Tangan tak bisa menekuk, YouTuber difabel Indonesia buktikan diri dengan tutorial rias wajah

Laninka Siamiyono Hak atas foto Instagram/HeyLaninka
Image caption Salah satu riasan wajah yang dipamerkan Laninka di platform media sosialnya.

Merias wajah adalah salah satu keterampilan yang sangat membutuhkan tangan cekatan. Namun bagi Laninka Siamiyono, seorang difabel dengan penyakit autoimun rheumatoid arthritis, memakai riasan wajah awalnya adalah suatu hal yang sulit karena 'sakit di sekujur tubuh' dan tangannya yang tak bisa menekuk. Lewat kanal YouTube-nya, dia menunjukkan bagaimana seorang difabel bisa tetap merias wajahnya sendiri.

Laninka, 27, tidak bisa menekuk sikut dan dua tangannya ke arah muka, padahal kemampuan ini penting untuk memakai riasan mata dan wajah secara keseluruhan.

"Mungkin ini agak terdengar aneh, pada kenyataannya penyakit yang aku derita ini membuat seluruh badanku menjadi kaku, dari sendi ke otot," kata Laninka saat dihubungi BBC Indonesia, Kamis (14/12).

Penyakit yang dimiliki Laninka menyebabkan radang pada sendi yang mengakibatkan rasa nyeri, kaku, dan bengkak di sendi. Dan yang paling sering terkena yaitu tangan, pergelangan tangan, kaki dan lutut.

Sudah 13 tahun terakhir Laninka menggunakan kursi roda karena penyakitnya, dan pada saat bersamaan, minatnya terhadap riasan wajah juga muncul.

"Pada satu titik, aku suka makeup tapi aku nggak bisa memakai itu ke diri sendiri tuh kayak, haduh mesti gimana ya. Kan nggak mungkin untuk selalu minta tolong orang untuk pakai eyeliner atau pakai alis. Karena kan semua orang punya kegiatannya sendiri," ujar Laninka.

Perlu tangan stabil

Akhirnya, dia melihat alat pukul dan pijat berbentuk tangan kecil milik ayahnya.

"Coba deh, cari tali, terus aku ikat brush (kuas), aku latih pelan-pelan gimana pakai foundation (alas bedak) sampai halus, kemudian gimana caranya nge-blending (mencampur) yang baik, pakai eyeshadow(pemulas mata) meskipun (kuas) diikat-ikat seperti itu," ujar Laninka.

Alat bantu itu merupakan bentuk adaptasi bagi Laninka agar bisa memakai sendiri riasan wajah "dengan cara berbeda, tapi tetap bagus".

Seperti halnya melukis, merias wajah sangat bergantung pada tangan yang stabil, namun juga hati-hati, untuk memastikan garis eyeliner yang digambarkan tampak lurus dan tidak berantakan, atau agar pulasan mata dan alis yang digambarkan tidak berlebihan.

Hak atas foto Youtube/Wheelchair Girl
Image caption Laninka menunjukkan caranya menggambar alis menggunakan pensil alis dan alat bantu.

Dan jika riasan yang dipasang berlebihan, tentu butuh gerakan kuas juga untuk membaurkan warnanya.

Laninka, yang suka menonton kanal tutorial riasan wajah di YouTube, tahu soal tingkat keahlian yang dianggap sebagai standar yang bagus dalam merias wajah. Maka dia menghabiskan 3-4 tahun untuk belajar memakai riasan wajah menggunakan alat bantu tongkat pijat milik ayahnya itu.

Laninka mengaku tak punya anggaran khusus untuk berbelanja alat rias, namun dia suka membeli pemulas mata.

"Aku lebih suka utak-atik warna ditempelin ke mata, aku akan lebih prefer (memilih) keluar uang lebih untuk beli eyeshadow daripada beli lipstik, maskara, blush (perona pipi), bahkan foundation," tambahnya.

Dalam video-video tutorial riasan wajah yang diunggah ke kanal YouTube-nya, Wheelchair Girl, memang terlihat bahwa fokus riasan wajah Laninka adalah sekitar mata dengan warna lipstik yang netral.

Laninka menunjukkan bagaimana caranya membuat riasan mata gaya smoky eye, dan dengan mengikatkan kuas eyeliner ke alat bantunya, dia juga menunjukkan bagaimana caranya menggambar winged eyeliner atau garis yang membentuk sayap di bagian kelopak dekat garis matanya.

Butuh sekitar 3-4 jam bagi Laninka untuk merekam satu video, lalu dia akan menyuntingnya sendiri, dan butuh dua hari sampai video tersebut diunggah. Biasanya dia akan mengambil waktu di akhir pekan untuk membuat video tersebut.

"Kebetulan aku masih butuh bantuan orang lain untuk membenahi segala macam, pakai kerudung, itu kan masih butuh bantuan orang lain. Dan orang rumah itu baru bisa weekend," Laninka menjelaskan.

Hak atas foto YouTube/Wheelchair Girl
Image caption Laninka menggambar garis di atas kelopak matanya menggunakan alat bantu dan kuas.

Berhak cantik dalam kondisi apapun

Kanal itu sudah dibuat oleh Laninka sejak dua tahun lalu, namun sebelumnya temanya lebih soal aktivitas keseharian. Baru pada 6-7 bulan terakhir dia mengunggah tutorial atau penilaiannya akan suatu produk riasan wajah.

"Dasarnya aku tuh memang suka banget sama makeup kan, beberapa teman yang non-difabel menganjurkan untuk sharing makeup di YouTube," dia memberi alasan.

Selain itu, Laninka juga terinspirasi dari menonton kanal YouTube tutorial riasan wajah milik Desi Perkins.

"Aku berpikir gini, setiap perempuan itu kan berhak untuk merasa cantik, dalam kondisi apapun. Beberapa teman-teman difabelku ini menganggap 'saya berbeda dan saya nggak berhak untuk merasa cantik' padahal kan kenyataannya nggak seperti itu. Dan orang-orang sekitar, masyarakat umum, dan beberapa brand-brand besar, belum melihat bahwa teman-teman difabel itu memilki skill makeup yang bagus dan setara dengan orang-orang yang non-difabel, yang handal," tambahnya.

Di tengah tuntutan agar kampanye produk kecantikan semakin melibatkan keragaman dalam bentuk tubuh, warna kulit, atau identitas gender para modelnya, tampaknya belum cukup banyak iklan produk kecantikan atau riasan wajah yang memunculkan model difabel.

Salah satu yang menonjol adalah Jillian Mercado, seorang model dengan distrofi otot, yang pada Maret 2016 lalu muncul untuk mengiklankan produk merchandise resmi bagi penyanyi Beyoncé.

Sampai saat ini, kebanyakan yang menonton kanal Laninka masih teman-temannya, namun untuk video yang menampilkan beberapa merek besar, ada lebih banyak penontonnya.

Sehari-harinya, Laninka berwirausaha. Dia menunda kuliahnya agar bisa fokus ke fisioterapi yang menjaga agar kondisi otot dan sendinya tidak mengecil atau kaku dan mempermudah fungsi geraknya.

Sekarang, Laninka bisa menggunakan riasan wajah dan beraktivitas karena rasa sakit dari penyakitnya sudah cukup menghilang. Setidaknya jika dibandingkan dengan 5-6 tahun sebelumnya, saat dia merasa sakit dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Disentuh...sakit, ngilu

"Kalau reumatis biasa yang diserang satu titik, di jempolnya saja dan sakitnya bukan main. Ini reumatis ekstrem, yang menyerang persendian di seluruh badan, jariku disentuh sama orang lain itu sakit, ngilu, linu. Fisioterapi itu ngebunuh juga sih sebenarnya karena digerakin pun sakit. Cuma mau nggak mau ya, kata dokter, obatku itu ya rasa sakitku sendiri. Itu yang harus dilawan," tambahnya.

Laninka mulai tertarik dengan riasan wajah saat berusia 16 tahun, tapi karena dia harus bergantung pada bantuan orang, maka dia tak rutin melakukannya.

Lewat salurannya itu, Laninka ingin "mensosialisasikan dunia disabilitas dengan cara yang berbeda".

"Kita tahu YouTube sering dibuka oleh anak-anak muda, dan aku secara pribadi belum melihat info disabilitas yang cukup kekinian," ujarnya.

Laninka mengaku tak terlalu memperhatikan jumlah pelanggan dan penonton di kanalnya, namun dia membaca komentar-komentar yang masuk. Dan seperti halnya di banyak platform media sosial lain, opini warganet tampaknya menjadi suatu keniscayaan.

Laninka menyatakan siap menghadapinya.

"Sebelum buat kanal YouTube, beberapa teman yang difabel sudah menguatkan aku secara mental, kan otomatis channel ditonton oleh bukan hanya teman-teman saja, tapi orang-orang lain yang pikirannya nggak bisa kita kontrol, jadi mau baik, mau buruk, itu sudah pasti, jadi dari akunya aja yang harus kuat mental," ujarnya.

Berita terkait