Perempuan yang jadi simbol protes Iran meski tak hadir di sana

Perempuan melambaikan kerudung putih Hak atas foto Unknown
Image caption Foto perempuan muda ini diunggah di media sosial sehari sebelum protes digelar.

Selama sepekan terakhir, Iran dilanda protes. Ribuan warga Iran turun ke jalan untuk berdemonstrasi melawan korupsi di pemerintah, tingkat pengangguran yang meningkat, dan ekonomi yang lemah.

Terlepas dari adanya pembatasan di media sosial, beberapa video dan foto-foto bisa terunggah secara online, termasuk foto-foto yang memperlihatkan demonstran merusak gedung-gedung dan ditembaki oleh tentara pemerintah.

Otoritas memblok akses ke Instagram dan aplikasi chat Telegram sebagai upaya mencegah demonstran membagikan foto dan video secara online, namun kemudian sudah banyak foto-foto yang tersebar.

Salah satu yang paling banyak dibagikan adalah foto seorang perempuan yang melepas jilbabnya dan melambai-lambaikannya di tongkat kayu sebagai aksi perlawanan terhadap aturan Islam. Meski gambar itu asli, namun foto tersebut tidak diambil dari protes yang kini terjadi.

Hak atas foto EPA
Image caption Demonstrasi ini adalah yang terbesar di negara ini sejak 2009.

Demonstrasi ini dimulai pada 28 Desember lalu di Mashad, kota terbesar kedua di negara itu. Pada hari-hari setelahnya, demonstrasi spontan itu kemudian pecah di banyak kota lain, dan demonstran menuntut akhir kekuasaan pemimpin Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Foto perempuan yang melambaikan jilbabnya itu pertama diunggah di media sosial sehari sebelum protes dimulai oleh Masih Alinejad, seorang jurnalis Iran yang tinggal di AS.

Alinejad adalah seorang aktivis hak perempuan dan pendiri dua kampanye media sosial My Stealthy Freedom dan White Wednesdays.

My Stealthy Freedom mendorong perempuan Iran untuk mengunggah foto dan video mereka yang tidak mengenakan jilbab di depan umum. White Wednesdays, yang dimulai pada 2017, mendorong perempuan untuk mengenakan pakaian putih setiap Rabu untuk memprotes aturan berpakaian yang ketat di Iran.

Alinejad mengunggah foto perempuan itu di -nya, dan menyebut aksi si perempuan itu adalah dalam rangkaian kampanye White Wednesday.

Pada hari yang sama gambar perempuan tersebut direkam di Jalan Enghelab yang ramai di Tehran, otoritas di ibu kota itu mengumumkan bahwa perempuan yang tidak mengenakan penutup kepala di depan umum tak akan lagi ditangkap.

Hak atas foto Reuters
Image caption Perempuan meneriakkan slogan-slogan dalam pidato oleh pemimpin Iran pada November lalu.

Mereka yang tidak mengenakan jilbab kini harus mengikuti kelas pendidikan Islam.

Gambar dan video perempuan yang berdiri di atas kotak melambai-lambaikan kerudungnya itu mulai dibagikan oleh orang-orang yang tidak yakin bahwa reformasi telah berjalan cukup luas, dan oleh demonstran yang tak percaya dengan para ulama yang berkuasa.

Sebagai dampaknya, perempuan itu kemudian menjadi 'wajah' gerakan protes di Iran yang telah memobilisasi ratusan perempuan Iran. Banyak yang menyebut perempuan ini "Rosa Park Iran".

Sebuah akun Twitter populer mengunggah dalam bahasa Persia: "Seorang remaja perempuan melawan kewajiban berjilbab sudah menjadi simbol perlawanan dan ketidakpatuhan sipil perempuan Iran. Rosa Parks tidak patuh pada tekanan."

Penghormatan terus mengalir pada aksi perlawanan perempuan ini. Pengguna Twitter ini mengunggah cuitan yang menyatakan bahwa bunga di kiri kotak adalah tempat di mana si perempuan melancarkan aksi protesnya.

Ratusan akun media sosial lain juga mengubah avatar dan foto profil mereka menjadi grafis berwarna dari si perempuan pengibar jilbab.

Meski identitas dan nasib si perempuan muda ini masih belum diketahui, dia sudah menjadi simbol kebebasan dan harapan bagi banyak pendukung protes anti-pemerintah.

Dia juga bukan perempuan Iran pertama yang menjadi wajah ketegangan politik.

Rekaman dari kematian Neda Agha Soltan menarik perhatian dunia pada protes besar 2009 yang dipicu oleh pemilihan presiden yang diperdebatkan.

Topik terkait

Berita terkait