Kontroversi komika Joshua Suherman dan Ge Pamungkas: Antara 'satire' dan 'menista agama'

Komika Joshua Suherman, Ge Pamungkas Hak atas foto Instagram/@JojoSuherman/@GePamungkas
Image caption Komika Joshua Suherman (kiri) dan Ge Pamungkas (kanan) menjadi komedian yang mendapat kecaman keras warganet akibat materi lawakannya yang dianggap menghina agama.

Komika Joshua Suherman dan Ge Pamungkas dituduh telah menghina agama dalam materi lawakan mereka yang viral. Atas materi lawakannya itu, mereka akan dilaporkan ke Bareskrim Polri.

Video yang diunggah akun Instagram @muslim.fact menampilkan Joshua Suherman berkomentar soal anggota Cherrybelle, Cherly, yang dianggap selalu kalah pamor oleh anggota lain, Anissa, karena faktor agama "mayoritas yang selalu menang".

Video itu sudah mendapat lebih dari 6.000 komentar pada Selasa (9/1) siang dan disukai lebih dari 23.000 kali.

Forum Umat Islam Bersatu berencana melaporkan Joshua atas dugaan penghinaan agama Islam ke Bareskrim, Mabes Polri, pada Selasa (9/1).

Sementara itu, di akun yang sama, materi lawakan komika Ge Pamungkas disoroti dalam tiga unggahan berbeda.

Namun yang paling mendapat respons luas adalah saat dia mengkritik tanggapan orang akan banjir di Jakarta yang sekarang menyebutnya sebagai cobaan dari Tuhan, sementara sebelumnya banjir dianggap sebagai azab.

Ge Pamungkas sempat mengunggah permintaaf maaf dan klarifikasi di akun @muslim.fact, yang menyatakan bahwa "konteks dari omongan saya tentunya tidak menghina Allah SWT, melainkan sifat manusia yang masih double standard dalam melihat agama/ras orang yang dianutnya."

"Menghina agama, ras, dan adat istiadat bukanlah gaya saya dalam menghibur penonton, jadi saya sangat amat sadar bahwa saya tidak mungkin menghina/menyentuh ranah itu, terlebih lagi menghina Sang Khalik, Allah SWT. Mungkin ada beberapa part dari awal acara yang tidak terlihat/terpotong, sehingga dapat menimbulkan salah tafsir," ujar Ge.

Menurut Spredfast, tagar #BoikotGePamungkas sudah digunakan dalam lebih dari 13.000 cuitan sejak Jumat (5/1) sampai Selasa (9/1) siang, sementara tagar lain #TangkapGedanJoshua malah digunakan dalam 23.000 lebih cuitan sejak Senin (8/1) malam sekitar pukul 20:35 WIB sampai Selasa (9/1) pagi.

Baik Joshua Suherman maupun Ge Pamungkas bukanlah komika pertama (dan kedua) yang dituduh menghina agama.

Sebelumnya, pada Januari 2017, komika Rizky Firdaus Wicaksana alias Uus diberhentikan dari acara Inbox SCTV dan acara komedi Opera Van Java di Trans7 karena cuitannya dianggap menghina Rizieq Shihab.

Ada pula Ernest Prakasa yang mencuit soal ulama kondang asal India, Zakir Naik, pada awal 2017. Belakangan komedian itu menyampaikan permohonan maaf atas kicauannya di Twitter.

Insiden yang kini terjadi pada komika Joshua Suherman, Ge Pamungkas, dan Uus itu kemudian dikomentari oleh @ZulfikarAkbar, mantan wartawan Topskor yang dipecat terkait cuitannya tentang penceramah Abdul Somad.

Sebelumnya, jaringan relawan kebebasan berekspresi Southeast Asia Freedom of Expression Network atau SafeNet menyebutkan 105 orang mengalami dugaan persekusi sepanjang 2017, dan beberapa orang kehilangan pekerjaan.

Ada yang menyatakan bahwa apa yang disampaikan oleh Joshua dan Ge sebagai satire. Namun bagi komika Sakdiyah Ma'ruf - yang sering mengangkat soal isu perempuan, termasuk soal hijab, dan soal identitas Arabnya, tentang kebangkitan gerakan fundamentalisme, serta liberalisme - ada batasan yang dipegangnya dalam mengolah materi.

Saat ditanya soal batasan antara yang boleh dan tidak boleh dibahas di komedi stand up, Sakdiyah mengatakan, "Salah satu batasan menurut saya adalah membahas hal-hal yang kita tidak memiliki cukup pengetahuan atasnya, karena logikanya kalau kita bicara tidak berdasar pengetahuan yang cukup maka antara bohong atau mengarang-ngarang saja. Iya kan?"

Selain soal "hal-hal yang saya tak punya cukup pengetahuan atasnya," Sakdiyah juga membatasi diri dari membuat lawakan yang "menurut keyakinan saya suci".

"Penting diperhatikan bahwa komedi mau tidak mau selalu at the expense of others. Artinya ada targetnya, Nah salah satu batasan lain bagi saya adalah memastikan bahwa targetnya bukan mereka yang pada posisi tertindas atau memiliki potensi tertindas juga," ujarnya.

Lalu, apa ada batas antara kebebasan berekspresi dan menghina agama?

Hak atas foto Sakdiyah Ma'ruf
Image caption Menyuarakan aspirasi antara lain soal identitas kearabannya dalam panggung komedi, Sakdiyah dianugerahi Vaclav Havel international prize for creative dissent 2015.

"Tidak terbatas soal menghina agama, ya menghina secara umum saja ya, batas yang paling utama menurut saya adalah kejujuran versus kesombongan."

"Kebebasan berekspresi menurut saya berasal dari niat membuat perubahan dari pengalaman ketertindasan yang genuine. Intinya di kebenaran, kejujuran dan kerendahan hati. Kalau menghina, berasal dari sikap superioritas atas pihak lain dan keinginan menjatuhkan, ya kesombongan itu," kata Sakdiyah.

Dia mengutip Freud yang menyebut tawa dan lawakan sebagai pereda ketegangan.

"Bukan hanya karena lucu tetapi karena dialog yang ditimbulkan. Mop Papua dapat masuk ke kategori ini, melalui humor yang sifatnya mengolok-olok diri sendiri sesungguhnya rakyat Papua sedang mengolok berbagai relasi kuasa yang mengakibatkan segala "penderitaan" mereka yang diceritakan melalui kelucuan tersebut. Posisi menjadi setara," tambahnya. Menurutnya, komedi tidak boleh "asal lucu" atau "asal kritik sosial", "banyak hal yang harus dipertimbangkan dan menjadi pegangan dan etika bagi senimannya."

Sakdiyah mengaku tidak khawatir dengan situasi yang terjadi akan membatasi kebebasan berekspresi. "Tidak perlu khawatir kalau kesadaran, kerendahan hati, dan pengetahuan yang cukup menjadi dasar berkarya. Jadi sikap yang dikembangkan bukan kekhawatiran tapi kemauan untuk lebih banyak belajar dan mendengar."

Berita terkait