Hukuman mati untuk pelaku kekerasan sepak bola Mesir

Port Said Hak atas foto EPA
Image caption Sebagian korban meninggal karena terinjak-injak para pendukung yang panik.

Pengadilan Mesir menjatuhkan hukuman mati atas 11 pria yang terlibat dalam kekerasan sepak bola tiga tahun lalu, yang menewaskan lebih dari 70 orang.

Dalam insiden yang sering disebut sebagai 'Pembunuhan di Stadion Port Said' itu berlangsung perkelahian antara pendukung dua kubu yang berseteru, klub lokal al-Masry dan klub dari Kairo, al-Ahly.

Sebagian besar korban tewas karena terinjak-injak ketika orang-orang berlarian menyelamatkan diri setelah pendukung al-Masry menyerbu ke lapangan. Sekitar 1.000 orang lainnya cedera dalam insiden tahun 2012 tersebut.

Sejumlah petugas polisi juga diadili, termasuk mantan pimpinan keamanan Port Said yang dijatuhi hukuman lima tahun penjara, namun tidak ada yang diganjar hukuman mati.

Hak atas foto EPA
Image caption Insiden Port Said merupakan kekerasan sepak bola yang terburuk di Mesir.

Polisi dituduh membiarkan para pendukung al-Masry menyerang pendukung al-Ahly, yang sebelumnya dikenal aktif dalam upaya menggulingkan Presiden Husni Mubarak.

Saat itu Presien Mohammed Morsi sampai menyatakan keadaan darurat di Port Said, yang merupakan kekerasan sepak bola terburuk di negara itu.

Vonis pada Selasa 9 Juni diputuskan dalam sidang ulangan setelah pengadilan sebelumnya menjatuhkan hukuman mati atas 21 orang namun banyak yang berpendapat keputusan itu bernuansa politis.

Bagaimanapun para terpidana masih memiliki kesempatan untuk mengajukan banding atas keputusan terbaru ini.

Berita terkait