Naomi Osaka, petenis pertama juara Grand Slam, hebohkan Jepang

osaka, jepang Hak atas foto ALLSPORT/GETTY
Image caption Naomi Osaka mengalahkan Serena Williams 6-2 6-4

Khalayak Jepang dihebohkan oleh Naomi Osaka, petenis pertama negara tersebut yang mampu meraih gelar juara Grand Slam seusai menaklukkan Serena Williams pada partai final Amerika Serikat Terbuka.

Osaka menyudahi perlawanan Williams dengan skor 6-2 6-4 dalam pertandingan yang diwarnai keberangan Williams terhadap wasit yang dia nilai bersikap seperti "pencuri".

Perdana Menteri Shinzo Abe memberi ucapan selamat kepada Osaka melalui Twitter seraya berterima kasih "karena memberi Jepang dorongan inspirasi di tengah kesusahan". Ucapan Abe tampak merujuk pada gempa bumi di Hokkaido yang telah menewaskan lebih dari 20 orang.

Ucapan selamat kepada petenis berusia 20 tahun itu juga dinyatakan oleh surat kabar Yomiuri Shimbun. Perempuan yang beribu Jepang dan berayah Haiti itu disebut sebagai "perempuan pahlawan baru yang bisa dibanggakan Jepang".

"Kombinasi kekuatannya dan sikapnya yang seperti anak tidak berdosa adalah kharismanya," sebut harian itu.

Seusai mengalahkan Serena Williams, Osaka menurunkan topinya untuk menutupi tangis. Teriakan bernada kecewa dan siulan penonton nyaring terdengar saat itu.

Williams kemudian merangkulnya dan berkata, "Mari membuat momen ini menjadi yang terbaik sebisa mungkin. Mari berikan semua pihak apresiasi selayaknya dan jangan bersorak lagi."

Beberapa saat kemudian, Osaka mengatakan, "Saya tahu semua orang mendukungnya (Williams) dan saya menyesal harus berakhir seperti ini. Saya ingin berucap terima kasih karena menyaksikan pertandingan."

Menurut Osaka, "selalu menjadi impiannya untuk bertanding melawan Serena di final AS Terbuka.

Dia kemudian berkata ke Williams, "Saya sangat bersyukur bisa bermain denganmu".

Osaka lalu membungkuk, yang disambut dengan tepuk tangan penonton.

Osaka, yang juga memegang paspor AS, adalah atlet blasteran kesekian di Jepang yang namanya kondang. Sebelum dia, ada pelari Asuka Cambridge, pemain bisbol Yu Darvish, serta atlet judo Mashu Baker.

"Jepang main terbiasa dengan orang dari kebudayaan lain. Jika seorang atlet tidak setengah-setengah dan jelas mewakili Jepang, maka publik akan menyokongnya," kata Hirotaka Matsuoka, profesor pemasaran olahraga di Universitas Waseda, Tokyo, kepada kantor berita Reuters.

Hak atas foto EPA
Image caption Serena Williams berdebat dengan wasit Carlos Ramos sepanjang set kedua.

'Pencuri'

Rangkaian insiden mewarnai pertandingan final antara Osaka dan Williams.

Oleh wasit Carlos Ramos, Williams dinyatakan melanggar kode etik karena mendapat petunjuk dari pelatih, dikurangi angkanya karena membanting raket, serta dinyatakan kalah satu set karena menyebut wasit "pembohong" dan "pencuri".

Seusai pertandingan, Williams menyebut sang wasit bersikap "seksis" karena memberikannya rangkaian sanksi.

"Dia tidak pernah mengurangi satu set dari seorang pria karena memanggilnya 'pencuri'. Padahal saya pernah melihat pria lain menyebut wasit beberapa hal. Saya di sini memperjuangkan hak perempuan dan kesetaraan perempuan dan banyak lainnya."

Ketika pertandingan berakhir, wasit Carlos Ramos langsung meninggalkan lapangan dan tidak terlihat lagi.

Topik terkait

Berita terkait