Polemik ijazah siswa SMA di Lamongan: Kenapa sampai minta bantuan Ahok?

Ilustrasi ujian nasional Hak atas foto AFP/Getty
Image caption Ilustrasi Ujian Sekolah Berstandar Nasional di sebuah SMA.

Seorang siswa SMA 3 Lamongan mengatakan bahwa ijazahnya sempat ditahan oleh pihak sekolah namun kemudian bisa diambil kembali setelah mengatakan bahwa Ahok akan membantu melunasinya. Namun Dinas Pendidikan Jawa Timur membantah soal insiden penahanan ijazah karena tunggakan siswa.

Siswi SMA Negeri 3 Lamongan, bernama FM itu menyatakan bahwa dia menuliskan tiga lembar surat untuk Ahok, selain berisi puisi dan dukungan, dia juga menceritakan situasinya yang tak bisa mengambil ijazah karena masih adanya tunggakan biaya administrasi di sekolah.

Kakak siswi tersebut, Rochima, kepada wartawan mengakui bahwa keluarganya masih memiliki tunggakan uang gedung sebesar Rp2 juta.

Surat FM itu kemudian dibalas oleh Ahok yang isinya memintanya untuk menghubungi stafnya, Natanel, untuk membantu mengurus ijazah.

Saat kasus ini pertama mencuat, banyak pengguna media sosial yang meragukan keberadaan SMA 30 Lamongan yang disebut sebagai sekolah siswa tersebut dan bahkan menyebut insiden ini sebagai hoax.

Namun kemudian diketahui bahwa sekolah yang dimaksud sebenarnya adalah SMA 3 Lamongan. Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Saiful Rachman, lewat cuitannya di akun @saifulrachman32 mengeluarkan pernyataan tentang kronologi pengambilan ijazah itu.

Menurut Saiful Rachman lewat pernyataannya, FM datang ke sekolah dengan wali murid untuk meminta nomor rekening sekolah dan rincian tunggakan sambil akan menunjukkan balasan dari staf Ahok yang menyatakan akan membantu melunasi tunggakannya.

Namun kepala sekolah, Wiyono, menolak membacanya dan mengatakan pengambilan ijazah bisa langsung dilakukan di bagian tata usaha, tanpa biaya.

Kepala sekolah kemudian mengantarkan FM dan wali murid untuk ke tata usaha, yang kemudian memberikan ijazah tersebut tanpa biaya, menurut pernyataan resmi Dinas Pendidikan.

Dinas Pendidikan menyatakan bahwa meski FM memiliki tunggakan, namun hal ini tidak menjadi alasan bagi sekolah untuk menahan ijazahnya karena sudah dianggap lunas. Dan bahwa ijazah tidak diberikan karena FM tak pernah datang ke sekolah sejak Mei 2017 untuk melakukan cap tiga jari untuk mengambil ijazah.

Cuitan dari akun @saifulrachman32 itu sudah disebar lebih dari 700 kali.

Pejabat sementara Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur cabang wilayah Lamongan Puji Astutik juga mengatakan dalam keterangan pers di kantor UPT Dinas Pendidikan Provinsi Jatim cabang Lamongan bahwa, "Yang ditebus itu enggak ada. Jadi ijazah itu tidak ditahan. Tidak boleh ada penahanan ijazah, enggak boleh. Yang ada itu, ada siswa yang belum mengambil ijazahnya."

Namun kepada wartawan, Rochima, kakak FM, mengatakan bahwa dia tetap ditagih biaya administrasi saat meminta ijazah adiknya meski mengambil ijazah gratis. Dan menurutnya ijazah baru diberikan secara gratis ketika dia membawa surat dari Ahok.

Yang buka suara (ijazah ditahan) sedikit

Insiden yang kemudian menjadi perdebatan di media sosial ini membuat warganet menyoroti lagi akan seberapa sering penahanan ijazah terjadi dan perlunya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk turun melakukan penyelidikan.

Pengamat pendidikan Darmaningtyas berpendapat bahwa praktik penahanan ijazah biasanya lebih sering ditemukan di sekolah-sekolah swasta, "karena biayanya mengandalkan dari murid, kecuali SMP, karena (SMP) swasta juga dapat BOS (Bantuan Operasional Sekolah)".

"Kalau di negeri yang (penahanan ijazah) itu jarang terungkap, karena tergantung pada si korban mau buka suara atau tidak. Karena yang buka suara itu sedikit, kita hanya bisa melihat (praktiknya) sedikit, tapi kalau swasta saya jamin, banyak," ujar Darmaningtyas.

Tapi kenapa Ahok yang dipilih sebagai sosok untuk membantu FM?

Menurut Darmaningtyas, ada 'kalkulasi pragmatis' yang dilakukan. "Kalau disebar di Lamongan, siapa yang mbaca, kan orang-orang Lamongan sendiri, belum tentu peduli. Kalau toh peduli, belum tentu berdampak pada tekanan publik dan termasuk pengumpulan dana untuk menebus ijazah. Tapi kalau saya mengirim ke Ahok, kan mungkin ada simpatisan-simpatisan, Ahokers yang peduli," ujarnya.

Topik terkait

Berita terkait