Selfie bersama hewan, mengapa bermasalah bagi orang dan binatang?

selfie Hak atas foto VANO SHLAMOV/Afp/Getty Images

Belakangan ini, selfie atau swafoto bersama hewan hadir sebagai tren di media sosial dengan kenaikan tajam.

Dalam tiga tahun terakhir, swafoto yang diunggah ke Instagram meningkat 292% menurut penelusuran lembaga World Animal Protection yang dirilis Oktober. Lebih dari 40% swafoto tersebut memperlihatkan manusia ''memeluk atau berinteraksi secara tak wajar dengan hewan liar''.

Namun, di balik foto-foto lucu yang diambil bersama hewan ada persoalan yang kini disoroti pemerhati satwa.

BBC Indonesia merangkum segala hal yang perlu diketahui tentang swafoto bersama hewan — populer juga disebut sebagai #animalselfie.

1. Mengapa satu jepretan selfie bisa menyakiti hewan?

Sama seperti manusia, hewan juga dihinggapi stres, kata ketua Profauna Indonesia Rosek Nursahid. ''Hewan punya fase-fase saat mereka tidak mau berinteraksi secara fisik dengan siapapun, termasuk dengan manusia.''

Saat wisatawan membayar, demi satu-dua jepretan foto dan interaksi langsung dengan hewan liar seperti orangutan atau beruang madu, menurut Rosek tanpa sadar kita "mencuri kebebasan satwa".

Saat swafoto bersama hewan, manusia cenderung "memaksa". Hewan jadi diposisikan sebagai objek foto seperti benda mati, sebab manusia akan mengambil sudut pandang sebagai manusia.

''Sebab tidak semua orang tahu bahwa satwa punya perasaan, merasakan sakit, serta punya keinginan untuk melakukan sesuatu menurut kemauan mereka. Itu sebabnya cara-cara seperti ini menjadi sebuah pendidikan yang tidak baik.''

Akumulasi stres pada hewan, imbuh Rosek, bisa menyebabkannya rentan sakit. ''Ketika sakit itu, ada implikasi yang lebih jauh. Bisa saja terjadi kematian.''

2. Transfer penyakit

Hampir di semua taman satwa dan kebun binatang di Indonesia ada aktivitas yang memperbolehkan interaksi fisik antara pengunjung dan hewan, kata Rosek.

''Interaksi fisik itu bisa dengan foto, memangku, menyentuh, memeluk satwa, tapi dengan balutan nama yang berbeda-beda. Ada yang mengklaimnya sebagai bagian dari edukasi, ada yang mengklaimnya bagian dari konservasi,'' ujarnya.

Apapun namanya, Profauna mengaku "sangat tidak setuju" ketika pengunjung dibiarkan berinteraksi langsung secara fisik.

Sebab, imbuh Rosek, tidak ada saringan yang memastikan bahwa orang yang berinteraksi bebas penyakit.

Pernah dengar penyakit zoonosis? Ini adalah penyakit yang ditularkan manusia ke hewan dan sebaliknya hewan ke manusia.

Lalu adakah cara yang tepat? Kata Rosek, menjadi relawan perawat hewan selama seminggu-dua minggu di mana warga belajar bagaimana cara merawat satwa dinilai lebih tepat.

''Kalau hanya membayar untuk berfoto, menyentuh, memeluk, dan menggendong, saya pikir kecenderungan yang terbesar ke arah komersial. Bukan edukasi atau konservasi.''

3. Gemas, ingin pelihara. Tapi tunggu dulu ...

Swafoto juga dinilai sebagai tren berbahaya. Interaksi langsung bukan bentuk edukasi yang baik, sebab kata Rosek beberapa orang tertarik dengan cara yang keliru.

''Wah, lucu ya. Menarik sekali ketika dengan manusia. Kalau begitu akan sangat bagus kalau saya pelihara di rumah. Ini yang kami khawatirkan,'' kata Rosek.

''Keinginan warga memiliki satwa liar menjadi binatang peliharaan cenderung kuat ketika kita selalu menunjukkan interaksi fisik dengan hewan liar.''

Menurut catatan Profauna, 95% satwa liar yang diperdagangkan di Indonesia ditangkap dari alam. Rantai perdagangan ini berawal ketika warga membeli hewan dari pedagang hewan liar, pedagang membeli dari para penangkap dan pengepul, kata Rosek. ''Artinya akan ada banyak satwa liar yang ditangkap dari alam untuk memenuhi napsu warga memelihara satwa di rumah.''

Hak atas foto STR/AFP/Getty Images
Image caption Foto ini diambil pada 4 Mei 2015. Kakaktua jambul kuning yang langka yang ditempatkan dalam botol air mineral disita dari penyelundup satwa liar.

4. Dicuri dari alam?

Proses menangkap, mengangkut hewan liar dari hutan menuju kota, menimbulkan stres dan kesakitan buat beberapa jenis satwa. Rosek mengatakan angka kematian tertinggi, mencapai 40% terjadi pada burung nuri dan kakaktua yang dicuri dari habitatnya kemudian diperdagangkan untuk hewan peliharaan.

''Nah, untuk beberapa jenis primata, kasusnya mereka mengambil hewan itu misalnya orangutan semasa masih anak-anak bahkan bayi. Tidak mungkin orang menjual orangutan dewasa, karena takut atau alasannya tidak lucu lagi,'' kata Rosek.

''Ketika mereka mengambil anak orangutan, mereka juga membunuh induknya. Sebab induknya akan mempertahankan anaknya sampai dia menemui kematian.''

Inilah tragedi di balik animal selfie yang getir, kata Rosek.

Hal serupa diungkapkan Dave Neale dari Animals Asia yang sedang mengumpulkan petisi untuk menghapus atraksi selfie bersama beruang madu di Bali Elephant Camp.

Di tempat tersebut, induk dan anak beruang madu bernama Ajib dan Marsha sehari-hari dipakai sebagai properti foto untuk menghibur wisatawan. Ajib diselamatkan dari perdagangan satwa liar dan sudah lebih dari satu dekade "dipekerjakan", kata Neale.

5. Hewan-hewan yang mati demi ambisi selfie

Dave menguraikan, di bulan Agustus 2017 seekor bayi lumba-lumba mati setelah terpisah dari induknya. Bayi lumba-lumba tersebut terjebak di perairan dangkal, kemudian diangkat dan dipindahtangankan ke sekelompok orang yang ingin berfoto bersama.

Beberapa foto diunggah ke internet, memperlihatkan lubang pernapasan lumba-lumba kecil tersebut tertutup saat orang silih-berganti memegangnya. Lumba-lumba itupun mati kehabisan napas.

Sebelumnya, di tahun 2016 dua merak mati ketakutan di taman margasatwa Cina setelah pengunjung menarik mereka untuk foto bersama, kemudian mencabut bulunya hingga hewan ini syok.

Kasus yang sama, kata Neale, terjadi juga pada sloth. Hewan yang pada dasarnya damai dan suka mencari ketenangan untuk bertahan hidup tersebut begitu diambil dari alam cenderung jadi objek kontak manusia secara berulang. Akibatnya mereka gelisah dan stres, sehingga hewan ini sulit bertahan lebih dari enam bulan.

Di Indonesia, lanjut Neale, ada bayi orangutan bernama Michael yang dipakai sebagai objek swafoto wisatawan di Taman Satwa Kandi, Sumatera Barat, dan sirkus lumba-lumba keliling yang juga memakai lumba-lumba sebagai objek foto bersama wisatawan usai atraksi yang 'kejam'.

Dan, daftar panjang kematian hewan akibat ambisi selfie pun berlanjut ....

Saatnya menyetop, kata Dave.

Jika 'animal selfie' semacam ini disebut buruk, adakah 'animal selfie' yang baik?

Kata Rosek ada. ''Saat itu dilakukan dengan jarak yang aman, hewan berada di habitat alamnya, dan tidak berada di wilayah tangkapan. Itu baru disebut selfie yang baik.''

Rosek mencontohkan, di Jawa wisatawan bisa pergi ke Taman Nasional Baluran di Situbondo dan berfoto saat ada rombongan rusa melintas di latar belakang. ''Kita bisa berfoto tanpa mengganggu aktivitas rusa, itu sesuatu yang menurut saya luar biasa. Menunjukkan kita pergi ke alam, bahwa di alam itu tempat hidupnya satwa.''

Topik terkait

Berita terkait