Anak SD yang dibully dengan kata-kata 'dasar Ahok', ekses Pilkada DKI Jakarta

JSB Hak atas foto LBH Ansor
Image caption JSB (tengah) telah dibawa ke Polsek dan pihak keluarga ingin diselesaikan secara kekeluargaan.

Seorang anak Sekolah Dasar di Jakarta Timur yang dibully dengan kata-kata 'dasar Ahok' karena fisiknya disebut kuasa hukum dari LBH Ansor sebagai ekses Pilkada DKI Jakarta.

JSB, sempat tak masuk sekolah selama dua minggu karena takut untuk datang ke sekolah setelah telapak tangannya ditusuk oleh rekannya.

Unggahan pamannya di Facebook yang menulis, keponakannnya "satu satunya anak yang beragama Kristen Katolik di kelasnya, Allah menciptakan dia dengan mata yang sipit dan putih, hingga dia mengalami bully, kekerasan, yang sangat keji oleh teman temannya," menjadi viral.

Namun Achmad Budi Prayoga dari LBH Ansor, badan bantuan hukum Gerakan Pemuda Ansor, gerakan kemasyarakatan pemuda yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama, menyatakan kasus ini tak bernuansa SARA dan murni kenakalan anak-anak.

"Bullying ini murni dilakukan oleh anak yang memang masih polos, tidak ada sentimen SARA, jadi tidak ada unsur agama tak ada unsur kesukuan, ini kenakalan biasa anak-anak SD. Tapi yang perlu diperhatikan adalah pelaku pendidikan dan Kementerian Pendidikan harus menekankan edukasi tentang nilai-nilai kebhinekaan nilai nilai toleransi sejak sekolah dasar sampai menengah," kata Achmad kepada BBC Indonesia.

Keragaman di sekolah

"Ini kan ekses dari media sosial di bidang politik di mana anak-anak SD sudah melek sosial media, jadi ekses politik Pilkada (DKI Jakarta) lalu jadi punya pengaruh anak-anak sekarang. Tapi tak ada sentimen agama," tambahnya.

Sebastian, menurut informasi yang digali oleh LBH Ansor dan KPAI, sering dipanggil Ahok sejak dia kelas satu SD karena bentuk fisiknya.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia, KPAI - yang telah mengunjungi sekolah di Jakarta Timur- juga menyerukan evaluasi di sekolah-sekolah.

"Ahok pada saat itu (dua tahun lalu) secara pemberitaan adalah gubernur yang positif, diidolakan. Ketika pasca-Pilkada, panggilan Ahok sepertinya bergeser makna, jadi anak ini dipanggil Ahok kalau dia iseng. Nah kalau dia jahil dia dipanggil 'Dasar Ahok'. Tampaknya bully yang dimaksud ini," kata Retno Listyarti, Komisioner KPAI bidang Pendidikan.

"Kasus ini dapat menjadi pembelajaran bersama bagi sekolah maupun Dinas Pendidikan untuk evaluasi menyeluruh, tidak hanya di sekolah tempat ananda SB bersekolah tapi seluruh sekolah di semua jenjang pendidikan untuk membangun Sekolah Ramah Anak (SRA) dan memperkuat nilai-nilai kebangsaan serta menyemai keragaman," tambahnya.

Retno mengatakan ia melihat ada unsur keragaman di sekolah dasar dan kasus Sebastian tidak menyangkut agama dan etnis.

Sementara Achmad mengatakan pihak keluarga memilih untuk menyelesaikan masalah bully ini secara kekeluargaan namun Sebastian memilih untuk pindah sekolah karena trauma.

"Sebastian mengalami bullying sejak kelas 1 SD. Bullying sering dipanggil Ahok Ahok Ahok karena secara fisik mirip orang Cina, padahal keluarga Bastian berasal dari Nias bukan orang Tionghoa harusnya bullying dalam bentuk apapun terhadap suku apapun kan tidak diperbolehkan," kata Achmad.

Namun bullying ini berlanjut setelah Pilkada DKI Jakarta dengan petahana saat itu Basuki Tjahaja Purnama, dijerat dengan pasal penghujatan agama.

Kasus Mario dipukul anggota FPI

Hak atas foto LBH Ansor
Image caption Pengadilan empat terdakwa yang mengaku sebagai anggota FPI dan menempeleng Mario.

Kasus lain menyangkut ekses Pilkada DKI Jakarta lalu melibatkan Mario, anak 15 tahun yang dipukul oleh mereka yang mengaku sebagai anggota Front Pembela Islam, FPI, setelah mengunggah Rizieq Shihab di akun Facebooknya.

Pemimpin FPI Rizieq Shihab tak jelas keberadaannya dan belum kembali dari umrah setelah dijadikan tersangka pornografi yang melibatkan Rizieq dengan perempuan bernama Firza Husein.

Achmad dari LBH Ansor yang juga merupakan kuasa hukum Mario mengatakan empat orang saat ini tengah diadili di pengadilan negeri Jakarta Timur dengan dakwaan "penyiksaan" dan hukuman maksimal lima tahun penjara.

Saat kasus Mario ini merebak, Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas mengatakan 'perilaku FPI' yang menampar anak 15 tahun setelah unggahannya tentang Rizieq Shihab ini harus "dilawan" dan dilaporkan ke kepolisian.

Topik terkait

Berita terkait