Menolak berkencan dengan perempuan trans: masalah pilihan atau transfobia?

Kontestan Celebrity Big Brother India Willoughby Hak atas foto PA
Image caption Kontestan Celebrity Big Brother India Willoughby

Sebuah program televisi realitas memicu perdebatan apakah seseorang berlaku diskriminatif atau transfobia ketika mereka menolak berkencan dengan orang transseksual.

Perdebatan itu berawal dari acara televisi Inggris, Celebrity Big Brother, yang acaranya selebritas yang sudah turun pamornya dikunci di studio yang terlihat seperti sebuah rumah, kemudian direkam 24 jam nonstop.

Seperti sudah bisa ditebak, dalam situasi itu, ketegangan pun muncul dan percakapan bisa menjadi awal perpecahan. Salah satu selebritas di rumah itu adalah India Willoughby, seorang wartawan televisi yang sudah memiliki karier panjang sebagai seorang laki-laki sebelum kemudian bertransisi menjadi seorang perempuan.

Willoughby menanyakan pada rekan serumahnya tentang tipe yang dikencaninya, dan percakapan itu kemudian memicu perdebatan di media sosial.

"Apakah kamu mau berkencan dengan perempuan transseksual?" dia bertanya.

"Saya yakin itu adalah pilihan seseorang...dan saya memilih tidak," kata penyanyi Ginuwine. "Itu tidak membuat saya takut."

"Kamu mau berkencan dengan perempuan?" kata Willoughby.

"Benar."

"Tapi kamu tidak mau berkencan dengan perempuan transseksual?"

"Tidak."

Percakapan itu terus berlanjut. Saat Willoughby menyarankan, "Ayo kita berciuman," Ginuwine mengatakan "tidak" dan menjauh darinya.

India kemudian mengatakan pada selebritas lain bahwa "semua hal palsu ini mengatakan bahwa kamu adalah perempuan kedengarannya bagus dan hal yang tepat untuk dikatakan. Tapi tidak ada bedanya jika orang tidak mempercayainya - di situ masalahnya."

Meski orang-orang lain di rumah tersebut membela Ginuwine yang menolak untuk berkencan dengan perempuan trans karena ini masalah "pilihan", namun isu ini membelah warganet di Twitter.

Debat itu pun terus berlanjut di dalam rumah. Penonton acara tersebut harus memilih satu per satu tamu yang akan pulang di akhir pekan sampai kemudian ada pemenang yang terpilih, dan pada Jumat, India Willoughby adalah satu dari dua selebritas yang terancam pulang.

Beberapa orang mengklaim bahwa penolakan Ginuwine berkencan dengan perempuan trans itu adalah diskriminasi atau transfobia - kebencian atau ketakutan akan orang-orang transgender.

Hak atas foto @cityterrorism/Twitter

Namun warganet lain mendukung argumen "pilihan" yang diajukan Ginuwine dan penyanyi itu berhak untuk menyatakan pilihannya soal berkencan tanpa dikritik.

Hak atas foto @maddimani/Twitter

Debat itu terjadi di beberapa situs media sosial lain dan juga di luar Inggris. Sebuah video dari penyiar radio New York, Charlamagne Tha God, yang membela posisi Ginuwine, sudah ditonton lebih dari 350.000 kali di YouTube.

Opini yang terbelah

"Saya tidak mau menyebutnya transfobik," kata Miss SaHHara, seorang perempuan transgender yang bekerja sebagai model dan penulis lagu. "Ketika seseorang transfobik, mereka tidak duduk di sebelahnya. Ginuwine tampak nyaman-nyaman saja berbicara dengan India."

"Apa itu transfobia? Jika Anda merasa takut dengan orang-orang trans, jika Anda tak menganggap perempuan trans sebagai perempuan, itu artinya Anda transfobik. Apa yang dikatakan Ginuwine adalah kata-kata orang yang tidak tahu dan belum pernah berkencan dengan perempuan trans sebelumnya. Itu lebih soal ketidaktahuan, yang dikuatkan oleh media yang sering menggambarkan perempuan trans dengan cara yang sensasional, sebagai perempuan dengan tulang yang menonjol dan suara yang besar," kata Miss SaHHara.

"Sebagian besar pria heteroseksual akan khawatir tentang apa yang akan dikatakan oleh masyarakat jika mereka berkencan dengan perempuan trans," katanya.

"Maskulinitas yang berbahaya membuat mereka kasar dan kejam akan rasa ketertarikan mereka. Saat Anda tidak menyukai seseorang, Anda seharusnya bicara soal karakter mereka. Masalahnya tidak hitam putih seperti yang dibayangkan orang, karena jika Anda tertarik dengan seseorang, ini soal tertarik dengan sesama manusia."

Namun, Dr Liadh Timmins, dokter spesialis di bidang identitas gender dan orientasi seksual di King's College London, menyebut komentar tersebut "transfobik".

"Ketertarikan seksual adalah respons terhadap rangsangan - dan ini bisa bersumber dari banyak hal, contohnya perbandingan pinggang dan pinggul, perilaku tertentu, atau ukuran dada," kata Dr Timmins.

"Jika ada seorang perempuan trans yang bertransisi, secara tampilan dia mungkin identik dengan seorang perempuan cis."

Perempuan cis atau orang cisgender adalah seseorang yang identitas gendernya sesuai dengan identitas jenis kelamin saat dia lahir.

"Ada titik-titik hormonal saat seorang perempuan trans bertransisi dan menjadi tak bisa dibedakan dari seorang perempuan cisgender," kata Dr Timmins. "Maka saat seseorang tidak bersedia untuk berkencan atas dasar seseorang adalah trans, dan bukan atas dasar respons terhadap rangsangan, saya menyebutnya transfobik."

"Ini merupakan diskusi filosofis dan bukan berdasarkan data, karena belum banyak penelitian yang bernuansa akan bidang ini. Mengelompokkan semua perempuan transgender di satu kategori dan semua perempuan cis gender di kelompok lain sebenarnya sama saja dengan berprasangka," kata Dr Timmins.

Topik terkait

Berita terkait