Piala Dunia 2018: Apakah Eropa akan terus mendominasi?

prancis Hak atas foto EPA
Image caption Para pendukung timnas Prancis bergembira merayakan gelar juara Piala Dunia yang kedua.

Pada Piala Dunia kali ini, satu-satunya pelipur lara bagi para pendukung Argentina setelah timnya dikalahkan 4-3 oleh Prancis adalah Lionel Messi di usianya yang ke-31 tahun masih bisa diandalkan pada Piala Dunia 2022 di Qatar.

Begitu juga dengan para pendukung Brasil. Meski 'Tim Samba' disingkirkan Belgia pada babak perempat final, empat tahun mendatang mereka masih bisa mengandalkan para pemain bintang, seperti Neymar, Coutinho, Roberto Firmino dan Gabriel Jesus.

Hak atas foto Odd Andersen
Image caption Terakhir kalinya tim non-Eropa berhasil menjuarai Piala Dunia terjadi 16 tahun lalu tatkala Brasil menjadi kampiun pada Piala Dunia 2002.

Namun, kenyataannya adalah Piala Dunia FIFA tidak akan menjadi lebih mudah bagi tim-tim Amerika Latin dan negara non-Eropa lainnya.

Kombinasi kekuatan keuangan dan beragam pendekatan membuat Eropa akan terus mendominasi dalam jangka panjang.

Tanda-tandanya dapat dilihat semua orang. Laga final antara Prancis dan Kroasia merupakan kali keempat Piala Dunia dijuarai tim dari Eropa—sesuatu yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah turnamen tersebut.

Hak atas foto Getty
Image caption Germany's 2014 Word Cup win was the third in a row from an European Nation

Dengan pengecualian Argentina yang tampil di final empat tahun lalu, semi final Piala Dunia selalu diisi tim-tim asal Eropa sejak 2006 lalu.

Terakhir kali Brasil tampil sebagai juara pada 2002, sedangkan Argentina pada 1986.

"Turnamen ini menjadi mainan Eropa dan semakin lama semakin jelas. Amerika Selatan kian tertinggal," kata Martin Fernandez, dari Globo Esporte, salah satu laman berita olahraga terbesar di Brasil.

Ucapan itu bukan omong kosong. Faktanya tim-tim Amerika Selatan mengantongi sembilan gelar juara, sedangkan Eropa sudah 12 kali kampiun.

Dan jurang pemisah itu kian lebar.

Kesepakatan sponsor menggiurkan

Ada sejumlah alasan mengapa itu terjadi. Yang utama adalah negara-negara top Eropa punya sumber daya untuk menggelontorkan dana demi perekrutan, pengembangan, dan pelatihan pemain.

Di sisi lain, tim-tim Amerika Selatan megap-megap—kecuali Argentina dan Brasil yang sponsornya banyak karena reputasi masa lalu.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Jerman disebut meraup US$58 juta setahun dari Adidas sebagai sponsor kaus.

Dalam kasus Argentina, juara dunia dua kali ini punya kesepakatan sponsor dengan Adidas yang nilainya dilaporkan mencapai US$11 juta (Rp158 miliar) per tahun. Jumlah ini lebih kecil dari yang didapatkan Rusia dari perusahaan yang sama, padahal Rusia belum pernah sekalipun menjadi juara Piala Dunia.

Di sisi lain, Jerman dan Spanyol disponsori perusahaan tersebut masing-masing senilai US$58 juta (Rp834 miliar) dan US$47 juta (Rp675,8 miliar).

Apakah Brasil yang mengoleksi Piala Dunia lima kali lebih baik nasibnya? Tidak juga.

Negara itu 'hanya' mendapat US$36 juta (Rp517,6 juta) dari Nike. Adapun Prancis dan Inggris disokong Nike dengan nilai masing-masing US$50 juta (Rp719 miliar) dan US$40 juta (Rp575,2 miliar).

Bagaimanapun, tidak adil menyebut bahwa Eropa mendominasi hanya dengan merujuk pada besaran uang atau fakta bahwa benua tersebut mendapat jatah tempat terbanyak di Piala Dunia.

Jaminan tempat

Dalam format saat ini, Eropa mendapat alokasi sebanyak 13 tim dari 32 tempat yang tersedia. Sisanya, lima untuk Afrika, empat untuk Amerika Selatan, empat untuk Asia, tiga untuk Amerika Utara dan Amerika Tengah, tiga untuk jatah laga playoff antar benua termasuk Oseania.

Mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter, mengusung penambahan tim dari 24 menjadi 32 pada 1998 sehingga negara dari Afrika dan Asia bisa lebih terakomodasi.

"Jangan lupa Eropa punya 14 tim di Piala Dunia dan Amerika Selatan 5," cuitnya di media sosial, pada Sabtu (14/7).

Eropa tentu saja diuntungkan dengan sistem demikian, khususnya Eropa Barat mengingat tidak ada tim dari Eropa Timur yang menjuarai Piala Dunia.

Kendati begitu, dominasi Eropa juga berakar pada pengembangan pemain muda. Tiga tim semifinalis di Piala Dunia 2018—Belgia, Inggris, dan Prancis—punya program pengembangan pemain yang kurang dimiliki negara lain.

Hak atas foto Getty
Image caption Spanyol belajar dari sosok Johan Cruyff dalam mengembangkan permainan operan.

Ambil contoh Belgia yang mengharuskan semua klub menerapkan skema taktik serupa di akademi-akademi pemain muda masing-masing guna mengembangkan kesiapan taktik pada setiap pemain.

Brasil, di sisi lain, punya sistem kacau yang mengandalkan kehebatan sejumlah klub dan stok pemain bertalenta.

"Enam negara Eropa Barat masuk empat besar dalam tiga gelaran terakhir Piala Dunia," ujar Stefan Szymanski, penulis Soccernomics, semacam buku pegangan untuk penggila statistik sepak bola.

"Ketika beberapa negara gagal, selalu ada negara tetangga yang muncul. Ini terjadi padahal hanya 5% populasi dunia bermukim di Eropa Barat," lanjutnya.

Szymanki dan rekannya, Simon Kuper dari Financial Times, punya keyakinan kuat bahwa dominasi Eropa tidak bisa dijelaskan hanya melalui pendapatan per kapita.

Belajar dari tetangga

Teori mereka adalah 'posisi menentukan prestasi'. Menurut mereka, tim-tim dari Eropa Barat diuntungkan dari jejaring pengetahuan yang tidak dimiliki tim-tim lainnya.

Mereka merujuk Spanyol yang mengimpor permainan operan dari Belanda. Hasilnya, dua gelar juara Piala Eropa dan gelar perdana Piala Dunia pada 2010.

"Walau menang Piala Eropa 1964, Spanyol hampir tidak mencapai apa-apa pada turnamen internasional selama berpuluh tahun sampai akhirnya mereka terbuka pada Eropa dan dunia," tulis kedua pria itu.

Hal sama juga bisa diterapkan pada Brasil dan Belgia. Walaupun kedua tim punya sejumlah pemain yang merumput di klub-klub besar Eropa, Belgia lebih dekat pada pertukaran ide dan solusi di Eropa.

Hanya sedikit pelatih asal Amerika Selatan yang bekerja di luar negeri, kecuali Mauricio Pochettino di Tottenham Hotspur yang mewakili segelintir nama pelatih Amerika Selatan di luar negeri. Jurang pengetahuan itu tidak akan bisa dijembatani dengan kunjungan semata.

Karena itu, jika Anda adalah pendukung tim non-Eropa, bersiaplah kecewa.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Nations League akan mengurangi peluang pertandingan persahabatan dengan tim-tim Eropa.

Mulai 2018, tim-tim nasional dari Eropa tidak hanya punya Piala Eropa sebagai ukuran kekuatan satu sama lain.

Pada 6 September, Jerman dan Prancis akan memulai UEFA League of Nations—sebuah turnamen yang terafiliasi dengan 55 negara Eropa.

Turnamen ini jelas akan mengubah jeda internasional, yang biasanya dipakai berbagai negara untuk melakoni pertandingan persahabatan.

Sebab, melalui UEFA League of Nations, peluang bagi tim-tim non-Eropa untuk menjajal kekuatan tim besar Eropa sebagai persiapan Piala Dunia akan semakin minim.

Hak atas foto Getty
Image caption Inggris adalah juara bertahan Piala Dunia U20 dan U17.

Jangan sedih pula jika Anda mengetahui bahwa dominasi Eropa sudah dimulai sejak dini.

Prancis, Serbia, dan Inggris memenangi tiga gelaran terakhir Piala Dunia U-20. Adapun Inggris merupakan juara bertahan Piala Dunia U-17.

Bagi Amerika Selatan, ini berarti hanya ada satu hal, kata Martin Fernandez.

"Pada November 2022, ketika Brasil dan Argentina kembali ke Piala Dunia, jurang pemisah akan bertambah lebar untuk mereka."

Berita terkait