Dari Arab sampai Indonesia, kekerasan seksual yang dituangkan lewat #MeToo

Alyssa Milano Hak atas foto Reuters
Image caption Aktris Alyssa Milano meminta korban pelecehan serta kekerasan seksual untuk maju.

Perempuan dan laki-laki yang mengalami kekerasan seksual dari seluruh dunia telah membagikan kisah mereka di media sosial menggunakan tagar "me too" (saya juga) untuk menunjukkan betapa besarnya skala kekerasan seksual yang terjadi.

Tagar ini dibuat menyusul berbagai tuduhan pemerkosaan yang diduga dilakukan oleh produser Hollywood Harvey Weinstein.

Puluhan perempuan - termasuk aktris Angelina Jolie, Gwyneth Paltrow dan Rose McGowan - telah menuduh Weinstein melakukan pemerkosaan dan kekerasan seksual. Weinstein berkeras bahwa hubungan seksual yang terjadi atas dasar suka sama suka.

Sejak tuduhan itu muncul ke permukaan, banyak figur publik menggunakan media sosial untuk menyoroti masalah kekerasan seksual yang terjadi, dan sebagian mengungkap secara detail kekerasan seksual yang mereka alami.

Tagar populer terbaru #MeToo sudah digunakan lebih dari 200.000 kali sejak Minggu (15/10) malam. Tagar tersebut mendapat momentum setelah aktris Alyssa Milano meminta korban kekerasan seksual untuk maju sebagai tanda solidaritas.

Sejumlah penyanyi, aktor dan aktris menanggapinya, termasuk Debra Messing dan Anna Paquin.

Banyak pengguna media sosial lain membagikan kisah mereka akan kekerasan seksual yang terjadi. Seorang pengguna Twitter yang tak ingin disebut namanya mengunggah, "Saya masih 19. Dia mencekoki saya dengan alkohol, memaksa untuk mencium dan memegang dada saya. Saya menyalahkan diri saya karena mabuk. #MeToo."

Para pria yang dilecehkan

Laki-laki dan kelompok transgender juga menyuarakan dukungan mereka terhadap kampanye tersebut, termasuk aktor dan penyanyi Javier Munoz, dan pria lain yang juga membagikan pengalaman mereka.

Cortney Anne Budney menggungah di Facebook: "Saya juga berlaku pada pria. Jangan lupakan para pria dan anak laki-laki. Kisah "me too" mereka sama pentingnya dan sering tersembunyi."

Penulis Charles Clymer, yang juga menjadi korban pemerkosaan, menulis di Facebook untuk mengunggah pandangannya. Meski laki-laki dan perempuan mengalami kekerasan "ada komponen misoginistis yang khusus dalam budaya pemerkosaan".

"Tak apa untuk mengambil waktu sejenak untuk menyoroti misogini secara khusus dan menguatkan suara para perempuan," tulisnya di he posted on Facebook.

Meski tagar #MeToo populer di seluruh dunia - termasuk di Inggris, AS, India dan Pakistan - tagar lain pun juga ikut muncul, seperti di Prancis dengan tagar #balancetonporc atau "ungkap pria tua kotormu" dan #Womenwhoroar adalah istilah lain yang digunakan untuk mendorong korban kekerasan seksual untuk mulai berbicara.

#MeToo di Indonesia

Di Indonesia, beberapa pengguna media sosial juga ikut menggunakan tagar ini, salah satu yang menggunakan tagar tersebut adalah aktivis perempuan Helga Worotitjan.

Sebagian besar memilih untuk tak merinci pengalaman mereka karena tak sanggup, meski ada juga yang merasa cukup kuat untuk membagikan kisah mereka.

Meski begitu, seorang pengguna Facebook menyatakan pendapat lain akan 'efektivitas' tagar ini dalam menyoroti meluasnya kasus kekerasan seksual.

"Mengapa beban mengakui dan membuat penyadaran publik itu masih ada di pundak kita perempuan para korban. Mbok ya o sekali-kali ada dari para lelaki ngaku gitu... Soalnya perempuan cenderung tidak dipercaya, kalau yang laki mengaku saja mungkin trauma perempuan tidak perlu terekspos berkepanjangan," katanya.

Namun, beberapa akun media sosial organisasi yang bergerak di bidang gender dan mengatasi kekerasan seksual juga menggunakan tagar tersebut, seperti Komnas Perempuan, Yayasan Pulih, Lentera Indonesia dan Gerakan Laki-laki Baru.

Mereka ikut menggunakan tagar tersebut untuk mendorong pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual yang baru dimulai pembahasannya di DPR bersama dengan pemerintah pada akhir September lalu.

RUU ini dimasukkan ke program legislasi nasional pada Februari 2017.

Bagi Shera Rindra, seorang penyintas yang pernah mengalami kekerasan seksual di masa muda, unggahan di media sosial menggunakan tagar 'Me Too' oleh pengguna asal Indonesia memang banyak yang belum mengisahkan secara detail tentang bentuk kekerasan yang mereka alami jika dibanding dengan pengguna asal Amerika Serikat, misalnya.

Dalam pandangannya, 'keterbatasan' cerita itu tak lepas dari dari anggapan tabu saat bicara soal kekerasan seksual dan kekhawatiran korban untuk mendapat stigma.

"Wajar ketika teman-teman mengambil langkah yang lebih aman," kata Shera.

Hak atas foto ONE BILLION RISING
Image caption Shera Rindra kini aktif melakukan pendampingan terhadap perempuan yang menjadi korban kekerasan.

Namun dia merasa kampanye lewat tagar Me Too itu tetap bisa menjadi hal yang efektif, karena, "Paling tidak kita bisa mulai bicara tentang kekerasan seksual. Kita juga sudah mulai bisa bicara soal pengalaman, paling tidak untuk menyatakan diri bahwa 'Saya juga pernah mengalaminya'. Dan yang lain juga ini memberitahu penyintas kekerasan seksual yang lain bahwa mereka tidak sendirian. Kemudian juga menggambarkan bahwa kekerasan seksual bisa terjadi pada siapa saja, tidak melihat jenis kelaminnya."

Perempuan Arab

Tagar Me Too pun dipakai oleh perempuan-perempuan Arab yang membagikan kisah pelecehan yang mereka alami, seperti Mona Seif dari Mesir yang mengatakan bahwa dia tidak tahu teman perempuan yang tidak pernah dilecehkan di jalanan Mesir.

Dia sendiri bercerita bahwa pengalamannya dilecehkan sudah terjadi sejak dia berusia 9 tahun, ketika seorang asing menggendongnya, menyentuhnya dan memaksa menciumnya. Meski di sekitarnya ada kafe dan tempat penyewaan video, namun tidak ada yang menghentikan aksi pria tersebut.

Beberapa dari para perempuan Arab tersebut juga menegaskan bahwa pakaian dan menutup badan tidak akan mencegah terjadinya pelecehan atau kekerasan seksual terhadap mereka. Seperti yang dicuitkan oleh akun @SaraHegazi_, "Hijabi, menutup kepala dan tubuh saya dengan sebanyak mungkin pakaian. Tetap tidak mempan. #MeToo"

Topik terkait

Berita terkait