Piala Dunia 2018: FIFA investigasi dua pemain Swiss soal perayaan gol

Granit Xhaka (left) and Xherdan Shaqiri Hak atas foto EPA
Image caption Xhaka (kiri) dan Xherdan Shaqiri merupakan warga keturunan Albania dari Kosovo.

Federasi Sepakbola Dunia (FIFA) memutuskan untuk memulai penyelidikan terhadap dua pemain Swiss, Granit Xhaka dan Xherdan Shaqiri, terkait perayaan gol ke gawang Serbia dalam laga Grup E Piala Dunia.

Seusai mencetak gol yang memastikan kekalahan Serbia 1-2, baik Xhaka maupun Shaqiri membentuk telapak tangan mereka seperti elang berkepala dua yang merupakan simbol pada bendera Albania.

Keduanya merupakan warga keturunan Albania dari Kosovo—kawasan yang mengalami penyapuan etnik Albania oleh Serbia dan diakhiri intervensi militer NATO pada 1999.

Tak pelak, selebrasi gol Xhaka dan Shaqiri disoraki oleh para pendukung timnas Serbia.

Insiden tersebut rupanya tak berhenti di situ. Dalam pernyataan resmi, FIFA mengatakan komite disiplin telah menggelar investigasi terhadap berbagai pihak.

"Terkait laga yang sama, penyelidikan komite disiplin telah digelar terhadap Asosiasi Sepakbola Serbia lantaran gangguan penonton dan peragaan pesan politik dan menyerang para pendukung Serbia.

"Lebih lanjut, penyelidikan awal telah digelar terhadap pelatih tim nasional Serbia, Mladen Krstajic, atas pernyataan menuding yang dilontarkan setelah pertandingan mengenai laga tersebut."

Belum jelas apa yang dimaksud FIFA mengenai pernyataan Krstajic. Namun, kepada para wartawan Serbia, Krstajic melontarkan komentar terhadap wasit Felix Brych.

"Saya tidak akan memberikannya kartu kuning atau kartu merah. Saya akan mengirimnya ke Den Haag. Lalu mereka bisa menyidangkannya, seperti yang mereka lakukan kepada kita," kata Krstajic.

Di lain pihak manajer Swiss yang kelahiran Bosnia, Vladimir Petkovic, berkomentar soal perayaan Xhaka dan Shaqiri.

"Anda seharusnya jangan pernah mencampurkan sepakbola dan politik. Penting untuk menjadi pendukung dan memberi hormat. Suasananya menyenangkan dan seharusnya dukungan bisa seperti itu."

Ayah Xhaka menghabiskan 3,4 tahun di penjara Yugoslavia sebagai tahanan politik. Adapun Shaqiri dilahirkan di Yugoslavia sebelum hijrah ke Swiss saat kanak-kanak bersama orang tuanya.

Untuk mengingat asal-usulnya, Shaqiri mencantumkan bendera Kosovo di sepatunya.

"Itu hanya emosi. Saya sangat bahagia mencetak gol, tidak lebih. Saya pikir kita tidak perlu membicarakan soal ini sekarang," ujarnya ketika ditanya soal gaya selebrasinya.

Berita terkait