Pekik dukungan Manchester United untuk Romelu Lukaku tergolong 'rasis'

Lukaku, Mancheste United Hak atas foto PA
Image caption Romelu Lukaku sudah mencetak lima gol dalam lima pertandingan Manchester United di Liga Primer Inggris sejauh ini.

Lembaga pegiat antidiskriminasi di Inggris, Kick It Out, meminta Manchester United mendesak para penggemar untuk tidak menyanyikan pekik Romelu Lukaku karena dianggap 'rasis'.

Mereka berpendapat liriknya -tentang ukuran penis penyerang Timnas Belgia itu- 'menghina dan diskriminatif'.

"Prasangka rasis tidak pernah bisa diterima, terlepas dari niatnya untuk memperlihatkan dukungan kepada seorang pemain," kata Kick It Out.

Manchester United mengatakan akan menjalin kerja sama dengan Kick It Out untuk menangani masalah tersebut.

Namun klub juga masih menunggu kajian apakah memang pekik itu dimaksudkan sebagai rasis 'untuk tujuan kriminal' sehingga perlu diambil tindakan.

Satu tulisan di blog khusus untuk Manchester United sudah meminta agar para pendukung tidak menyanyikannya lagi.

"Hal itu prasangka murahan yang menghina yang tidak punya tempat hari ini dan masa kini," tulis salah seorang pendukung United, Scott Patterson, dalam pesannya di Blog The Republik of Mancunia.

Hak atas foto PA
Image caption Sebuah tulisan di blog Manchester United, The Republik of Mancunia, sudah meminta pendukung menghentikan pekik yang dianggap 'rasis' untuk Lukaku.

Lukaku bergabung ke United dari Everton dengan nilai £75 juta atau sekitar Rp1,3 triliun dalam musim transfer bulan panas lalu dan bisa meningkat menjadi £90 juta.

Kick It Out mengatakan mereka 'mengetahui rekaman' tentang dugaan pekik rasis oleh para pendukung Manchester United pada Rabu (13/09), ketika Lukaku mencetak gol dalam pertandingan melawan Basel di Liga Champions, semalam sebelumnya.

"Jika kami menerima laporan terkait dengan pekik yang diskriminatif, kami meneruskannya kepada badan pengatur dan pelakunya bisa mendapat hukuman," tutur juru bicara Kick It Out.

"Itu pekik yang rasis."

Seorang guru besar psikologi terkait perilaku massa dari Keele University, Clifford Stott, mengatakan kepada Radio BBC 5 Live bahwa para pendukung sepak bola selalu membuat pekik dukungan dan kadang menabrak batas-batas.

"Ini adalah salah satu contoh saja. Saya menduga akan dengan cepat menghilang."

"Pekik itu rasis dan para pendukung Manchester United perlu menghadapi kenyataan tersebut. Pekik itu melanggengkan prasangka yang rasis dan saya kira pekik itu tidak akan bertahan lama karena orang-orang menyadari kenyataannya," tambah Stott.

Tapi apa sebenarnya pekik para pendukung Manchester United tentang Lukaku yang didendangkan dengan senyum kebil dan berpandang-pandangan satu sama lain?

"Romelu Lukaku, he's our Belgian scoring genius with a 24 inch penis, scoring all our goals, bell**d by his toes" yang bisa diterjemahkan menjadi "Romelu Lukaku, dia jenius pencetak gol Belgia kami dengan penis 24 inci, mencetak semua gol kami, ujungnya sampai ke kaki."

Topik terkait

Berita terkait