Bonus yang tak sepadan di ajang Paralympic Asian Games

para games Hak atas foto Getty Images
Image caption Atlet balap sepeda, Muhammad Fadli sedang berlatih di Veldrome, Jakarta.

Gelaran Paralympic Asian Games 2018 menyisakan persoalan terkait perolehan bonus.

Pelatih cabang olahraga Para Cycling atau balap sepeda, Puspita Mustika Adya, geram karena bonus yang ia terima pada 20 Desember lalu, sebesar Rp137.5 juta, tak sepadan dengan raihan medali yang didapat yakni 1 emas, 8 perak, dan 8 perunggu.

Saat menerima langsung oleh Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, Puspita, sudah menaruh curiga karena ia disebutkan hanya berkontribusi pada perolehan dua medali perunggu dari nomor men's team sprint dan men's road race.

"Makanya, kalau saya dibilang hanya perunggu, pasti marah. Kan saya kepala pelatih dan saya yang bikin program untuk semua atlet yang cabangnya berbeda-beda itu," ujar Puspita kepada BBC News Indonesia, Jumat (28/12).

"Saya nggak milih-milih atlet dalam melatih, sebab pelatihnya terbatas. Jadi mau nggak mau saya terjun langsung. Ada 14 anak, ya saya bikin 14 program," sambungnya.

Beberapa program yang ia rancang untuk tiga kategori yakni Handbike, Cycling, dan Blind Tandem.

Salah satu keberhasilan termasuk Muhammad Fadli Immamudin yang meraih emas untuk cabang olahraga balap sepeda, kata dia, berkat didikannya.

"Memangnya Fadli yang dapat emas itu siapa yang pegang? Dia saya yang temukan," pungkasnya.

Dengan landasan itu, ia mempertanyakan skema pembagian bonus oleh National Paralympic Committee (NPC) namun tak kunjung menerima penjelasan.

Sementara di situs kemenpora.go.id sebelumnya tercantum Puspita memperoleh bonus Rp675 juta.

"Tapi sudah seminggu saya tanyakan lagi, belum ada penjelasan. Padahal saya cuma mau tahu, mestinya saya dapat berapa? Hitungannya bagaimana? Kalau di website Rp675 juta, lalu setelah ada kasus ini, diubah jadi Rp137.5 juta," imbuhnya.

Selama sepuluh bulan melatih atletnya untuk berlaga di kejuaraan Para Games 2018, Puspita hanya dibantu dua asisten pelatih yakni Erik Suprianto dan Rizan Setyo Nugroho.

Namun dalam SK Asian Games, ada satu nama yaitu Agus Sundardi yang tidak ia kenal sama sekali, turut masuk dalam tim. Nama itu diduga fiktif dan ditengarai menerima bonus.

"Yang masuk dalam SK jelas ada dua asisten pelatih saya. Nah yang nggak masuk dalam SK itu siapa? Nama Agus itu saya nggak pernah berlatih bersama, datang juga tidak."

Hak atas foto Situs kemenpora.go.id
Image caption Daftar terbaru 12 pelatih dan asisten pelatih yang menerima penghargaan dan bonus.

Kalau merujuk pada besaran bonus untuk pelatih Para Games 2018, pelatih yang bisa menyumbangkan emas mendapat Rp450 juta, perak Rp150 juta dan perunggu Rp75 juta.

Jika memakai hitungan pengkalian angka itu dengan perolehan medali, maka Puspita semestinya menerima Rp2,2 Miliar.

Akan tetapi besaran yang diterima Puspita jauh dari angka itu dan belakangan terlambat dibayarkan sampai tiga bulan.

Persoalan serupa juga pernah dialami pasangan ganda putra bulu tangkis Indonesia, Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Marcus Fernaldi Gideon, karena bonus yang dijanjikan kepada mereka sebagai juara All-England terlambat dibayarkan sampai lima bulan.

"Dari angka itu aja perbandingannya jauh dengan yang saya terima. Ini kan jadi pertanyaan yang harus saya tahu. Saya pun kepada atlet tidak pernah minta (jatah) sepeser pun. Karena kemenangan mereka adalah suatu kebangaan bagi saya yang nilainya lebih dari itu," ungkapnya.

Menanggapi persoalan ini, Deputi III Bidang Pembudayaan Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga, Raden Isnanta, melemparnya kepada National Paralympic Committee (NPC).

Ia mengatakan rekomendasi seorang pelatih berkontribusi pada perolehan medali dan merupakan usulan NPC. Kemenpora, kata dia, hanya bertugas menghitung besaran bonus sesuai aturan yang ada.

"Saya mengacu dari NPC yang menuliskan bahwa pelatih A mendapat medali A. Kami lalu buat perhitungan atas nilai bonus," ujar Raden Isnanta kepada BBC News Indonesia, Jumat (28/12).

"Jadi kalau mau protes ke NPC dulu. Karena data saya dari sana yang memberikan usulan," sambungnya.

Terkait dengan situs kemenpora.go.id yang mengoreksi angka bonus Puspita, klaimnya, merupakan kekeliruan pihak media Kemenpora dan tidak ada kaitan dengan dirinya. Baginya, kesalahan seperti itu bisa saja terjadi. Ia juga mengklaim tak ada perubahan nominal sejak penghitungan awal.

"Jadi nggak pernah ada angka lain. Kalau media salah, biasa. (Anda) sebagai media juga pernah salah kan? Jadi media Kemenpora bisa juga salah," imbuhnya.

Kalaupun kasus ini berkepanjangan Kemenpora, kata dia, bakal bertindak.

"Kecuali nanti terjadi perdebatan dan ada salah persepsi, baru (kemenpora) bersikap. Tapi protes tidak selalu benar. Begitupun sebaliknya."

'Bagi-bagi' bonus Para Games

Perwakilan bidang Pembinaan dan Prestasi NPC, Rima Ferdiyanto, membantah adanya nama fiktif Agus Sundardi yang masuk dalam tim cabang olahraga balap sepeda.

"Baik dari NPC maupun Kemenpora tidak ada nama Agus sebagai penerima bonus fiktif tersebut," ujar Rima kepada wartawan di Solo, Jumat (28/12) dengan dikuatkan oleh Koordinator Cabang Olahraga Para Cycling, Fadillah Umar, yang membawa satu bundel kertas yang merupakan SK kontingen dan menjadi dasar pengajuan bonus.

"Bahwa SK yang diupload di media sosial itu konsep. SK yang benar yang saya bawa ini. Ini adalah SK kotingen untuk dasar pengajuan bonus itu. Tidak ada nama Agus Sundardi," imbuhnya.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Atlet dari cabang olahraga balap sepeda menerima bonus dari Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi pada Kamis, 20 Desember 2018 di Solo.

Dalam SK kontingen yang dipegang Fadillah Umar, ada versi berbeda, ada tiga pelatih dan empat asisten.

Tujuh orang yang menerima bonus dari Kemenpora itu, klaimnya, telah dititipi pesan khusus bahwa uang yang diterima dalam bentuk buku tabungan itu akan dikumpulkan lantas dibagi-bagi sesuai kontribusinya.

"Pelatih dan asisten pelatih yang berjumlah tujuh itu berkumpul. Saya bilang, 'Pak Pus mohon maaf di rekening bapak dan teman-teman semua tidak usah dipermasalahkan, karena ini hanya titipan dari NPC. Nanti kita akan bagi sesuai dengan jobnya'," kata dia kepada Puspita setelah menerima bonus.

Hanya saja, kata Umar, tak lama muncul unggahan di media sosial Facebook dari istri Puspita yang mempermasalahkan bonus suaminya.

"Saya terus kontak Pak Pus, 'Pak Pus kok budhe sudah buat berita seperti ini? tolong Pak Pur klarifikasi. Saya yang ngomong ke budhe atau Pak Pus yang ngomong ke istri?' Pak Pus terus jawab, 'saya saja yang ngomong ke istri'," kata dia menirukan ucapan Puspita.

Ia menduga mantan atlet sepeda balap itu tidak terima dengan jumlah bonus yang diterima di buku tabungan.

Berita terkait