksi dalam pawai-pawai besar, antara lain delapan kali di Lapangan Tiananmen sejak Agustus hingga November 1966.

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar,

Dengan dorongan dari Mao, Tentara Merah berperan penting dalam menggelar gerakan menumpas pejabat, guru, dan kaum intelektual yang dicap sebagai borjuis maupun kontrarevolusioner.

Sumber gambar, Other

Keterangan gambar,

Sejumlah aksi masa digelar untuk mengecam orang-orang yang dianggap 'berjalan di jalur kapitalis', 'borjuis intelektual' dan cap-cap buruk lainnya.

Keterangan gambar,

Buku ini ditulis tahun 1998 oleh Profesor Ji Xianlin dengan judul 'Kenangan Kandang Sapi' yang mengisahkan pengalaman nyaris mati di kamp kerja paksa antara tahun 1968 hingga 1969.

Keterangan gambar,

Profesor Ji antara lain menulis keyakinannya akan 10 tahun kerusuhan sebagai kesempatan yang baik untuk mengambil pelajaran.

Keterangan gambar,

Sepanjang Revolusi Kebudayaan, sekolah dan universitas dikelola seperti lembaga semimiliter dengan murid-murid yang membawa kaleng air tentara.

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar,

Masa 1968-an, sesama anggota Pasukan Merah sering berkelahi dan mereka mulai dilihat sebagai pembuat masalah oleh Mao dan orang-orang dekatnya.

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar,

Sebuah patung Budha di Kuil Ling Yin di Hangzhou, Cina, ditempeli tulisan 'Hancurkan dunia lama' dan 'Ciptakan dunia baru'.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Bulan November 1966, lebih dari 200 anggota Pasukan Merah di Beijing menghancurkan Kompleks Konfusius di Provinsi Shandong.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Sepanjang tahun 1966 hingga 1976, hanya ada delapan opera revolusioner dan balet yang boleh disaksikan.

Keterangan gambar,

Pertunjukan ini mencerminkan kepahlawanan para pejuang revolusioner dalam melawan musuh-musuhnya dan posternya memuat kutipan Mao yang berisi bagaimana mestinya seni melayani masyarakat.