Schweinsteiger pimpin Jerman hadapi tuan rumah Prancis

Hak atas foto Reuters
Image caption Semula gelandang Manchester United berusia 31 tahun itu diragukan tampil akibat cedera lutut.

Bastian Schweinsteiger akan menjadi kapten tim nasional Jerman pada laga semi final Piala Eropa 2016 menghadapi tuan rumah Prancis di Stadion Velodrome, Marseille, Kamis (07/07) atau Jumat (0807) dini hari WIB.

Semula gelandang Manchester United berusia 31 tahun itu diragukan tampil akibat cedera lutut. Namun, pelatih timnas Jerman, Joachim Low, menepisnya.

“Saya sudah punya susunan tim di kepala saya dan Bastian Schweinsteiger pasti akan bermain pertama. Jika dia berlatih 100% tanpa keluhan, dia akan bermain. Pagi ini dia berlatih dan tiada keluhan,” kata Low.

Hak atas foto Getty
Image caption Timnas Jerman kehilangan Mario Gomez, Sami Khedira, dan Mats Hummels saat menghadapi Prancis.

Low berpendapat mantan gelandang Bayern Muenchen itu menunjukkan stamina yang prima saat menghadapi Italia dan terbukti memainkan peranan penting. Hal serupa diminta Low dari Schweinsteiger ketika Jerman bersua Prancis di semi final. Pasalnya, Low sudah cukup dipusingkan dengan absennya Mario Gomez, Sami Khedira, dan Mats Hummels.

Meski Jerman belum pernah kalah dari Prancis dalam turnamen apapun sejak 1958, Low mengatakan anak-anak asuhannya bukanlah tim favorit ketika bertemu tuan rumah.

“Kami tidak bermain melawan sebuah tim, kami bermain melawan satu negara. Jadi, saya tidak akan mengatakan kamilah yang difavoritkan,” kata Low.

Prancis harus yakin

Di kubu seberang, pelatih timnas Prancis, Didier Deschamps, mengatakan pihaknya “harus yakin” bahwa mereka mampu mengakhiri rekor selalu kalah saat berhadapan dengan Jerman.

“Kami tidak bisa mengubah sejarah masa lalu, namun kami punya halaman baru untuk ditulis. Kami menghadapi tim terbaik di dunia, namun anak-anak harus yakin,” kata Deschamps.

Hak atas foto Getty
Image caption Antoine Griezmann, penyerang bernomor punggung 10 yang telah mencetak empat gol selama Piala Eropa 2016.

Mantan pemain yang turut berjasa mengantarkan Les Bleus—julukan timnas Prancis—meraih Piala Dunia 1998 itu mengaku tidak mau para pemain asuhannya bersikap pasif saat menantang Jerman.

“Jerman mengambil komando pertandingan-pertandingan mereka dan mendominasi penguasaan bola. Namun kami tidak bisa memainkan laga ini dengan berpikir kami akan bertahan dan melakukan serangan balasan. Dengan segala hormat untuk Jerman, kami punya peluang besar dan kami akan mengambilnya dengan dua tangan,” kata Deschamps.

Dilema taktik

Eks pemain Liverpool FC, Danny Murphy, yang kini menjadi pengamat sepak bola untuk BBC, menilai Deschamps punya dilema pada diri Antoine Griezmann, penyerang bernomor punggung 10 yang telah mencetak empat gol selama Piala Eropa 2016.

Menurut Murphy, agar Griezmann lebih produktif, Deschamps bisa saja membiarkan pemain Atletico Madrid itu pada posisinya di belakang ujung tombak, alih-alih melebar ke kanan.

Hak atas foto Getty
Image caption Untuk memakai 4-2-3-1, Didier Deschamps harus mencadangkan salah satu dari tiga gelandangnya, N'Golo Kante, Paul Pogba, atau Blaise Matuidi.

Apabila opsi itu ditempuh, kata Murphy, Deschamps harus mempertahankan formasi 4-2-3-1 saat melawan Islandia, ketimbang 4-3-3 yang dia gunakan sebelumnya. Namun, untuk memakai 4-2-3-1, Deschamps harus mencadangkan salah satu dari tiga gelandangnya, N'Golo Kante, Paul Pogba, atau Blaise Matuidi.

Di sisi Jerman, Murphy menganggap Low amat mungkin beradaptasi dengan formasi Prancis, yaitu kembali memakai empat pemain bertahan. Ketika melawan Italia, Low meniru formasi Antonio Conte dengan tiga pemain bertahan dan berhasil.

Namun, menurut Murphy, Low akan kesulitan mencari pengganti Mario Gomez dan harus lebih banyak melakukan penetrasi ke pertahanan Prancis, alih-alih memberi umpan silang.

Berita terkait