Tiga 'observasi' dari pidato Anies Baswedan yang mengangkat istilah 'pribumi'

anies baswedan
Image caption Anies Baswedan dilantik menjadi gubernur DKI Jakarta untuk periode 2017-2022.

Tiga observasi yang diangkat seorang profesor di Amerika Serikat terkait pidato Anies Baswedan yang mengangkat kata 'pribumi' mencakup pengamatan bahwa pidato itu layaknya pidato seorang presiden.

Anies Baswedan dalam pidatonya sebagai gubernur baru DKI Jakarta menyatakan, "Dulu kita semua pribumi ditindas dan dikalahkan. Kini telah merdeka, kini saatnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

"Jangan sampai Jakarta ini seperti yang dituliskan pepatah Madura. Itik telor, ayam singerimi. Itik yang bertelor, ayam yang mengerami." Pidato yang langsung menuai pro dan kontra dan dicuitkan lebih 140.000 kali melalui Twitter sampai Selasa (17/10).

Kata pribumi ini disinggung Anies dalam konteks apa yang ia sebut kolonialisme, "Rakyat pribumi ditindas dan dikalahkan oleh kolonialisme. Kini telah merdeka, saatnya kita jadi tuan rumah di negeri sendiri."

Anies Baswedan dan wakilnya Sandiaga Uno terpilih setelah mengalahkan petahana Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dan Djarot Syaiful Hidayat, dalam Pilkada DKI 2017 yang panas dan diwarnai kasus hujatan agama yang menimpa Ahok.

Image caption Spanduk dengan pesan seperti ini dipajang di Balai Kota Jakarta.

Pidato Anies ini, menurut Tom Pepinsky, dosen perbandingan politik program Asia Tenggara, Universitas Cornell, Amerika Serikat memiliki tiga kajian penting:

1. Kolonialisme masih penting

Image caption Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam pelantikan Anies Baswedan dan Sandiago Uno.

Anies mampu mengangkat pesan politik yang merupakan dampak sosial ekonomi dari kolonialisme. "Anies (atau penulis pidatonya) percaya bahwa pesan ini masih bergema, dan menurut pandangan saya, ia benar," kata Pepinsky.

Sri Eko Wardani, pengamat politik dari Universitas Indonesia, menganggap komentar terkait kolonialisme terlalu jauh bila dibandingkan dengan Jakarta, namun menyebut pidato Anies sebagai gubernur baru jauh dari perkiraan banyak orang.

"Dalam konteks Jakarta saya tak melihat sejauh itu... Dalam bayangan kita, bagaimana gubernur baru Jakarta dalam pidatonya bisa merangkul semua kepentingan dan keragaman di Jakarta, itu bayangan kita... Tapi dalam pidato mengucapkan kata seperti itu, memang tendensius karena kata pribumi yang diucapkan dan mengambil konteks kolonialisme.

2. Ini pidato presiden bukan gubernur

Image caption Presiden Joko Widodo bertemu dengan Prabowo Subianto yang juga hadir dalam pelantikan Anies-Sandi.

"Pidato ini seperti layaknya seorang calon yang menyiapkan diri untuk pemilihan presiden 2019 dan menempatkan Jakarta sebagai pusat politik dan menempatkan dirinya sendiri sebagai politisi nasional.

"Dalam bagian lain pidatonya, ia juga mengutip peribahasa daerah dari seluruh Nusantara (Aceh, Batak, Banjar, Madura, Minahasa, Minang) dan mencoba menunjukkan ke setiap daerah Indonesia, dan mengatakan 'saya juga berbicara kepada Anda'," tulis Pepinsky.

Sri Budi Eko Wardani yang biasa dipanggil Dani menyatakan sepakat dengan pendapat Pepinsky namun konteks bahasa daerah yang digunakan Anies disebut sebagai upayanya "menghargai keragaman Jakarta".

"Dia menggunakan bahasa daerah karena Jakarta adalah melting pot (pembauran)... Mungkin ini dianggap supaya dia dianggap menghargai keragaman di Jakarta," kata Dani.

Namun ia menyebut pidato Anies bukan pidato kerja namun politis.

"Sepengetahuan saya, pelantikan gubernur di seluruh Indonesia tak ada pidato yang sepolitis ini dan menimbulkan interpretasi macam-macam. Biasanya pidato (gubernur baru) tentang apa yang akan ia kerjakan dalam lima tahun ke depan dan memenuhi janji-janjinya dan minta diawasi apabila melenceng dari yang ia janjikan."

3. Setiap orang Indonesia yang mendengar pidato ini akan mengerti bahwa targetnya adalah etnik Cina Indonesia

"Secara khusus, pidato ini mengaitkan Cina Indonesia dengan masa lama kolonial dan peninggalannya dalam politk sehari-hari," tulis Pepinsky.

Pribumi mengacu pada keturunan pendatang asing: Cina, Arab, India, Eropa dan yang lainnya.

"Anies tampaknya lupa bahwa ia sendiri adalah keturunan Hadrami. Atau mungkin, ia tidak lupa sama sekali namun ia tahu bahwa elite kaya Arab Indonesia tidak pernah mengalami diskriminasi seperti yang dihadapi etnik Cina Indonesia di kota-kota seperti Jakarta," tulis Pepinsky.

Menanggapi hal ini, pengamat dari UI, Dani mengatakan gubernur baru Jakarta ini "membuat sekat baru."

Hak atas foto Sri Budi Eko Wardani
Image caption Pengamat politik UI Sri Budi Eko Wardani menyebut pidato Anies "tendensius".

"Jakarta ini sudah sangat kota megapolitan yang dibangun dengan keberagaman dan kata pribumi yang diucapkan di situ, orang langsung me-refer (mengacu) ke Pilkada DKI kemarin dengan gubernur yang dikalahkan adalah etnik Tionghoa dan ada segregasi kelompok etnik dan kelompok pribumi yang memang pada masa kolonial digunakan oleh pemerintah penjajah untuk memecah belah," kata Dani.

"Ini seperti tak sensitif dengan konteks pilkada yang baru saja dilalui... Bagi pemilih Basuki mereka masih menanti apa yang akan dikerjakan gubernur baru. Ini seolah kemudian membuat sekat baru, ini dari awal kok sudah kurang simpatik," tambah dosen politik di FISIP UI ini.

Lebih lanjut Dani menyebut pidato Anies Baswedan merupakan "pidato politik dan bukan pidato kerja gubernur baru dan bahkan justru memunculkan kata pribumi sehingga asosiatif (dikaitkan) dengan isu SARA yang muncul pada saat pilkada (lalu).

Tom Pepinsky sendiri dalam blog yang diterbitkan Selasa (17/10) menyebutkan sulit untuk memprediksi konsekuensi pidato ini bagi Jakarta dan politik di Indonesia.

Ia juga menulis bahwa dalam pelantikan Anies ini, kata-kata "pribumi nonpribumi masih hidup dan berjalan dalam politik Indonesia dan bahwa seorang politikus terkemuka mengeksploitasi ini adalah politik yang lihai."

Menjawab komentar unggahannya di Twitter terkait pidato Anies ini, Pepinsky menjawab, "Ini sangat jelas anti-Cina dalam praktiknya."

Topik terkait

Berita terkait