Timnas U-19 versus Jepang: Mampukah Indonesia jungkir-balikkan hitungan atas kertas?

Sepakbola Hak atas foto ANTARA/SIGID KURNIAWAN
Image caption Timnas U-19 lolos dari fase grup Piala Asia dengan catatan dua kemenangan dan satu kekalahan.

Tim nasional sepakbola Indonesia kembali memiliki peluang untuk melenggang ke Piala Dunia. Jika timnas mampu mengalahkan Jepang di Piala Asia U-19, Minggu (28/10), mereka akan berlaga di Piala Dunia U-20 tahun 2019.

Peluang berlaga di Piala Dunia sebelumnya muncul awal Oktober lalu. Namun kekalahan timnas dengan skor 2-3 dari Australia di perempat final Piala Asia U-16 mengubur impian berkompetisi di ajang sejagat untuk jenjang usia di bawah 17 tahun.

Dan lawan kali ini, Jepang, adalah tim unggulan. Mampukah tim merah putih menciptakan kejutan, menjungkir-balikkan semua perhitungan atas kertas?

"Kalaupun kalah, saya rasa publik tidak akan kecewa karena timnas sudah bermain bagus. Beda dengan sebelumnya, timnas selalu bermain buruk," kata pengamat olahraga, Budiarto Shambazy.

Budiarto menyebut kekecewaan masyarakat terhadap kekalahan timnas berangsur surut. Menurutnya, itu menunjukkan progres positif dari tim sepakbola Indonesia.

Agustus lalu di Asian Games 2018, timnas gagal memenuhi target medali yang ditetapkan pemerintah dan PSSI. Namun, kata Budiarto, timnas kalah dengan kepala tegak.

Di perempat final, timnas U-23 kalah adu penalti dengan skor 3-4 dari Uni Emirat Arab (UEA). Pada babak normal, skor imbang 2-2.

Beberapa pekan sebelumnya, timnas berhasil menjuarai Piala AFF U-16. Namun kegemilangan mereka berhenti di perempat final Piala Asia U-16, meski berstatus juara grup di babak grup.

"Di hampir semua jenjang usia, timnas menunjukkan kemajuan luar biasa. Jadi masyarakat sekarang tidak kesal kalau timnas kalah, dulu kan sering marah-marah," kata Budiarto.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Permainan timnas Indonesia dalam Asian Games 2018 dipuji meski gugur di babak perempat final.

Bagaimanapun, Jepang U-19 bukanlah lawan enteng. Budiarto menyebut masyarakat perlu berpikir secara rasional. Pada Piala Asia U-19 tahun 2016, Jepang keluar sebagai juara.

"Harus diakui, Jepang adalah tim unggulan, mereka lebih baik dibandingkan kita. Tim U-16 mereka juara Asia, di Asian Games mereka masuk final," ujar Budiarto.

Maret lalu, dengan susunan skuad yang nyaris sama, timnas U-19 dikalahkan Jepang dengan skor 1-4 dalam laga uji coba di Stadion Geleora Bung Karno, Jakarta.

Saat itu timnas U-19 ditukangi Bima Sakti, legenda sepakbola Indonesia yang kini melanjutkan tongkat kepelatihan timnas senior seiring hengkangnya Luis Milla.

Kini timnas U-19 dinahkodai Indra Sjafri, pelatih yang tahun 2014 membawa timnas lolos ke Piala Asia U-19 tapi di putaran final menjadi juru kunci grup.

Budiarto mengatakan, andai timnas tak mampu menaklukkan Jepang dalam pertandingan Minggu (28/10), publik sepantasnya tetap mengapresiasi kemajuan pasukan muda Indonesia.

"Semoga para penonton standing ovation sambil bernyanyi Garuda di Dadaku ketika pertandingan usai," ucapnya.

Apa kunci permainan timnas?

Budiarto menyebut tiga pemain yang dianggapnya mampu berbuat banyak dalam laga melawan Jepang: Egy Maulana Fikri, Saddhil Ramdani, dan Witan Sulaiman.

Setelah menyelesaikan tiga laga fase grup, Witan telah mengoleksi tiga gol. Egy dan Saddil masing-masing sudah menciptakan satu gol.

Satu nama lain yang menjadi penyumbang gol terbanyak bagi Indonesia adalah Todd Rivaldo Ferre. Kerap menjadi pemain pengganti, pemain Persipura Jayapura itu telah membuat tiga gol.

"Egy cedera paha kanan, tapi dia adalah pemain yang bisa memberikan perubahan. Dia bisa melewati dua-tiga lawan dengan mudah," kata Budiarto.

Hak atas foto ANTARA/SIGID KURNIAWAN
Image caption Meski status pemain bintang kerap diberikan pada Egy Maulana, peran para pemain dalam timnas U-19 dianggap merata.

Dalam tiga pertandingan di fase grup, Indra Sjafri selalu menurunkan tim inti yang sama, kecuali saat kontra UEA, ia mengganti penyerang Rafli Mursalim dengan Hanis Saghara.

Pada laga lawan Jepang, satu-satunya pemain yang tak dapat bermain adalah Nurhidayat. Kapten timnas U-19 itu dihukum kartu merah pada pertandingan kontra UEA.

Apa yang bisa dipetik dari penampilan timnas U-19?

Menurut Budiarto, apapun hasil laga kontra Jepang, PSSI dan pemerintah harus memahami prinsip berkelanjutan dalam olahraga. Ia berkata, tak ada prestasi yang didapat secara instan.

Budiarto berharap para pemain timnas U-19 terus diproyeksikan mengisi skuad jenjang usia berikutnya. Di sisi lain, ia menyebut pola regenerasi dan strategi tim sepatutnya tak dirombak ulang.

Hak atas foto Allsport Co/Getty Images
Image caption Berakhirnya hubungan kontrak Luis Milla dan PSSI dianggap tak ideal. Salah satu alasannya, timnas senior akan segera menghadapi Piala AFF.

Budiarto mengacu pada putusnya hubungan antara PSSI dengan Luis Milla, pelatih asal Spanyol yang disebutnya telah mengubah cara bermain timnas U-23 dan tim senior.

"Yang harus instropeksi sekarang bukan pemain, pelatih atau penggemar, tapi PSSI," tuturnya.

Pencapaian tertinggi timnas di Piala Asia U-19 adalah lolos ke semifinal pada tahun 1978. Meski gagal ke babak empat besar, ketika itu Indonesia berhak tampil di Piala Dunia U-20 tahun 1979, menggantikan Irak yang didiskualifikasi.

Topik terkait

Berita terkait