Bendera Inggris berkibar di Madura, pekik 'Belgia!' di Solo: Demam Piala Dunia 2018

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Kampung Piala Dunia ala Indonesia

Sihir Piala Dunia 2018, salah satu perhelatan olahraga paling akbar sedunia, merasuki dan membius orang-orang yang tinggal di pedalaman pulau Madura, Jatim, hingga di perbukitan di pinggiran kota Bandung, Jabar.

Orang-orang itu, dengan senang hati, 'mengotori' pagar rumahnya dengan bendera-bendera negara asing, mengurangi jam tidur demi menonton orang-orang 'berebut bola' di layar kaca, hingga 'mati-matian' mendukung tim impiannya.

"Teng, teng, teng... "

Tanda-tanda 'kerasukan' turnamen sepak bola sejagad itu mulai terlihat saat pria bernama Dede Rahmat memukul kentongan yang tergantung di pos ronda, bukan tanda bahaya, tapi isyarat dimulainya nonton bareng alias nobar Piala Dunia 2018.

Hak atas foto BBC News Indonesia/Mustofa
Image caption Suasana salah-satu sudut di sebuah desa di pinggiran kota Pamekasan, Madura, saat turnamen sepak bola dunia digelar di Rusia.

Tak lama kemudian, sejumlah warga, seluruhnya laki-laki, berdatangan ke pos ronda di blok D, perumahan Permata Padalarang, Kelurahan Jaya Mekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (23/06) lalu.

Di pos yang telah dihias atribut dan bendera negara peserta Piala Dunia 2018 itu, telah disiapkan televisi layar datar ukuran 29 inchi.

Tersedia pula aneka penganan ringan plus minuman penghilang kantuk. Warga bersiap menonton pertandingan Belgia versus Tunisia yang disiarkan mulai pukul 19.00 WIB malam itu..

"Setiap nobar hampir semua warga ikut nonton, kadang ada warga lain juga ikut nonton di sini," tutur Irhan Khoirul, yang malam itu meminjamkan televisinya untuk nobar, kepada Julia Azka, wartawan di Bandung, untuk BBC News Indonesia .

Hak atas foto BBC News Indonesia/Julia Alazka
Image caption Anak-anak bermain bola dengan latar mural wajah pesepakbola dunia yang ikut berlaga di Piala Dunia 2018.

Komplek perumahan di Padalarang itu baru dihuni 22 kepala keluarga - yang seluruhnya pendatang. Sebagian besar penghuni merupakan keluarga muda yang baru memiliki satu atau dua anak.

Umumnya, para kepala keluarga bekerja di Kota Bandung yang waktu tempuhnya, jika melalui jalan tol, sekitar 30 menit hingga satu jam.

Nonton bareng setelah penat bekerja

Dalam sepekan, kehidupan warga dihabiskan untuk bekerja dan keluarga. Namun, ajang Piala Dunia 2018 menyatukan dan mempererat hubungan antarwarga.

"(Piala Dunia) sangat berpengaruh sekali, terutama (terhadap) spirit warga untuk bisa berkumpul bersama, bercengkerama, menjalin silaturahmi," ungkap Dede, yang sekaligus koordinator warga yang tinggal di kawasan Blok D.

"Jadi tidak hanya nonton di rumah saja, kita juga adakan nonton di luar. Itu untuk mempertemukan warga pada saat sudah penat di pekerjaan," tambahnya.

Hak atas foto BBC News Indonesia/Julia Azka
Image caption Suasana nonton bareng di salah-satu blok di sebuah komplek perumahan di Padalarang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Di dalam perumahan itu, warga menyediakan tiga lokasi nobar, yaitu di dekat serta di tanah lapang. Di tempat itulah, warga memasang layar berukuran lima meter persegi.

"Kalau tempat nobar yang ada big screen (layar lebar) ini untuk momen khusus, misalnya big match (laga penting), pertandingan negara-negara unggulan," kata seorang warga, Irhan, yang menjagokan timnas Inggris.

Tidak hanya nobar, momen piala dunia di lokasi tempat tinggal Irhan juga menjadi wahana untuk mengembangkan kreativitas warga untuk menyemarakkan kejuaraan sepak bola itu.

Terlebih lagi, televisi swasta yang mendapat hak siar Piala Dunia 2018 menyelenggarakan lomba Kampung Piala Dunia 2018. Warga di perumahan itu pun bersama-sama menghias kampungnya dengan atribut dan ornamen bernuansa Piala Dunia 2018.

Hak atas foto BBC News Indonesia/Julia Azka
Image caption Warga sebuah perumahan di Padalarang, Bandung, Eko Sudarsono, 'terpaksa' mendukung timnas Brasil karena tim kesayangannya, Belanda, gagal lolos ke Piala Dunia 2018.

"Demam" piala dunia memang terasa sekali di Blok D Permata Padalarang. Lihat saja gapura bambu yang berdiri di jalan masuk perumahan. Gapura itu dihiasi maskot, tropi, dan bendera negara peserta Piala Dunia 2018.

Sepanjang jalan berdiri umbul-umbul dan spanduk yang sebagian di antaranya memajang foto anak-anak penghuni komplek disertai kata-kata yang mendukung nilai-nilai sportifitas, seperti fair play, winner never quit, dan keep calm and play soccer.

"Kami melibatkan anak-anak untuk ikut memeriahkan piala dunia," ungkap Dede.

Lukisan dengan tema sepak bola juga terlihat menghiasi kampung yang berlokasi di daerah perbukitan ini. Lukisan itu tidak hanya terlihat di tembok rumah, tetapi juga di badan jalan.

Hak atas foto BBC News Indonesia/Juli Alazka
Image caption Warga di sebuah perumahan di Padalarang, Kabupaten Bandung, menghiasi salah satu sudut kampungnya dengan pernak-pernik terkait piala dunia.

Satu-satunya mural yang tampak adalah lukisan wajah pemain sepakbola terkenal yang ikut piala dunia, yaitu Mohamed Salah, Christiano Ronaldo, Lionel Messi, dan Neymar.

Selain hiasan dan nobar, warga juga menggelar berbagai aktivitas bertemakan Piala Dunia, seperti pawai dan aneka lomba.

Kreativitas dan kerja keras warga Blok D Permata Padalarang ini akhirnya membuahkan hasil yang memuaskan. Mereka berhasil menjadi satu dari sepuluh pemenang kompetisi Kampung Piala Dunia 2018 dan berhak mendapatkan uang puluhan juta rupiah.

Mendukung Mesir tapi tidak memasang taruhan

Warga Blok D Permata Padalarang, kata Dede, punya jagoannya masing-masing. Dede sendiri mendukung Mesir.

"Saya mendukung Mesir karena ada Mohamed Salah. Dia kan muslim, pesepakbola terbaik," ujar Dede. Sayangnya, seperti diketahui, Mesir tersingkir lebih awal.

Hak atas foto BBC News Indonesia/Juli Alazka
Image caption Di sejumlah ruas jalan di sebuah komplek perumahan di Padalarang, Kabupaten Bandung, berdiri umbul-umbul dan spanduk yang sebagian di antaranya memajang foto anak-anak penghuni komplek disertai kata-kata yang mendukung nilai-nilai sportifitas.

Irhan sedikit lebih beruntung. Jagoannya, Inggris, masih terus melaju. Bapak dua anak ini yakin The Three Lions masuk final, apalagi didukung pemain-pemain top dunia.

"Ada Raheem Sterling, Harry Kane, dan banyak pemain lainnya," kata pria 30 tahun ini.

Bertemu pendukung fanatik Brasil

Warga lainnya, Eko Sudarsono, 'terpaksa' mendukung timnas Brasil karena tim kesayangannya, Belanda, gagal lolos ke Piala Dunia 2018. Menurut Eko, Brasil memiliki kans besar jadi juara.

Hak atas foto BBC News Indonesia/Mustofa
Image caption Semarak Piala Dunia 2018 di Rusia juga dirasakan oleh masyarakat Desa Tentenan Timur, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur.

"Kalau Brasil kalah, saya kira tidak mungkin. Dengan permainan yang diperlihatkan saat lawan Kosta Rika, semua individu sangat berperan penting. Jadi terbilang perfect lah untuk Brasil," ujar Eko yang memilih Philippe Coutinho sebagai pemain favorit.

"Coutinho terbilang masih muda, dia punya skill masih bisa berkembang, lebih bagus dibandingkan Neymar. Jadi saya berharap Coutinho bisa mendapat gelar terbaik di Piala Dunia 2018," kata Eko menambahkan.

Lalu, apakah mereka bertaruh? "Kalau untuk taruhan, kita tidak. Cuma sebuah kebanggaan sih kalau (jagoan kita menang) untuk piala dunia," ucap Eko.

Bendera Jerman berkibar di Pamekasan, Madura

Semarak Piala Dunia 2018 di Rusia juga dirasakan oleh masyarakat Desa Tentenan Timur, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur.

Hak atas foto BBC News Indonesia/Mustopa
Image caption Di salah-satu sudut desa, mereka juga memasang spanduk besar berisi jadwal pertandingan piala dunia.

Jauh sebelum turnamen empat tahunan tersebut digulirkan pada pertengahan Juni lalu, warga desa itu menyulap kampungnya menjadi kampung piala dunia.

Warga mengecat tembok-tembok rumahnya dengan pernak-pernik Piala Dunia - mulai mural bendera tim peserta, hingga mural pemain bintang seperti Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Mohamed Salah dan pemain lain.

Sebagian warga juga mengibarkan bendera peserta Piala Dunia 2018 di depan rumahnya sebagai bentuk dukungan.

Hak atas foto BBC News Indonesia/Mustofa
Image caption Warga di sebuah desa di Pamekasan, Madura, mengecat tembok-tembok rumahnya dengan pernak-pernik Piala Dunia - mulai mural bendera tim peserta, hingga mural pemain bintang seperti Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Mohamed Salah dan pemain lain.

Tidak hanya melalui gambar dan atribut, hampir setiap malam sebagian warga desa itu juga mendatangi lapangan desa untuk meramaikan acara nonton bareng laga Piala Dunia melalui televisi.

Diawali Piala Dunia 2006

Di salah-satu sudut lapangan itu, mereka juga memasang spanduk besar berisi jadwal pertandingan piala dunia.

Bagi Ahmad Rofiqi, 24 tahun, warga desa itu, keberadaan kampung piala dunia menambah antusiasme menyambut turnamen sepak bola sejagad tersebut.

Hak atas foto BBC News Indonesia/Mustopa

"Keberadaan kampung piala dunia ini banyak manfaatnya, kami bisa nonton bareng bersama warga sekitar, dan kami nikmati suka duka hasil pertandingan bersama-sama," ujar Rofiqi kepada wartawan di Pamekasan, Mustofa, untuk BBC News Indonesia, Selasa (25/06).

Sedangkan, Holili, 24 tahun, memanfaatkan nonton bareng untuk mempererat tali silaturrahmi, karena warga bisa bertegur sapa dan bahkan membahas topik piala dunia.

Bagaimanapun, kampung piala dunia di desa tersebut bukanlah yang pertama. Mereka mulai menyemarakkan ajang sepak bola itu sejak Piala Dunia 2006 di Jerman - meskipun kala itu hanya sebatas memasang bendera di rumah-rumah.

Hak atas foto BBC News Indonesia/Mustofa
Image caption Warga sebuah desa di Pamekasan, Madura, mulai menyemarakkan ajang sepak bola itu sejak Piala Dunia 2006 di Jerman - meskipun kala itu hanya sebatas memasang bendera di rumah-rumah.

"Untuk Piala Dunia 2018 ini ada peningkatan (antusiasme) yang signifikan ketimbang sebelumnya, karena warga termotivasi dengan even perlombaan kampung Piala Dunia," jelas Ketua panitia kampung piala dunia di desa itu, Badrut Tamam.

Foto di depan mural Messi atau Ronaldo

Menurut Tamam, keberadaan kampung Piala Dunia di desanya muncul karena kegilaan masyarakat Tentenan Timur terhadap sepak bola, terutama sepak bola Eropa dan Piala Dunia.

"Sehingga masyarakat tak ragu mengeluarkan biaya untuk menghias kampungnya,"akunya.

Hak atas foto BBC News Indonesia/Mustopa
Image caption Keberadaan kampung piala dunia di Desa Tentenan Timur juga menarik minat masyarakat luar desa untuk mengunjungi desa tersebut, meskipun hanya untuk berswafoto dengan latar mural pemain bintang.

"Kami juga ingin mengenalkan desa kami ke belahan bumi yang lain dan juga menarik minat masyarakat desa sekitar untuk berkunjung ke desa kami," lanjut Tamam.

Keberadaan kampung piala dunia di Desa Tentenan Timur juga menarik minat masyarakat luar desa untuk mengunjungi desa tersebut, meskipun hanya untuk berswafoto dengan latar mural pemain bintang.

Demam piala dunia di Kadipiro, Solo

Demam Piala Dunia tidak hanya dirasakan masyarakat Rusia dan warga di belahan dunia lainnya, tetapi juga menular hingga kampung Dukuhan Nayu, Kadipiro, di Solo, Jawa Tengah.

Bahkan, warga di kampung itu pun menyulap sebagian sudut kampungnya dengan pernik-pernik dan segala ornamen yang terkait kejuaraan sepak bola bergengsi itu.

Atmosfir piala dunia begitu terasa saat akan memasuki kampung tersebut. Gapura pun disulap meriah dengan baliho bertuliskan 'Kampung Piala Dunia'. Bahkan, di kiri dan kanan gapura terpasang bendera negara-negara peserta Piala Dunia.

Hak atas foto BBC News Indonesia/Mustopa
Image caption "Kami juga ingin mengenalkan desa kami ke belahan bumi yang lain dan juga menarik minat masyarakat desa sekitar untuk berkunjung ke desa kami," lanjut Tamam, salah-seorang penyelenggara kampung piala dunia di Pamekasan, Madura.

Suasana bertambah seru ketika memasuki jalan kampung tersebut. Sebuah baliho bertuliskan jadwal laga piala dunia serta pembagian grup negara-negara yang berlaga terpampang di pinggir jalan.

Sedangkan di bagian atas jalan membentang antara lain bendera negara kontestan kejuaraan dunia itu. Lebih dari itu, beberapa baliho besar yang menampilkan foto sejumlah pemain bintang ikut menghiasi di jalan kampung tersebut.

Di salah-satu sudutnya, juga dipasang lukisan maskot piala dunia, serigala dengan nama Zabivaka. Maskot tersebut dilukis di atas papan kayu bekas gulungan kabel yang berbentuk bulat.

Hak atas foto BBC News Indonesia/Fajar Sodiq

Dan seperti dilaporkan wartawan di Solo, Fajar Sodiq, untuk BBC News Indonesia, keberadaan kampung piala dunia itu menarik bagi anak-anak. Mereka bermain bola di jalanan lengkap dengan sebuah gawang berukuran kecil.

Penyelenggara acara ini pun menggelar permainan untuk anak-anak seperti balap karung hingga adu cepat menggelindingkan drum.

Penggagas keramaian piala dunia di kampung Dukuhan Nayu, Mayor Haristanto mengatakan, pihaknya 'membangun' kampung piala dunia untuk memeriahkan pagelaran Piala Dunia 2018.

Hak atas foto BBC News Indonesia/Fajar Sodiq
Image caption Warga sebuah kampung di Solo, Jateng, juga menggelar berbagai acara yang melibatkan anak-anak dan orang tua.

"Masyarakat kota maupun desa punya hak yang sama untuk mendapatkan kebahagiaan dari Piala Dunia," katanya.

Dia berujar, keberadaan kampung piala dunia juga memiliki nilai lebih, yaitu membuat warga kampung untuk tetap bergotong royong, setidaknya saat menyulap kampungnya menjadi lebih semarak.

"Piala dunia menyebabkan masyarakat kian solid untuk membangun kampung ini," ucap Haristanto, bersemangat.

Dia menyebutkan dana untuk menyulap kampungnya didapatkan dari sumbangan warga, kas RT serta donatur.

Hak atas foto BBC News Indonesia/Fajar Sodiq

"Warga di sini urun (patungan) semua. Yang punya uang ikut patungan, sedang yang punya tenaga urun pakai tenaga. Mereka suka cita untuk mengharumkan nama kampung ini," kisahnya.

Warga kampung tersebut juga menggelar berbagai acara yang melibatkan anak-anak dan orang tua.

"Anak-anak pun ikut bersuka cita karena mereka bisa leluasa bermain bola dan aneka permainan lainnya seperti roullete bergambar negara-negar peserta. Ada pula drum untuk ditabuh serta digelindingkan di jalan," paparnya.

"Inilah sepakbola yang memberikan kebahagiaan. Ibu-ibu ikut balapan menggelindingkan drum saat Hari Kartini lalu. Terus anak-anak juga banyak yang bermain di sini dengan balap karung, balapan menggelindikan drum," ungkap Haristanto, tetap bersemangat.

Hak atas foto BBC News Indonesia/Fajar Sodiq

Sementara itu, salah seorang warga, Jamili mengaku senang karena kampungnya kini dikenal sebagai kampung piala dunia. Bahkan, kampungnya kini juga ramai di media sosial karena atribut itu.

"Gara-gara Piala Dunia, kampung kita terekspos dan terkenal sampai luar," katanya dengan wajah berbinar.

Lebih dari itu, sambungnya, gara-gara atribut kampung piala dunia itu, kesadaran masyarakat untuk bersosialisasi dan bergotong royong ada semacam peningkatan.

"Inilah manfaat adanya Kampung Piala Dunia," uja Jamili.

Berita terkait