Piala Dunia 2018: Siapkah Argentina melawan Prancis?

messi Hak atas foto Reuters
Image caption Lionel Messi belum mencetak skor hingga saat ini di Piala Dunia 2018.

Permainan tim Argentina dipertanyakan habis-habisan dalam Piala Dunia kali ini, dan manajernya dikabarkan didikte oleh pemain bintang Lionel Messi.

Lionel Messi tidak mendikte pemilihan dan taktik tim Argentina, kata manajer Jorge Sampaoli sebelum pertandingan Piala Dunia dengan Perancis pada hari Sabtu.

Sampaoli dilaporkan menanyakan Messi apakah dia harus mengikutsertakan Sergio Aguero dalam kemenangan 2-1 mereka atas Nigeria di pertandingan grup yang menentukan.

Rekaman video menunjukkan Sampaoli dan Messi dalam percapakan di sisi lapangan, sebelum pergantian pemain yang memasukkan Aguero.

Namun, Sampaoli mengatakan percakapan itu "tidak bagaimana itu dicirikan".

Berbicara sebelum babak 16 besar di Kazan, ia menambahkan: "Kami melihat opsi yang berbeda dalam pertandingan penting dan harus membuat keputusan."

"Saya hanya mengkomunikasikan ini, mengatakan kami akan menggunakan strategi yang telah kami latih untuk menggunakan lebih banyak pemain penyerang."

"Itu pertukaran sederhana dengan salah satu pemain saya, itu saja."

'Kami akan bermain dengan mental siap'

Setelah mengikuti hasil imbang 1-1 melawan Islandia di pertandingan pembuka mereka dengan kekalahan 3-0 dari Kroasia pada pertandingan kedua, Argentina masuk ke pertandingan grup terakhir mereka melawan Nigeria.

Mereka harus menang dalam pertandingan ini, sementara mengandalkan hasil di tempat lain.

Ketika Islandia kalah 2-1 dari Kroasia, tendangan Marcos Rojo pada menit ke-86 mengirim Argentina sebagai runner-up.

Sampaoli mengatakan timnya akan lebih agresif melawan Prancis, salah satu tim favorit untuk menang di Rusia.

"Kami akan bermain dengan dengan mental siap" katanya.

"Sekelompok pemain ini sangat bangga mewakili negaranya, bermain untuk kaos itu. Itu membuat kami berbahaya bagi lawan mana pun."

"Setelah pertandingan, analisis akan mengikuti hasilnya. Mereka akan mengatakan saya manajer yang luar biasa jika kami menang, jika kami kalah, mereka akan mengatakan saya sangat buruk."


Analisis

Wartawan BBC Sport Patrick Jennings di Kazan

Satu hari sebelum pertandingan yang bisa memutuskan begitu banyak hal - mungkin bahkan masa depan internasional Lionel Messi - manajer Argentina bersikap defensif.

Penampilannya dipertanyakan habis-habisan di Piala Dunia kali ini, terutama setelah kekalahan 3-0 dari Kroasia.

Pada hari Jumat ia menghadapi pertanyaan tentang menghadapi kesulitan, tentang suasana hati Messi, dan kesulitan mengatur tim Argentina sehingga bintang cemerlang mereka bisa bersinar.

Sampaoli juga ditanyakan mengenai masa depannya sebagai manajer, tetapi hanya dalam beberapa menit terakhir dari konferensi pers yang sebagian besar isinya menghindari isu ini.

Di tengah laporan yang menytakan bahwa ia telah kehilangan dukungan dari para pemainnya, jawaban Sampaoli kembali berubah menjadi positif.

Tapi ketika gelandang Ever Banega menyimak dengan sungguh-sungguh pernyataan pria yang duduk di sebelahnya, saya merasa bahwa isu tertentu bisa jadi tidak terpengaruh oleh hasil hari Sabtu.


'Setiap umpan bisa menjadi yang terakhir'

Penjaga gawang Prancis Hugo Lloris mengatakan timnya harus "melampaui batas" untuk mengalahkan Argentina dan maju ke perempat final.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Prancis tembus ke final dalam dua Piala Dunia terakhir yang berlangsung di Eropa, pada 1998 dan 2006.

Sisi Didier Deschamps menikmati perjalanan yang jauh lebih nyaman ke babak sistem gugur dibandingkan dengan saingan mereka, berada di puncak Grup C dengan dua kemenangan: 2-1 atas Australia dan 1-0 melawan Peru.

Namun, penampilan terakhir mereka, hasil imbang 0-0 yang membosankan dengan runner-up grup Denmark, dikritik habis-habis, dengan koran L'Equipe menggambarkannya sebagai "menyedihkan dan tidak sopan".

"Ini akan menjadi pertandingan yang sulit, kami harus meningkatkan level kami," kata Lloris.

"Kami harus penuh energi, bertaruh pada soliditas kolektif kami dan menggunakan semuanya," tambahnya.

"Kami harus berusaha semaksimal mungkin dan meninggalkan lapangan tanpa menyesali apa pun karena setiap umpan, tendangan atau lemparan ke dalam mungkin merupakan yang terakhir dalam kompetisi."

Berita terkait