Pelaporan rasisme dalam sepak bola 'tidak berfungsi': 'Mereka sebut keluargaku dengan kata 'N' dan anjing'

A young upset footballer Hak atas foto Getty Images
Image caption Jumlah pertandingan di Inggris dan Wales di mana tindak kejahatan kebencian kerap terjadi dilaporkan meningkat hingga 47% pada musim lalu.

Mekanisme pelaporan perilaku rasis di akar rumput dianggap tidak berfungsi dengan baik dan membutuhkan perombakan, kata seorang pelatih.

Protes mengenai tindakan rasis kerap berubah menjadi perang kata-kata semata, menurut pelatih Delwyn Derrick.

Kelompok pemain berdarah campuran dari Cardiff mengaku kerap mengalami kekerasan verbal yang dilakukan penonton. Mereka juga seringkali dibuat kecewa karena protes yang mereka ajukan kerap diacuhkan.

Otoritas sepak bola di Wales mengatakan bahwa mereka bertujuan untuk menciptakan "lingkungan yang inklusif, hangat dan aman" bagi semua pemain.

Pada musim 2018 - 2019, jumlah pertandingan di Inggris dan Wales yang diwarnai tindak kebencian dilaporkan meningkat hingga 47% dari 131 pertandingan menjadi 193, menurut data otoritas setempat.

Asosiasi Sepak Bola Wales (FAW) menyatakan "rasisme adalah masalah sosial, bukan masalah sepak bola."

Image caption Delwyn Derrick (kanan) dianugerahi BBC Cymru Wales Sports Personality Unsung Hero 2019 oleh Mickey Thomas.

Derrick mendapatkan penghargaan BBC Cymru Wales Sports Personality Unsung Hero pada 2019 untuk pengabdiannya mengelola Bellevue FC.

"Mekanisme pelaporannya tidak berfungsi," katanya.

"Mekanismenya: Kamu melayangkan protes lewat surel, setelah laporan itu diterima oleh asosiasi sepak bola setempat atau FAW, mereka akan menyelidiki dengan meminta observasi dari klub lain.

"(Laporan) itu akan segera berubah menjadi perang kata-kata, menjadi perang argumen."

FAW menerima pelaporan kasus rasisme di empat liga teratas di sepak bola Wales, sementara insiden di liga bawah diinvestigasi oleh asosiasi sepak bola regional.

Dari enam tuduhan rasis yang diangkat FAW sejak September 2015, hanya satu yang berhasil dibuktikan oleh panel FAW.

Asosiasi regional menunjukkan kurangnya kepercayaan diri dalam menindaklanjuti laporan mengenai tindakan rasis, menurut Jason Webber dari Show Racism the Red Card.

Image caption Raphael Kingsley (kiri) dan Rizwan Ahmed mengatakan mereka tak lagi percaya pada sistem.

AFC Butetown, yang berasal dari salah satu area yang multietnis di Cardiff, bermain di Liga Aliansi Wales Selatan.

Pemain Raphael Kingsley dan Rizwan Ahmed mengatakan tim mereka telah kehilangan kepercayaan pada kemampuan asosiasi untuk mengatasi rasisme.

Dalam sebuah pertandingan musim ini, mereka berkisah penyerang tim dipanggil "negro" oleh seorang penonton.

Kejadian tersebut dilaporkan, tetapi "tidak ada tindakan lebih lanjut", kata Ahmed.

Ia menambahkan: "Hal ini membuat frustrasi. Kamu memilih jalur yang benar, tapi protokol yang benar tersebut malah mengecewakanmu. Kamu melakukan hal yang benar tapi tidak ada hasil apa-apa."

Hak atas foto Mike James
Image caption Hermon Yohanes mengatakan ia menerima kekerasan verbal yang bersifat rasis saat bermain dalam "pertandingan terburuk dalam hidup saya".

Hermon Yohanes, pemain STM Sport asal Cardiff, mengatakan ia mengalami kekerasan verbal bernuansa rasis dalam paruh pertama pertandingan melawan Cefn Albion FC pada Maret.

"Mereka menyebut-nyebut keluargaku, menggunakan kata 'N' dan anjing. Itu merupakan pertandingan terburuk dalam hidup saya," kata pemain berusia 23 tahun itu.

Yohanes, yang pindah ke Wales pada 2011, ia melaporkan pada wasit mengenai kekerasan verbal tersebut pada paruh waktu dan melaporkannya pada polisi dan FAW setelah pertandingan usai.

Pada Juli, tuduhan tersebut diputuskan tidak terbukti, keputusan yang membuat Yohanes sangat marah dan kecewa.

Hak atas foto Jaggery/Geograph
Image caption Dugaan ucapan rasis terjadi dalam pertandingan antara STM Sport dan Cefn Albion di Latham Park, Newtown, pada Maret lalu.

Polisi setempat mengklaim telah menginvestigasi dugaan tersebut tapi tidak menemukan petunjuk yang cukup "untuk membuktikan identitas pelaku".

FAW juga mengklaim telah melakukan penyelidikan menyeluruh tapi menyatakan tidak menemukan bukti yang cukup.

Seorang juru biacara mengungkap STM Sport bersedia menyiapkan bukti, tapi "ide ini ditolak oleh beberapa orang".

Pada saat itu, Cefn Albion mengatakan mereka "senang dan lega karena terbebas dari tuduhan serius".

Sean Wharton - mantan pemain sepak bola profesional asal Cwmbran yang pernah bermain untuk berbagai tim termasuk Cardiff City dan Sunderland, mengatakan ia kerap menjadi korban tindakan rasis sepanjang karir sepak bolanya.

Image caption Sean Wharton berbagi pada anak muda tentang rasisme untuk sebuah acara amal.

Aktivis dan pendidik anti-rasisme untuk Show Racism the Red Card ini mengatakan rasisme menimbulkan dampak yang besar.

"Ada penelitian yang menunjukkan bahwa rasisme berdampak negatif terhadap kesehatan mental pemain, termasuk (menyakiti) kepercayaan dirinya, perasaan bahwa ia menjadi bagian dari tim," katanya.

"Kamu tidak bisa mengecilkan dampak rasisme terhadap individu dalam sepak bola dan masyarakat. (Rasisme) membuatmu mempertanyakan dirimu, kepercayaan diri dan nilai dirimu sendiri."

FAW mengalokasikan hibah senilai £19,000 atau kurang lebih Rp344 juta untuk membiayai kampanye Show Racism the Red Card, atau berikan kartu merah pada rasisme, dari total budget yang mereka miliki senilai £13 juta tahun lalu.

FAW mengatakan mereka bekerja dengan lembaga anti-rasisme lainnya, termasuk Stonewall, We Wear the Same Shirt dan UEFA Respect/Equal Game.

Untuk menjadi "anti-rasis" ketimbang "non-rasis", Wharton mengatakan, pimpinan sepak bola perlu percaya pada korban yang sudah muak atas ketiadaan tindakan tegas setelah mereka melaporkan kasus rasisme.

Topik terkait

Berita terkait