Apakah kata 'bule' rasis? Menelaah arti kata yang populer sejak 1960-an

bbc Hak atas foto REUTERS/Beawiharta/
Image caption Tiga atau empat 'bule profesional' untuk memimpin BUMN Indonesia?

Pekan lalu Presiden Joko Widodo mengungkapkan keinginannya untuk menempatkan beberapa orang asing memimpin BUMN supaya 'orang-orang kita belajar serta termotivasi dan berkompetisi'.

Wacana ini menimbulkan pro-kontra di media sosial: yang tidak setuju menilai masih banyak warga Indonesia yang kompeten, tapi yang mendukung mengatakan itu sah-sah saja selama kontrol masih di tangan pemerintah.

Tapi ada hal lain yang menarik dalam pernyataan Jokowi sebagai kepala negara, yaitu penggunaan kata 'bule' dalam forum resmi.

"Saya bahkan ingin ada tiga atau empat bule profesional yang memimpin perusahaan BUMN agar orang-orang kita belajar serta termotivasi dan berkompetisi," katanya dalam jamuan santap siang bersama pemimpin redaksi nasional di Istana Merdeka Jakarta, Selasa (03/01) lalu.

Kata 'bule' biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari, tapi jarang dalam forum-forum resmi atau dokumen formal.

Chis Holm, warga Selandia Baru yang tinggal di Indonesia selama 13 tahun mengatakan merasa terganggu ketika kata bule digunakan dalam konteks-konteks tertentu, misalnya ketika orang di jalan terlalu sering berteriak 'bule, bule!'.

"Saya bisa sangat terganggu, tapi kata 'bule' tidak berarti sangat negatif. Mereka tidak bermaksud buruk, kadang mereka hanya melakukannya untuk membuat Anda menyapa mereka," katanya.

Hak atas foto Agung Parameswara / Getty
Image caption Turis berfoto dengan latar sawah di Indonesia.

Dalam konteks Jokowi, Chris mengaku tidak merasa tersinggung bahwa kata gaul itu digunakan di forum resmi. "Saya mengerti konteksnya, jadi tidak merasa tersinggung. Saya juga mengerti dia adalah presiden yang sering menggunakan kata yang tidak formal untuk menjelaskan maksudnya," katanya.

Tapi sebagian lain menganggap tidak terlalu menyukai kata ini karena dianggap memiliki arti yang agak menghina. Tom Pepinsky, analis Asia Tenggara di Cornell University, Amerika Serikat, dalam ulasannya menulis bahwa kata bule kini memiliki makna yang mirip dengan 'whitey' dalam bahasa Inggris Amerika, atau juga mirip dengan penggunaan kata gwai loh di Hong Kong, ang mo di Singapura, mat salleh di Malaysia dan farang di Thailand "yang tidak begitu diterima oleh komunitas targetnya."

Mengganti kata 'Tuan'

Tapi apa sebetulnya makna bule? Dalam bahasa Indonesia, kata itu diambil dari 'bulai' yang dalam KBBI berarti 'putih seluruh tubuh dan rambutnya karena kekurangan pigmen'.

Namun, 'bule' baru digunakan untuk menunjuk 'orang asing yang berkulit putih' pada sekitar tahun 1960-an. Dan orang kulit putih sendirilah, pemikir dan peneliti tentang Indonesia almarhum Benedict Anderson yang mengklaim mempopulerkan makna itu.

Hak atas foto Three Lions / Getty Images
Image caption Jawa, sekitar tahun 1940: orang-orang Belanda bersantap di meja makan dengan para pramusaji di belakangnya.

Ketika itu, sebutan lazim yang digunakan 'bangsa (bekas) jajahan' untuk orang kulit putih adalah 'Tuan', yang dianggap sangat kolonial. "Dan untuk Ben yang sangat pro-Indonesia, sangat mendalami budaya Indonesia, kata Tuan sangat tidak mengenakkan," kata Ronny Agustinus, penerjemah buku autobiografi Ben berjudul Hidup di Luar Tempurung.

"Sehingga dia perpikir untuk cari istilah lain yang lebih pantas untuk orang kulit putih. Dan menurut dia, bahasa Indonesia sudah punya kata itu, yaitu bulai. Ben mengklaim dia yang mempopulerkan dan bahkan mengklaim dia yang pertama kali pakai," jelas Ronny.

Seperti dalam buku autobiografinya, peneliti asal Irlandia ini menulis, "Jadi saya mengatakan pada teman-teman muda saya bahwa saya dan orang yang terlihat seperti saya sebaiknya dipanggil bule, bukan putih. Mereka suka ide itu dan menyebarkannya ke pelajar-pelajar lain. Secara bertahap, penggunaannya meluas ke surat kabar dan majalah hingga itu menjadi bagian dari bahasa keseharian Indonesia."

Adakah yang merasa terhina dengan panggilan itu? Ada, dan begini reaksi Ben:

"Saya sangat terhibur, lebih dari 10 tahun kemudian, ketika kolega berkulit putih asal Australia menulis surat pada saya mengkritik bagaimana rasisnya orang Indonesia dan bagaimana dia benci dipanggil bule. Jadi saya meminta padanya untuk melihat kulitnya sendiri di depan cermin dan melihat apakah dia benar-benar ingin dipanggil Tuan."

Hak atas foto J. B. Van Der Kolk
Image caption Sekitar tahun 1955, pasukan Belanda di Indonesia.

Tapi Ronny mengatakan ada beberapa sejarawan lain yang tidak setuju atas klaim Benedict Anderson itu.

Salah satunya Tom Pepinsky seorang pakar Asia Tenggara yang menemukan bahwa penggunaan kata bulai atau bule untuk merujuk 'orang kulit putih' sudah digunakan setidaknya satu dekade sebelumnya.

"Tom menemukan klaim itu tidak tepat. Mungkin Ben berjasa mempopulerkan, tapi sebelum 1962-an sudah ada tulisan dan dokumen yang mengunakan kata itu," kata Ronny.

Jadi apakah kata 'bule' rasis?

Tidak, jika dilihat dari kacamata Benedict Anderson. "Dia melihat justru yang rasis itu ketika bangsa pribumi menyebut kulit putih dengan sebutan 'Tuan'. Sebutan bule buat dia lebih bersahabat, lebih egaliter. Saya pikir kata bule itu juga tidak rasis dan justru memperkaya bahasa, kecuali memang kalau digunakan untuk memaki orang asing beda konteksnya," sambung Ronny yang juga mendirikan perbitan Marjin Kiri.

Berita terkait