Piala Dunia 2022 seharusnya tetap di Qatar

Stadion Al-Shamal
Image caption Desain awal Stadion Al-Shamal yang rencananya untuk Piala Dunia 2022 di Qatar

Dulu, sekitar 20-an tahun lalu, saya dan beberapa kawan bingung kenapa ada empat wakil Inggris Raya di penyisihan Piala Dunia.

Kami berpendapat itu tidak adil tapi kemudian mendapat jawaban dari seorang kawan lain yang lebih 'gila' bola. "Karena di Inggris itu ada empat liga," katanya.

Belakangan, setelah tinggal di Inggris ada pula pengetahuan baru: bahwa Cardiff dan Swansea -dua klub asal Wales- bergabung dengan Liga Primer Inggris.

Jadi apa alasan sebenarnya?

Saya pun mendatangani seorang wartawan sepak bola BBC, yang duduk sekitar 10 meter dari meja kerja saya.

"Sejarah," jawabnya singkat sambil tersenyum kecil. Dia orang Inggris.

"Inggris dalam tanda kutip adalah penemu sepak bola modern, jadi sejarah dipertahankan," tambahnya sambil menegaskan Wales dan Irlandia Utara hingga saat ini tetap punya liga sendiri walau sifatnya semiprofesional.

Teknologi tak menjamin

Pertanyaan sekitar dua dekade lalu itu menggeliat kembali di tengah perdebatan seputar penyelenggaraan Piala Dunia 2022 di Qatar.

Image caption Gambar Stadion Al-Khor seperti yang dirilis pada September 2010.

FIFA sudah membentuk komisi khusus untuk mengkaji kemungkinan jadwal pertandingan PD 2022 dipindahkan ke musim dingin sekitar akhir tahun atau awal tahun.

Biasanya Piala Dunia berlangsung pertengahan tahun, antara Juni dan Juli, namun di Qatar pada periode itu suhu udara di Qatar rata-rata 40 derajat celcius dan kadang bisa mencapai 50 derajat celcius.

Dengan suhu tersebut, bukan hanya pemain saja yang berjuang di lapangan tapi para penonton juga tidak bisa duduk nikmat.

Pihak penyelenggara Piala Dunia Qatar sudah berjanji akan mencoba mengatasi panasnya suhu udara dengan berbagai teknologi.

Sebagai negara kaya-yang bersumber dari minyak- mereka akan menyediakan penyejuk ruangan di semua stadion. Juga ada gagasan membuat semacam awan otomatis di atas stadion sehingga teriknya sinar matahari tertahan.

Bagaimanapun tetap saja tak ada keyakinan bahwa kondisinya kelak akan aman dan nyaman untuk main sepak bola dan Presiden FIFA, Sepp Blatter, sudah berulang kali melempar gagasan agar waktunya digeser.

Tradisi Inggris

Yang paling menentang perpindahan waktu penyelenggaraan Piala Dunia Qatar ke musim dingin adalah Liga Primer Inggris karena masa itu pertandingan liga sudah berjalan rutin, sedangkan Juni hingga Agustus merupakan waktu istirahat.

Image caption Stadion Al-Rayyan, yang rencananya juga akan digunakan untuk PD 2022.

Oleh karena itu muncul juga gagasan agar tempat penyelenggaraan saja yang dipindah sedang waktunya tetap sama.

Banyak pihak yang tampaknya lebih menerima perpindahan waktu dibanding tempat. Asosiasi klub-klub papan atas Eropa, ECA, misalnya sudah menyatakan 'terbuka' dengan kemungkinan PD 2022 pada musim dingin.

Jika itu terjadi maka jelas Liga Primer Inggris dan liga-liga di negara lain harus menjadwal ulang pertandingan liga dalam negerinya, walau berarti akan kehilangan pemasukan dari kontrak TV karena tradisi jumlah penonton TV yang tinggi pada musim dingin.

Dan mestinya itu tidak masalah karena cuma sekali dalam waktu 92 tahun, sejak Piala Dunia pertama kali digelar di Uruguai tahun 1930.

Kok susah amat mengubah jadwal pertandingan sampai-sampai menutup kemungkinan satu wilayah dunia tidak boleh menjadi tuan rumah untuk kejuaraan cabang olahraga yang diminati warga seluruh dunia.

Jadi jika tempatnya yang dipindahkan, maka sepak bola belum menjadi milik dunia dan masih dibayang-bayangi sejarah sepak bola Inggris.

Berita terkait