'Memprotes' perlakuan terhadap Muslim Uighur, klub Jerman hentikan akademi sepak bola di China

Mesut Ozil Hak atas foto Reuters
Image caption Mesut Ozil yang beragama Islam berdoa sebelum pertandingan melawan Manchester City hari Minggu (15/12).

Setelah pertandingan Arsenal akhir pekan lalu dibatalkan penayangannya di China, kini gelandang Arsenal Mesut Ozil dihilangkan dari gim Pro Evolution Soccer 2020 yang beredar di China.

Tindakan itu terjadi lantaran kritik Ozil terkait perlakukan terhadap minoritas Muslim Uighur di China.

Reaksi dunia sepak bola terkait pesoalan minoritas Uighur juga memasuki babak baru.

Klub sepak bola Jerman, FC Koln, menghentikan pembangunan akademi mereka di China.

Pejabat senior di klub itu menyatakan bahwa "hak asasi manusia sangat tidak dihargai" di negeri itu.

Namun klub tersebut menyatakan alasan penghentian adalah evaluasi ulang terhadap alokasi sumber daya.

Mereka juga mengatakan bentuk kerja sama lain, semisal sponsor dari perusahaan China, akan tetap diterima.

'Menyakiti penggemar'

Menurut perusahaan yang mengeluarkan gim Pro Evolution Soccer (PES) 2020, NetEase, Mesut Ozil dikeluarkan dari permainan yang populer di Asia itu karena komentarnya terkait Muslim Uighur.

""Pesepak bola Jerman Ozil mengunggah pernyataan ekstrem mengenai China di media sosial," kata mereka dalam sebuah pernyataan.

"Unggahan itu menyakiti perasaan penggemar di China dan mencederai semangat olah raga dan perdamaian. Kami tidak paham, tidak terima dan tidak memaafkaan hal ini."

Ozil yang beragama Islam sempat menyebut Muslim Uighur di China sebagai ""pejuang yang menolak persekusi".

Ia juga mengecam China maupun diamnya kaum Muslimin terhadap persoalan ini.

Pada hari Sabtu (14/12), Arsenal mengambil jarak dari pandangan Ozil, dengan mengatakan "sebagai organisasi mereka tidak pernah melibatkan diri dengan masalah politik".

Sementara itu Juru bicara kementerian luar negeri China, Beng Shuang mengatakan, pemain Arsenal, Mesut Ozil, telah "dibohongi berita palsu" terkait perlakuan Beijing terhadap Muslim Uighur.

Geng mengatakan gelandang Jerman itu telah "dipengaruhi pernyataan tidak benar" dan mengundangnya untuk mengunjungi daerah otonomi Xinjiang dan "melihat dengan mata kepala" sendiri.

Hak atas foto FRIEDEMANN VOGEL/EPA
Image caption Klub Jerman FC Koln menghentikan kerja sama dengan China karena persoalan hak asasi manusia yang dianggap tidak diperhatikan di sana.

FC Koln

Sementara itu klub Jerman FC Koln yang dijadwalkan membuka akademi sepak bola di Shenyang, China timur laut, membatalkan rencana bernilai 1,8 juta euro (sekitar Rp28 miliar) itu.

Presiden klub Werner Wolf dalam pernyataan hari Rabu (18/12), "kami memutuskan tak melanjutkan proyek ini karena situasi terakhir ini," katanya seraya menyebut perlunya evaluasi ulang terhadap alokasi sumber daya mereka.

"Bentuk lain kerja sama, misalnya sponsor dari perusahaan China, tidak ditolak," tambahnya.

Akademi ini merupakan bagian dari kesepakatan tahun 2016 antara pemerintah Jerman dan China, yang rencananya dilanjutkan hingga tahun 2021.

Sementara itu bekas presiden klub Stefan Mueller-Roemer menyatakan kepada koran lokal Koelner Stadt-Anzeiger bahwa "kita tak butuh China dalam olah raga," katanya sambil mengatakan hak asasi manusia sangat tak dihargai di China.

"China ingin menyedot ilmu kita tentang sepakbola, sama halnya seperti yang mereka lakukan di dunia bisnis. Ini terjadi karena pemimpin bisnis kita naif," kata Mueller-Roemer.

Hari Kamis (19/12), pemerintah China membantah pernyataan Mueller-Roemer.

Juru bicara Kementrian Luar Negeri China Geng Shuang menyatakan "Komentar orang Jerman itu sepenuhnya omong kosong".

Presiden klub Wolf juga menyatakan komentar Mueller-Roemer itu juga merupakan "pendapat pribadi" yang tidak mencerminkan klub.

Persoalan Uighur

Pegiat hak asasi manusia mengatakan sekitar satu juta orang - sebagian besar dari masyarakat Uighur Muslim - diduga ditahan tanpa diproses hukum di sejumlah kamp penjara dengan pengamanan ketat.

China selalu menyangkal telah memperlakukan Muslim Uighur dengan tidak patut, dengan mengatakan mereka sedang mengikuti pendidikan di "pusat pelatihan kejuruan" untuk mengatasi ekstremisme keagamaan dengan kekerasan.

Harun Khan, Skeretaris Jendral Dewan Muslim Inggris Raya, mengatakan tindakan Ozil "sangat patut dipuji" dan menyatakan keputusan Arsenal untuk menarik jarak dari Ozil "sangat disesalkan".

Berita terkait