Apakah jabatan manajer di Liga Primer Inggris akan punah?

Unai Emery Hak atas foto Reuters
Image caption Unai Emery menjadi pelatih kepala Arsenal pada Mei lalu.

Apakah jabatan manajer di Liga Primer Inggris akan punah?

Tanda-tandanya terlihat ketika Unai Emery ditunjuk menjadi bos Arsenal pada Mei lalu. Alih-alih menjabat sebagai manajer, pria asal Spanyol itu berpredikat pelatih kepala.

Hal ini merupakan sesuatu yang baru mengingat selama 22 tahun terakhir, skuat London utara itu dibesut seorang manajer bernama Arsene Wenger.

Jabatan serupa terdapat di Chelsea. Tatkala Maurizio Sarri menggantikan Antonio Conte awal bulan ini, mantan juru taktik Napoli itu juga mengemban tugas sebagai pelatih kepala.

Sarri dan Emery merupakan dua dari enam pelatih kepala yang menangani klub Liga Primer musim ini, 14 sisanya dipimpin manajer.

Walau namanya berbeda, ada persepsi bahwa semua bos—terlepas dari manajer atau pelatih kepala—tak lagi mengurus semua aspek sebuah klub.

Arsenal - Unai Emery (head coach) Bournemouth - Eddie Howe (manager) Brighton - Chris Hughton (manager) Burnley - Sean Dyche (manager)
Cardiff - Neil Warnock (manager) Chelsea - Maurizio Sarri (head coach) Crystal Palace - Roy Hodgson (manager) Everton - Marco Silva (manager)
Fulham - Slavisa Jokanovic (head coach) Huddersfield - David Wagner (head coach) Leicester - Claude Puel (manager) Liverpool - Jurgen Klopp (manager)
Man City - Pep Guardiola (manager) Man Utd - Jose Mourinho (manager) Newcastle - Rafael Benitez (manager) Southampton - Mark Hughes (manager)
Spurs - Mauricio Pochettino (manager) Watford - Javi Gracia (head coach) West Ham - Manuel Pellegrini (manager) Wolves - Nuno Espirito Santo (head coach)

Mantan pemain bertahan Manchester United dan timnas Inggris, Gary Neville, menghabiskan seluruh kariernya di masa kepemimpinan Sir Alex Ferguson.

Pria asal Skotlandia itu memenangi 38 piala selama 26 tahun sebagai manajer untuk Manchester United.

Namun, saat Neville menempatkan Graham Alexander di klub Salford City yang berlaga di Liga Nasional, dia tak ingin mencontoh Ferguson.

"Durasi rata-rata seorang pelatih di sebuah klub pada level tertinggi kini mencapai 13 bulan," ujar Neville, yang pernah mengecap pengalaman menjabat pelatih kepala di klub Valencia selama Desember 2015 dan Maret 2016.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Maurizio Sarri juga mengemban tugas sebagai pelatih kepala Chelsea.

"Namun, klub-klub perlu memikirkan tiga atau empat tahun mendatang, bukan 13 bulan. Jika klub mengubah manajer setiap 13 bulan, harus dipastikan stabilitasnya," imbuhnya.

Apa bedanya?

Ketika Mauricio Pochettino memperpanjang kontraknya bersama pada 2016, jabatannya berubah dari pelatih kepala menjadi manajer.

"Kami sepakat ini akan lebih baik untuk saya, untuk klub, untuk semua," jelas pria asal Argentina itu.

"Memang benar 'manajer' adalah kata yang maknanya berbeda dari pelatih kepala. Mungkin saya selalu menjadi manajer sejak pertama saya tiba di sini—dan mungkin itu menjelaskan pekerjaan saya lebih baik."

Jabatan pelatih kepala mengisyaratkan bahwa ada orang lain di dalam klub yang mengurus perekrutan dan transfer pemain.

Salah satu ketidakpuasan Antonio Conte selama menangani Chelsea adalah dia memandang perannya dibatasi dalam urusan transfer pemain.

Wenger menolak orang lain campur tangan soal pemain Arsenal, namun Emery tak lagi bisa memiliki otonomi seperti itu.

Urusan transfer dan perekrutan pemain Arsenal kini akan menjadi urusan mantan direktur sepak bola Barcelona, Raul Sanllehi, yang diberi jabatan kepala hubungan sepak bola di Stadion Emirates.

Bahkan di beberapa klub yang skuatnya masih ditangani seorang 'manajer', seperti Manuel Pellegrini di West Ham dan Marco Silva di Everton, masih ada rantai komando dalam urusan transfer pemain.

Di West Ham, David Sullivan sebagai pemilik sangat terlibat dalam negosiasi. Kemudian di Everton, direktur sepak bola Marcel Brands adalah sosok andalan pada urusan transfer pemain.

Perubahan dalam sepak bola

Sebagai mantan pemain, manajer, pemilik klub, dan pengamat sepak bola, Neville selalu ingin mendapat informasi sebanyak apa pun mengenai pengelolaan bisnis sepak bola secara modern.

Eks bek kiri berusia 43 tahun itu menghabiskan enam tahun mencermati model bisnis setiap klub.

Dalam beberapa kesempatan dia turun langsung ke pinggir lapangan mendampingi pelatih saat tim sedang berlaga.

Itulah mengapa dia memberi jabatan manajer kepada Graham Alexander, namun dengan porsi pekerjaan yang tidak biasanya diterapkan di klub Inggris.

"Jika seseorang terlibat dalam sesi latihan setiap menit setiap hari, memikirkan pemain mana yang dipilih, sesi latihan berikutnya, dan juga menghadapi situasi pemain pada pekan biasa, bagaimana mereka bisa memikirkan siapa pemain baru yang harus direkrut selanjutnya untuk musim depan? Mereka tidak bisa," kata Neville.

"Pada model di mana pelatih yang memimpin, mereka jelas punya tempat dalam konteks perekrutan. Mereka harus memastikan bahwa pemain baru cocok dengan kriteria, nilai-nilai, dan berbagai prinsip yang mereka ingin terapkan," tandas Neville.

Berita terkait