Kejuaraan Dunia Bulutangkis: Tontowi/Liliyana ingin kembali raih emas

Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir Hak atas foto ANDY BUCHANAN/AFP/Getty Images
Image caption Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir kalahkan ganda campuran Hong Kong Chun Hei Reginald Lee dan Hoi Wah Chau dalam semifinal Kejuaraan Dunia Bulutangkis di Glasgow, Skotlandia.

Bagi pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, Kejuaraan Dunia Bulutangkis di Glasgow, Skotlandia tahun ini tak sekedar perhelatan olahraga.

Digelar pada Agustus, yang bertepatan dengan bulan perayaan ulang tahun kemerdekaan Indonesia.

"Mudah-mudahan bisa mempersembahkan medali emas untuk Indonesia, bisa mengulang pencapaian di Olimpiade Rio 2016," kata Tontowi, seperti dilaporkan wartawan BBC Indonesia, Mohamad Susilo, di sela-sela Kejuaraan Dunia di Glasgow.

Pada Olimpiade tersebut Tontowi/Liliyana meraih emas bahkan tepat pada 17 Agustus.

Di partai puncak yang digelar di Emirates Arena, hari Minggu (27/08), Tontowi/Liliyana akan berhadapan dengan unggulan teratas dari Cina, Zheng Siwei/Chen Qingchen. Tontowi/Liliyana sendiri adalah unggulan ketiga.

Liliyana mengatakan dirinya tak terlalu memikirkan fakta bahwa lawan yang dihadapi adalah unggulan pertama.

"Yang kami pikirkan adalah bagaimana memberikan seluruh kemampuan, bermain maksimal, nanti hasilnya akan mengikuti," kata Liliyana.

"Kami juga tidak mau bermain di bawah tekanan. Kami ingin menampilkan permainan seperti di babak semifinal, bahkan lebih enjoy lagi," tambahnya.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Tontowi/Liliyana sudah beberapa kali masuk final dan menjadi yang terbaik di Kejuaraan Dunia. Terakhir, keduanya sukses di Kejuaraan Dunia 2013.

Liliyana adalah tiga kali juara dunia, masing-masing pada 2005 dan 2007 bersama Nova Widianto dan pada 2013 bersama Tontowi, membuatnya menjadi salah satu pemain ganda campuran yang paling sukses.

Selain Tontowi/Liliyana, Indonesia juga mengirim ganda putra di babak final, melalui pasangan yang relatif baru dipadukan, Mohammad Ahsan/Rian Agung Saputro.

Ahsan bukan nama asing, karena ia sudah malang-melintang di sektor ini bersama Hendra. Ahsan/Hendra adalah pemenang Kejuaraan Dunia pada 2013 dan 2015.

Ahsan/Rian kali ini tidak diunggulkan namun di luar dugaan bisa menumbangkan unggulan teratas dari Cina, Li Junhui/Liu Yuchen, dalam perjalanan menuju final.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Ahsan/Hendra berjanji tampil maksimal dan berusaha untuk tak terbawa tempo permainan lawan di babak final hari Minggu (27/08) di Glasgow.

Di babak semifinal hari Sabtu (26/08), Ahsan/Rian menang dua set langsung atas unggulan keempat dari Jepang, Takeshi Kamura/Keigo Sonoda, 21-12 21-15.

Di babak final, Ahsan/Rian akan berhadapan dengan unggulan kedelapan, Liu Cheng/Zhang Nan.

"Kesabaran dan pengalaman membuat Ahsan/Rian tampil sangat bagus di Kejuaraan Dunia ini. Ahsan tampil rapi di depan sementara Rian bisa menutup pertahanan di belakang," ujar pelatih ganda putra, Herry Iman Pierngadi.

Ahsan mengatakan menghadapi lawan di final, ia dan Rian akan bermain maksimal dan akan mencari strategi yang tepat.

"Kami akan berusaha menguasai pertandingan dan jangan sampai terbawa irama lawan," kata Ahsan.

Topik terkait

Berita terkait