Victoria and Abdul: Mengungkap hubungan Ratu Inggris dan pemuda Muslim yang ditutupi

abdul karim
Image caption Abdul Karim menjadi dekat dengan Ratu Victoria setelah menjadi pembantu dan 'munshi' (guru).

Film Victoria and Abdul mengungkap hubungan dekat Ratu Inggris dengan pembantunya, Abdul Karim, pria Muslim India, yang menjadi kontroversi dan ditutupi selama lebih 100 tahun.

Film yang mulai diputar di Inggris sejak pertengahan September ini disebut penulis bukunya, Shrabani Basu, terdengar "seperti fantasi" namun mengisahkan fakta yang terjadi pada lebih 10 tahun terakhir kehidupan Ratu Victoria.

Basu -penulis yang tinggal di London- memperbarui bukunya pada 2011 berdasarkan jurnal yang ditemukan lebih dari 100 tahun setelah Ratu Victoria meninggal pada 1901.

Abdul Karim berusia 24 tahun saat tiba di Inggris dari Agra untuk melayani Ratu Victoria pada perayaan naik takhta "golden jubilee" pada 1887.

Hanya dalam waktu satu tahun, pemuda Muslim ini menjadi tokoh penting di kerajaan dan menjadi guru Ratu Victoria atau mushi yang mengajarkan ratu bahasa Urdu, memasak kari dan memperkenalkan mangga serta kisah-kisah tentang India.

"Cerita ini bukan fiksi, ini fakta. Apa yang ditunjukkan di film, bukan didramatisir... Ini terjadi. Ratu Victoria belajar bahasa Urdu, ia ingin mangga dan dia membela Abdul Karim. Terdengar fantasi, namun tidak," kata Basu kepada Time.

Dibakar dan dihapus

Hak atas foto CHRISTOPHER ISON/ENGLISH HERITAGE
Image caption Abdul Karim dipecat oleh putra Ratu Victoria, Edward VII tak lama setelah pemakamannya pada 1901.

Basu juga mengatakan yang terpenting adalah kisah ini akhirnya diangkat.

"Kisah ini yang dicoba dihapus (oleh Inggris). Sangat penting untuk diangkat. Ratu Victoria belajar bahasa Urdu selama 13 tahun, itu penting, khususnya karena banyak terjadi rasisme terjadi banyak sentimen anti-Muslim" tambahnya.

Hubungan Ratu Victoria dan Abdul dianggap sangat kontroversial oleh anggota keluarganya sehingga semua dokumennya dibakar.

Menurut The Telegraph, putra Ratu Victoria, Edward, langsung meminta surat apa pun terkait Ratu dan Abdul dibakar. Abdul dan keluarganya juga diusir dari rumah yang diberikan ratu kepadanya dan dia dikirim balik ke India.

Putri Victoria, Beatrice, menghapus dan membuang semua acuan terhadap Abdul di jurnal-jurnal Ratu.

Selama lebih dari 100 tahun, dokumen-dokumen ini tak berbekas sampai ditemukan oleh Basu yang melihat ada petunjuk di kediaman musim panas zaman Ratu Victoria, dan meneliti lebih lanjut hubungannya dengan Abdul.

Cemburu dan rasis

Lalu mengapa hubungan ini dianggap sangat kontroversial?

Menurut pakar sejarah, keluarga Victoria dan staf kerajaan memandang sebelah mata Abdul karena berasal dari India dan juga ditambah dengan kecemburuan mereka karena Ratu memperlakukan gurunya secara istimewa.

Abdul diajak ke Eropa, mendapat gelar, duduk di tempat khusus saat jamuan, dan sering mendapat hadiah.

Ratu juga memperlakukan khusus keluarganya dan membantu ayah Abdul mendapat pensiun serta meminta pers menulis tentangnya.

Abdul adalah satu-satunya pembantu yang masuk ke lingkaran dalam ratu sejak kematian ajudan asal Skotlandia, John Brown, yang banyak membantunya sejak suami Ratu, Pangeran Albert, meninggal.

Sejarawan Carolly Erickson dalam bukunya Her Little Majesty menulis, "Bagi orang India berkulit gelap dan disejajarkan dengan pembantu kulit putih ratu merupakan satu hal yang tak bisa diterima, duduk di satu meja bersama mereka, dan bersama-sama dalam kehidupan sehari-hari merupakan suatu penghinaan."

Sekretaris pribadi ratu, Fritz Ponsonsby, dalam satu suratnya yang berisi protes terkait Abdul menulis, "Ratu mengatakan yang terjadi adalah berprasangka karena rasis, dan bahwa kami cemburu dengan Munshi."

Secara khusus diminta ratu

Hak atas foto Getty Images
Image caption Shrabani Basu, penulis buku Victoria and Abdul dalam peluncuran film di Toronto, Canada.

Shrabani Basu mengungkap persahabatan antara Ratu dan Abdul setelah berkunjung ke kediaman musim panas Ratu dan menulis buku Victoria & Abdul: The True Story of the Queen's Closest Confidant.

Basu menulis saat itu Ratu menginginkan staf dari India untuk membantu jamuan makan malam untuk para kepala negara.

Abdul, putra seorang staf rumah sakit di Agra, India, merupakan salah seorang dari dua pembantu yang dipilih.

Shrabani Basu mengatakan hubungan Ratu Victoria dan Abdul lebih seperti hubungan ibu dan anaknya.

"Dalam surat-suratnya (kepada Abdul) selama bertahun-tahun setelah ia tiba di Inggris sampai kematiannya pada 1901, ratu menandatangani surat dan menyebut sebagai "ibu yang mencintaimu" dan "rekan dekatmu," kata Basu kepada BBC pada saat peluncuran buku yang sudah diperbarui pada 2011.

"Di surat-surat lain, ia menambah tanda ciuman- sesuatu yang sangat jarang terjadi pada saat itu."

Hubungan inilah yang membuat marah anak-anak Ratu Victoria.

"Kisah cinta menakjubkan"

Hak atas foto CHRISTOPHER ISON/ENGLISH HERITAGE
Image caption Tulisan Urdu Ratu Victoria yang dipamerkan setelah peluncuran film Victoria and Abdul.

"Pada saat Kerajaan Inggris pada puncak keemasan, seorang pemuda Muslim menduduki posisi penting di kerajaan," tambahnya.

Perasaan marah kepada Abdul ini terlihat dengan dipecatnya Abdul oleh putra ratu, Edward VII, hanya beberapa jam setelah pemakaman.

Namun upaya Basu berhasil melacak buku harian yang masih disimpan anggota keluarga di India dan Pakistan, sejak Abdul meninggal pada 1909. Buku harian ini mengisahkan 10 tahun hidupnya di Inggris.

Buku harian dan jurnal lainnya dibawa Abdul dan keponakannya Abdul Rashid ke India setelah mereka dipecat. Mereka pindah ke Pakistan 40 tahun kemudian saat terjadi perpecahan.

Seorang anggota keluarga Abdul membaca tentang buku Basu di surat kebar Pakistan dan memberitahukannya tentang berbagai catatan yang masih tersimpan di Karachi.

"Saya cukup beruntung dapat mengungkap kisah cinta menakjubkan ini," kata Basu.

Film Victoria and Abdul sendiri mendapatkan berbagai tanggapan.

"Sangat senang akhirnya cerita ini terungkap di balik upaya untuk menyembunyikannya," kata salah seorang pengguna Tori‏ @torilouiseclare melalui Twitter Victoria and Albert.

"Saya tak pernah menangis saat nonton film namun film ini membuat saya emosional," kata pengguna lain Gabriel‏ @gabrielcooper13.

Tetapi tak sedikit yang menyebut film ini sama sekali tak mengangkat penderitaan akibat kolonialisme Inggris di India.

"Film ini perlu diboikot. Kebohongan. Inggris membunuh jutaan orang di India dari berbagai agama," tulis Jay Bhatti.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Pemeran Victoria and Abdul, Ali Faizal dan Judi Dench.

Topik terkait

Berita terkait