Browser doesn't support HTML5 video

2050, Jakarta Utara ‘tenggelam’: Semua yang perlu Anda ketahui

Selama enam bulan terakhir BBC News Indonesia melakukan investigasi terkait penurunan permukaan tanah di Jakarta. Kami menemukan bahwa potensi tenggelamnya Jakarta bukanlah omong kosong belaka. Berikut berbagai hal yang perlu Anda ketahui dan apa yang bisa dilakukan untuk mengantisipasinya sebelum terlambat.

Anda juga bisa mengetahui seberapa besar penurunan tanah di daerah tempat tinggal Anda menggunakan fitur interaktif di dalam artikel ini.

Sore itu Fortuna tengah bersantai di rumah mewah pinggir lautnya yang dilengkapi dermaga, di kawasan Pluit, Jakarta Utara. Perempuan ini duduk menatap kanal, tempat berbagai kapal mesin terparkir, bersandar ke masing-masing rumah.

Suasana tenang. Sesekali semilir angin laut mengibas rambut perempuan yang masih berkuliah ini. Namun, Fortuna menyebut kondisi itu bisa berubah drastis, mencekam ketika hujan turun lama dan air laut meninggi.

"Bahkan di sini beberapa kali terjadi banjir. Air laut masuk ke rumah, bahkan sampai melebihi batas telinga", katanya dengan suara tegas.

Fortuna bercerita ketika banjir menerjang air bisa lebih dalam dari kolam renang.
Hak cipta gambar BBC
Judul gambar Fortuna bercerita ketika banjir menerjang air bisa lebih dalam dari kolam renang.

Di area kolam renang, Fortuna pun menceritakan bagaimana setiap enam bulan atau setahun sekali, air laut merembes masuk, dan menenggelamkan kolam bewarna kebiruan itu. "Airnya lebih tinggi dari kolam renang. Perabotan-perabotan harus kami naikin ke atas, ke lantai dua".

Dan tidak hanya banjir yang dirasakannya selama tinggal di rumah tersebut empat tahun terakhir. Setiap enam bulan sekali berbagai tiang dan dinding di rumah yang tampak kokoh itu, retak-retak.

"Jadi harus diperbaiki terus. Tukang yang dipekerjakan di sini bilang, penyebab (banjir dan retakan) karena perubahan tanah."

Kecamatan Penurunan Permukaan Tanah (meter)
2017 2025 2050
Cakung 1.7 2.1 2.5
Grogol Petamburan 1.4 1.7 2.5
Jagakarsa 0.7 0.8 1.7
Jatinegara 1.5 1.8 3
Johar Baru 1.7 2.1 3.1
Kalideres 0.9 1.1 1.7
Kebayoran Baru 1.2 1.5 2.2
Kebayoran Lama 2.1 2.7 3.9
Kebon Jeruk 1.9 2.4 3.6
Kelapa Gading 1.5 1.8 2.9
Kemayoran 2 2.5 3.6
Cempaka Putih 1.9 2.4 3.6
Kembangan 0.9 1.2 1.8
Koja 1.8 2.2 3.2
Kramat Jati 0.7 0.9 1.8
Makasar 0.9 1.1 2.2
Mampang Prapatan 1 1.2 2
Matraman 1.2 1.5 2.5
Menteng 2.1 2.6 3.9
Pademangan 1 1.2 1.7
Palmerah 1.6 2 3.2
Pancoran 0.9 1.1 1.9
Cengkareng 2.1 2.6 3.8
Pasar Minggu 0.7 0.9 1.6
Pasar Rebo 0.6 0.7 1.9
Penjaringan 1.9 2.3 3.5
Pesanggrahan 1 1.2 1.9
Pulo Gadung 2 2.5 3.5
Sawah Besar 1.5 1.9 2.9
Senen 1.4 1.8 2.8
Setia Budi 1.1 1.4 2.2
Taman Sari 1.4 1.8 2.9
Tambora 1.5 1.9 2.9
Cilandak 0.8 1 1.7
Tanah Abang 1 1.3 2.1
Tanjung Priok 2.2 2.7 3.9
Tebet 1.2 1.5 2.4
Cilincing 1.6 1.9 2.8
Cipayung 0.6 0.7 1.9
Ciracas 0.6 0.7 1.9
Duren Sawit 1.5 1.8 3.1
Gambir 1.3 1.6 2.5

Peta penurunan permukaan tanah Jakarta


Catatan: metodologi tersedia di bagian akhir artikel.

Berdasarkan riset tim peneliti geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB), di Jakarta Utara setiap tahunnya telah terjadi penurunan permukaan tanah dengan kedalaman mencapai 25cm.

Jika tidak dilakukan apa-apa, maka pada tahun 2050 sekitar 95% wilayah Jakarta Utara sudah berada di bawah laut." Heri Andreas, Peneliti ITB

"Ini adalah salah satu penurunan tanah terbesar di dunia, karena kita bayangkan dalam 10 tahun penurunannya mencapai 2,5 meter," kata Heri Andreas, salah satu doktor di bidang geodesi ITB yang terlibat dalam penelitian ini.

Heri menekankan bahwa peluang Jakarta untuk tenggelam, tidak mengada-ada. Ada data yang berbicara.

Di Jakarta Utara penurunan permukaan tanah mencapai 25cm per tahun atau 2,5m dalam 10 tahun.
Hak cipta gambar BBC
Judul gambar Di Jakarta Utara penurunan permukaan tanah mencapai 25cm per tahun atau 2,5m dalam 10 tahun.

"Jika tidak dilakukan apa-apa, maka pada tahun 2050 sekitar 95% wilayah Jakarta Utara sudah berada di bawah laut."

Penurunan tanah tidak hanya terjadi di Jakarta Utara, tetapi di seluruh DKI Jakarta. Jakarta Barat turun sampai 15cm per tahun. Jakarta Timur, 10cm setiap tahunnya. Penurunan tanah sedalam 2cm terjadi di Jakarta Pusat. Sementara, di Jakarta Selatan penurunannya sekitar 1cm per tahun.

Apa penyebabnya?

Saat berkunjung ke Jakarta Utara, Heri mengungkapkan bahwa penyebab utama penurunan tanah ini adalah karena pengambilan air-tanah dalam yang berlebihan.

"80-90% penyebab penurunan tanah karena itu."

Air tanah dalam adalah air tanah yang terletak di kedalaman sekitar 80 sampai 300 meter di bawah permukaan tanah.

Heri Andreas menceritakan bagaimana tanggul dibangun lebih tinggi, ketika tanah semakin turun dan air laut terus meninggi.
Hak cipta gambar BBC
Judul gambar Heri Andreas menceritakan bagaimana tanggul dibangun lebih tinggi, ketika tanah semakin turun dan air laut terus meninggi.

Intensnya pengambilan air-tanah dalam di Jakarta, menggunakan sumur dan pompa air, karena Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) hanya bisa memenuhi 40% kebutuhan air bersih, termasuk air minum warga ibukota.

"Sisanya (60% kebutuhan) harus dicari sendiri. Dan yang paling mudah, paling gampang dan paling bagus kualitas airnya itu ya dari tanah," jelas Heri.


Bagaimana Jakarta bisa tenggelam? Klik video di bawah ini.


Dipompa dari dalam bumi, air ini tidak hanya digunakan oleh gedung-gedung tinggi. Menurut Heri, saat ini sudah banyak perumahan warga yang menggunakan air-tanah dalam, karena air tanah yang lebih dangkal 'sudah tercemar'.

BBC News Indonesia pun mendatangi sebuah kompleks perumahan di Kebon Kacang, Tanah Abang. Suara deru pompa air setiap malam terdengar bising di gang-gang perumahan itu.

Lebih gampang pakai air tanah, (jadi) mandiri, tidak bergantung PAM. Apalagi kos-kosan butuh banyak air." Hendri, Pemilik kos di Kebon Kacang

Mayoritas perumahan di sana telah diubah menjadi kos-kosan bertingkat, setidaknya dua lantai. Salah satunya dimiliki Hendri. Dia telah menggunakan air tanah sejak kos-kosan itu berdiri 10 tahun lalu.

"Awalnya airnya hitam sih, ada tanahnya, tapi lama-kelamaan bersih. Lebih gampang juga pakai air tanah, mandiri, nggak bergantung sama PAM. Apalagi kos-kosan begini kan butuh banyak air," kata Hendri.

Dan nyaris seluruh kos-kosan di gang sepanjang 200 meter itu menggunakan air tanah sebagai sumber air bersih mereka.

PDAM hanya memenuhi 40% kebutuhan air warga Jakarta.
Hak cipta gambar BBC
Judul gambar PDAM hanya memenuhi 40% kebutuhan air warga Jakarta.

Heri menegaskan solusi untuk penurunan tanah sebenarnya sangat sederhana.

"Kalau pengambilan air-tanah dalam dihentikan, penurunan permukaan tanah juga berhenti," tegasnya.

Gedung amblas, tanggul bobol, banjir

Penghentian eksploitasi air tanah, menurut sang doktor, harus segera dilakukan. Pasalnya gejala penurunan tanah semakin memburuk dan tidak lagi sulit dicari, khususnya di Jakarta Utara.

Di Muara Baru, sebuah gedung dua lantai yang berdiri sejak tahun 1970an, hampir menjadi gedung satu lantai. Sekitar tiga perempat lantai dasar gedung telah terbenam masuk ke tanah dan digenangi air.

Sebuah bangunan di Muara Baru yang sebagian besar lantai satunya sudah terbenam.
Hak cipta gambar BBC
Judul gambar Sebuah bangunan di Muara Baru yang sebagian besar lantai satunya sudah terbenam.
Suasana lantai satu gedung yang digenangi air.
Hak cipta gambar BBC
Judul gambar Suasana lantai satu gedung yang digenangi air.

Tidak jauh dari sana, lantai sebuah pasar ikan tampak bergelombang. Penurunan tanah membuat amblasan dan celah menganga setinggi 20cm, antara tanah dan dasar bangunan.

"Kalau di sini membahayakan, apalagi ketika orang ramai. Jalan bergelombang begini orang bisa terpeleset, jatuh. Awalnya tidak terlalu parah, tetapi dari tahun ke tahun tanahnya semakin turun," ungkap Ridwan, warga Muara Baru yang kerap berbelanja di pasar ikan itu.

Konten menggunakan cookies pihak ketiga

Konten video berasal dari channel YouTube resmi BBC Indonesia dan menggunakan cookies sesuai dengan kebijakan YouTube. Kami tidak mengatur situs tersebut dan tidak bertanggung jawab terhadap konten dan praktik yang dilakukan situs eksternal. Pelajari lebih lanjut.

Dampak juga dirasakan nelayan di Muara Angke, Jakarta Utara. Mahardi, yang telah melaut dari pelabuhan itu sejak 14 tahun lalu, menuturkan bagaimana tanggul yang dibangun dengan tinggi sekitar satu meter, tidak mampu lagi menahan air laut ketika pasang terjadi.

"Banjir rob di sini semakin tahun semakin tinggi airnya. Ini sampai ditanggul begini. Dulu rata sama tanah, lalu ditanggul. Hampir tiap tahun naik sekitar lima senti banjir robnya. Terakhir itu sampai kerendam melewati tanggul setinggi 10 senti," kata Mahardi dengan suara bersemangat.

"Penurunan tanah dan banjir punya hubungan yang sangat erat."
Hak cipta gambar Getty Images
Judul gambar "Penurunan tanah dan banjir punya hubungan yang sangat erat."

Dan tidak hanya bangunan terperosok, tanah amblas, banjir rob, dan tenggelamnya Jakarta yang akan terjadi. Profesor Heri menekankan, jika penurunan permukaan tanah tidak dihentikan, banjir di ibukota, termasuk di Jakarta Pusat, daerah yang sebenarnya lebih jauh dari tepi laut, akan semakin rutin terjadi.

"Hubungan antara penurunan tanah dan banjir itu sangat kuat. Di Jakarta, air juga bisa datang dari daerah Bogor, atau hujan. Karena tanah terus turun dan air laut lebih tinggi dari permukaan tanah, maka air dari Bogor atau air hujan, tidak bisa langsung ke laut. Otomatis dia membanjiri daerah-daerah yang mengalami penurunan tanah itu, termasuk yang penurunannya kecil."

'Terus jualan selama laku'

Untuk mengurangi dampak penurunan tanah kepada warga, khususnya yang tinggal di tepi laut, Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman (APERSI) mendesak pemerintah untuk mengurangi izin mendirikan bangunan di pinggir laut.

Ketua Dewan Pertimbangan APERSI, Eddy Ganefo, menyatakan jika pemerintah tidak membatasi, maka rekan-rekannya sesama pengembang akan terus membangun, karena di mata mereka, "selama bisa jualan, laku, pengembang akan jalan terus".

"(Kami) Pengembang, di awal membangun kan tidak melihat ada masalah. Tapi kalau terjadi penurunan (tanah) dalam jangka panjang, ya harus dibatasi."

Asosiasi pengembang perumahan: 'selama bisa jualan, laku, pengembang akan terus membangun di tepi laut.'
Hak cipta gambar BBC
Judul gambar Asosiasi pengembang perumahan: 'selama bisa jualan, laku, pengembang akan terus membangun di tepi laut.'

Eddy menyebut rekan-rekan pengembangnya yang memiliki proyek di pantai utara Jakarta, biasanya menjadikan air laut yang disuling menjadi air tawar sebagai sumber air bersih. "Ada teknologinya".

Meski mengklaim tidak menggunakan air tanah, Eddy menekankan pembatasan pembangunan perumahan di pinggir laut penting, karena terdapat praktik 'kurang terpuji' yang dilakukan rumah-rumah tersebut.

Berbagai apartemen baru terus bermunculan di pantai utara Jakarta.
Hak cipta gambar BBC
Judul gambar Berbagai apartemen baru terus bermunculan di pantai utara Jakarta.

"Katakanlah di daerah-daerah arah ke Ancol, misalnya. Ada perumahan-perumahan besar. Mereka sudah ada teknologi yang membuat air rob yang masuk, bisa dipompa keluar.

"Air yang dipompa keluar ini tidak akan balik lagi ke mereka, tetapi (rob) masuk ke kawasan lain di sekelilingnya yang tidak menggunakan teknologi tersebut," akunya.

Sanksi Anies 'salah kaprah'?

Walau tidak mau berkomentar soal usulan pembatasan izin mendirikan bangunan di pinggir laut, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, sadar bahwa penurunan permukaan tanah di provinsi yang dikelolanya adalah karena pengambilan air-tanah dalam berlebihan.

Sejak pertengahan Maret 2018 Anies dan timnya menginspeksi puluhan gedung, dimulai dari gedung-gedung bertingkat di sepanjang jalan protokol Sudirman dan Thamrin.

Dari inspeksi awalnya di jalan Sudirman dan Thamrin, Anies menemukan 56 gedung memiliki sumur pengambilan air tanah dengan kedalaman lebih 200 meter. Sebanyak 33 di antaranya ilegal; tidak memiliki izin atau sudah habis masa berlakunya.

Selain itu, dari total 80 gedung, 37 gedung belum memiliki sumur resapan, atau sumur resapannya tidak berfungsi.

"Seringkali kita hanya melihat pelanggaran yang terlihat mata, yang rakyat kecil lakukan, yang ini, pelanggaran yang membuat permukaan tanah turun, jarang diperhatikan... Ini bukan pelanggaran yang sifatnya kebutuhan, tetapi karena keserakahan," kata Anies.

Setelah gedung di jalan Sudirman-Thamrin, inspeksi akan dilakukan di wilayah lain di Jakarta, termasuk perumahan warga.
Hak cipta gambar AFP
Judul gambar Setelah gedung di jalan Sudirman-Thamrin, inspeksi akan dilakukan di wilayah lain di Jakarta, termasuk perumahan warga.

Gubernur pun menjatuhkan sanksi. Bagi gedung pelanggar yang dalam sebulan tidak mengurus izin sumur air-tanah dalam dan membuat sumur resapan, maka sertifikat laik fungsi (LSF) gedung akan dicabut, "dan izin operasional pada semua yang ada di gedung juga bisa dicabut."

Persoalan (penurunan tanah) bukan tentang air tanah diambil atau tidak, tetapi apakah kita mengambil air tanah dengan benar dan mengembalikannya dengan benar." Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta

Namun hingga Juli 2018, sanksi tegas belum dijatuhkan. Sedikitnya lima gedung yang izinnya belum beres, masih diberi waktu hingga akhir Juli untuk membuat sumur resapan dan mengurus izin.

Selain itu, semangat yang diusung Anies lebih agar pengambilan air tanah dapat dimonitor. "Kalau tanpa izin, kita tak bisa tahu berapa air yang diambil. Bayar pajaknya kita juga tidak tahu. Tapi kalau izinnya ada, kita bisa lakukan monitoring dan bisa tahu berapa banyak air yang digunakan."

Anies pun menekankan pengambilan air tanah tetap bisa dilakukan jika gedung memiliki izin.

Sebanyak 33 gedung di jalan Sudirman-Thamrin mengambil air tanah dalam secara ilegal.
Hak cipta gambar AFP
Judul gambar Sebanyak 33 gedung di jalan Sudirman-Thamrin mengambil air tanah dalam secara ilegal.

Heri Andreas mengungkapkan upaya yang dilakukan Anies itu tidak cukup. "Jika ingin penurunan tanah berhenti, gedung-gedung dan rumah-rumah di Jakarta harus benar-benar berhenti mengambil air-tanah dalam dan beralih mencari sumber air bersih lain".

Anies tidak sependapat. Menurut sang gubernur "persoalannya bukan tentang air tanah atau tidak, tetapi apakah kita mengambil air tanah dengan benar dan mengembalikannya dengan benar."

Ditekankan Anies, jika pengambilan air tanah dilengkapi sumur resapan air yang sudah punya teknologi pengolahan, maka air tanah akan dapat dikembalikan ke tanah, sehingga penurunan permukaan tanah tidak terjadi. "Karena itu, sumur resapan ini penting."

Gubernur Anies Baswedan mengklaim sumur resapan bisa membawa air kembali ke sumber air tanah dalam.
Hak cipta gambar Anadolu Agency/Getty Images
Judul gambar Gubernur Anies Baswedan mengklaim sumur resapan bisa membawa air kembali ke sumber air tanah dalam.

Namun, doktor geodesi ITB, Heri Andreas, menyebut solusi Anies tersebut "salah kaprah". Pasalnya sumur resapan yang ada di Jakarta hanya dapat mengembalikan air ke sumber air tanah dangkal, "yang kedalamannya hanya beberapa meter, atau beberapa puluh meter saja".

Alhasil, sumur resapan, dikatakan Heri tidak akan mengganti air tanah dalam, sehingga upaya yang dilakukan pemerintah provinsi DKI Jakarta itu, "sama sekali tidak mempengaruhi dan mencegah penurunan permukaan tanah".

Menurutnya, air-tanah dalam bisa dikembalikan ke sumbernya, dengan menggunakan metode artificial recharge, di mana air disuntikkan kembali ke sumber air-tanah dalam. "Tetapi teknologi ini sangat mahal, miliaran rupiah, dan belum ada satu pun di Jakarta yang melakukan."

Waduk Melati di Jakarta Pusat yang terletak berdekatan dengan jalan Sudirman-Thamrin.
Hak cipta gambar BBC
Judul gambar Waduk Melati di Jakarta Pusat yang terletak berdekatan dengan jalan Sudirman-Thamrin.

Heri menyarankan pemerintah Jakarta untuk meniru apa yang dilakukan Tokyo. Ibukota Jepang itu sebelum tahun 1975, juga mengalami masalah penurunan permukaan tanah.

"Tokyo benar-benar menghentikan penggunaan air tanah. Tidak ada lagi gedung yang diperbolehkan mengambil air tanah." Dengan menerapkan kebijakan itu sejak tahun 1975, penurunan permukaan tanah di Tokyo pun berhenti.

Berharap dari Citarum?

Ide penghentian total pengambilan air-tanah dalam di Jakarta, disebut Heri, harus diikuti ketersediaan sumber air bersih pengganti.

Jika ingin penurunan tanah berhenti, gedung dan rumah di Jakarta harus benar-benar berhenti mengambil air-tanah dalam dan beralih mencari sumber air lain." Heri Andreas, Peneliti ITB

Menurutnya air permukaan; sungai dan danau, bisa menjadi jawaban. Namun, jawaban ini diakuinya sedang menghadapi masalah serius.

"Kita punya 13 sungai (di Jakarta), kotor semua. Itu kan cadangan air. Selain itu embung atau danau-danau di Jakarta, seharusnya bisa jadi sumber air. Namun, faktanya sekarang kita belum bisa menjernihkan air sungai dan danau itu," ujar Heri.

Air permukaan Jakarta dinilai masih belum bersih.
Hak cipta gambar AFP
Judul gambar Air permukaan Jakarta dinilai masih belum bersih.

Padahal dirinya telah menghitung bahwa 13 sungai dan berbagai danau di Jakarta bisa memenuhi kebutuhan air warga ibukota.

Namun, ada keraguan dari nada suara Heri, mengingat Gubernur Anies sudah menegaskan bahwa pengambilan air-tanah dalam tetap bisa dilakukan, dan menggantinya dengan sumber air baru, bukanlah solusi.

"Itu yang harus kita tunggu dari pemerintah. Yang jelas pembersihan (sungai dan danau) tidak bisa dilakukan secepat mungkin. Setidaknya butuh 10 tahun."

Tim Oranye membersihkan salah satu sungai di Jakarta.
Hak cipta gambar AFP
Judul gambar Tim Oranye membersihkan salah satu sungai di Jakarta.

Meskipun Tim Oranye Pemprov DKI Jakarta, yang salah satu tugasnya adalah membersihkan sungai dan waduk di Jakarta, terus bekerja, tidak bisa dipungkiri pula bahwa sampah masih terus tampak mengapung, dibuang ke air permukaan tersebut.

Walau begitu, Presiden Joko Widodo sebenarnya telah memulai program revitalisasi Sungai Citarum. Sungai terbesar dan terpanjang di Jawa Barat, yang membentang sejauh 300km itu, disebut sang presiden berpotensi menjadi "pemasok 80% air bersih warga Jakarta."

Sungai yang sempat digelari 'salah satu yang terkotor di dunia' tersebut tengah dibersihkan. Namun, presiden mencuitkan Sungai Citarum baru bisa menjadi 'sumber air minum' dalam 'tujuh tahun ke depan'.

Citarum masuk ke dalam daftar salah satu sungai terkotor di dunia.
Hak cipta gambar AFP
Judul gambar Citarum masuk ke dalam daftar salah satu sungai terkotor di dunia.

Heri menambatkan harapannya pada upaya ini.

"(Citarum) bisa jadi alternatif, meskipun perlu lima sampai delapan tahun... Kita tetap optimistis. Penurunan tanah sudah semakin mengkhawatirkan," pungkasnya.

Namun harapan itu jelas dihinggapi kegamangan yang pekat, karena faktanya pengambilan air-tanah dalam terus dilakukan. Dan selama itu terjadi, sentimeter demi sentimeter permukaan tanah Jakarta akan terus turun, dan tenggelamnya Jakarta tinggal menunggu waktu.


Metodologi

Peta interaktif penurunan permukaan tanah dibuat menggunakan analisis spasial. Data penurunan di masing-masing kecamatan diolah dan dilihat nilai maksimum, minimum serta rata-ratanya. Yang kami tampilkan di sini adalah rata-ratanya. Metode ini berbeda dengan metode interpolasi yang digunakan pada peta penurunan permukaan tanah dari tahun 1977 hingga saat ini.

Kredit

Ditulis oleh Rafki Hidayat dan Mayuri Mei Lin.

Video diproduksi oleh Dwiki Marta.

Editor: Rebecca Henschke

Produksi online oleh Mayuri Mei Lin.

Konten interaktif oleh Arvin Surpriyadi (grafik), Davies Surya (animasi) dan Leben Asa (pengembangan).

Foto: Getty, AFP.