PR berat sepakbola Indonesia

senayan
Image caption Penonton memenuhi Stadion Senayan meski harga tiket terhitung tidak murah saat Chelsea membantai tim Indonesia XI 8-1 dalam laga Kamis (25/07)

Tiga tim papan atas Inggris baru saja menuntaskan lawatan ke Indonesia. Arsenal, Liverpool dan Chelsea sama-sama mengaku takjub dengan sambutan penonton di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.

Para penggila sepak bola di Indonesia juga merasa puas dengan penampilan klub kesayangan mereka. Banyak yang histeris saat melihat langsung pemain pujaan mereka seperti Theo Walcott, Steven Gerrard atau John Terry merumput di Senayan, meski hanya sedikit yang bisa berfoto atau mendapatkan tanda tangan pesepakbola idola mereka.

Lalu bagaimana dengan pesepakbola Indonesia yang berkesempatan adu taktik di lapangan?

Apakah ada pelajaran yang dipetik atau hanya sekadar pengalaman berlari satu lapangan dengan pemain kaliber dunia yang dicapai, mengingat hasilnya yang dirasa mengecewakan, dihajar Arsenal 7-0, dikalahkan Liverpool 2-0 dan dihabiskan Chelsea 8-1.

Meski tidak menggunakan seragam tim nasional - memakai nama Indonesia XI atau All Stars - tetapi materi pemain yang diturunkan adalah para punggawa yang selama ini masuk dalam pelatnas PSSI.

Jadi bisa dibilang tim yang bertanding melawan tiga klub Inggris ini adalah gambaran kekuatan tim nasional Indonesia.

Jadi rasanya mimpi Indonesia untuk tampil di pentas dunia sepak bola yang didengungkan para petinggi PSSI masih jauh dari kenyataan, pepatah lama mengatakan bagai menggantang asap jauh panggang dari api.

Sudah waktunya untuk bangun dari mimpi dan mulai mengerjakan banyak pekerjaan rumah untuk merapihkan pola permainan dan kemampuan di lapangan.

Mental bertanding

Sudah menjadi rahasia umum bahwa tim Indonesia dikenal kurang memiliki mental bertanding yang bagus saat menghadapi lawan yang berada di kelas berbeda atau saat sulit keluar dari tekanan lawan.

Akibatnya saat tertinggal gol, alih-alih mencetak gol penyeimbang, gawang Indonesia justru malah kebobolan lagi.

Faktor fisik yang mudah terkuras juga menjadi persoalan lain yang selalu menjadi alasan klasik saat mengalami kekalahan.

Hal ini bisa tergambar saat tim Indonesia kebobolan hingga 17 gol dan semua tercipta berkat fisik yang kedodoran dan organisasi pertahanan yang buruk.

Alur bola sering kali putus di lapangan tengah, passing yang mudah dibaca lawan. Pemain sering kali menahan bola terlalu lama karena mikir terlalu lama dan bingung akan dioper kemana bola tersebut, akibatnya tidak terlihat suatu skema pola penyerangan yang jelas.

Di barisan belakang, para bek masih sering tidak disiplin yang membuat penyerang lawan dengan mudah menusuk ke jantung pertahanan. Penyakit lama gagal mengantisipasi umpan lambung di depan gawang juga terus kambuh.

Tidak ada jenderal lapangan tengah atau seorang playmaker yang bisa mengatur pola serangan dan ritme permainan. Indonesia juga tidak punya seorang breaker di posisi gelandang yang berfungsi merusak permainan saat bola dipegang pemain lawan.

Sementara barisan penyerang Indonesia yang dikenal memiliki kecepatan justru sering hanya terlihat berlari dan frustasi saat gagal menembus tembok pertahanan yang dibangun tim lawan.

Banyak orang menyatakan sudah sewajarnya tim Indonesia kalah saat menghadapi tim yang kelasnya jauh di atasnya, tetapi lebih dari setengah lusin gol bersarang di gawang Kurnia Meiga rasanya sangat keterlaluan.

Siapa yang untung ?

Image caption Kaos dan syal menjadi suvenir favorit suporter yang laris menjelang pertandingan

Setiap ada tim dunia melawat ke Indonesia, selalu ada pernyataan yang menyebutnya sebagai keuntungan untuk berlatih tanding.

Setelah dipermalukan di stadion kebanggaan nasional, sekarang apa yang bisa diambil untung dari kunjungan tiga klub besar Inggris ini?

Pelatih Jacksen F Tiago atau Rahmad Darmawan pasti sudah membuat catatan yang diharapkan bisa menjadi koreksi perbaikan atas penampilan tim nasional, anggaplah itu menjadi keuntungan bagi Indonesia.

Sementara bagi klub Inggris yang datang, secara teknis mungkin tidak banyak yang bisa didapat dari kunjungan ke Indonesia ini, selain hanya ajang pemanasan, biasanya juga dipakai untuk menambah jam terbang bagi pemain lapis kedua.

Tapi secara bisnis, kunjungan ini menjadi keuntungan besar bagi klub-klub Inggris karena bisa datang ke pasar terbesar mereka. Saat ini ada kecenderungan klub besar mengontrak pemain bagus asal Asia guna meningkatkan pasar mereka di kawasan ini.

Berbicara tentang bisnis, rasanya yang paling beruntung dari tur pra musim klub-klub Inggris ke Indonesia ini patut disematkan kepada para pedagang kaki lima di pelataran senayan.

Kaos palsu dengan harga paling murah Rp20.000 atau sedikit lebih mahal dengan kualitas agak mirip asli yang mereka jajakan terjual banyak dalam tiga pekan terakhir.

Arsenal, Chelsea dan Liverpool akan segera bersaing merebut gelar di Liga Primer Inggris usai lawatan pra musim Asia mereka. Sementara bagi Indonesia, rasanya masih jauh untuk bisa menjadi juara bahkan untuk kawasan regional.

Berita terkait