Bagaimana tagar #HariGiziNasional dirayakan di media sosial di tengah krisis di Asmat?

Dari 472 pasien yang diperiksa oleh tim kesehatan Polda Papua, 10 diantaranya dievakuasi ke Puskesmas Atsj. Hak atas foto Polda Papua
Image caption Dari 472 pasien yang diperiksa oleh tim kesehatan Polda Papua, 10 diantaranya dievakuasi ke Puskesmas Atsj.

Hari Gizi Nasional diperingati setiap 25 Januari. Namun tahun ini, bagaimana tagar ini dibicarakan di media sosial di tengah terjadinya krisis kesehatan di Asmat, Papua?

Di media sosial, kata 'selamat hari gizi' tercatat oleh Spredfast digunakan dalam sekitar 2.400 cuitan per Kamis (25/1) siang, sementara tagar #HariGiziNasional digunakan lebih sedikit lagi, hanya kurang dari 400 cuitan.

Beberapa akun media sosial yang meramaikan tagar ini kebanyakan adalah akun resmi instansi pemerintahan, seperti @Kemendikbud yang mengeluarkan panduan akan apa saja yang harus ada di piring untuk memenuhi standar asupan gizi.

Akun resmi instansi pemerintahan lain, yaitu @DitjenPajakRI juga lebih mengajak followers-nya untuk membayar pajak sebagai cara mendukung program pemenuhan gizi.

Sementara akun @KemenkeuRI malah menyatakan soal besarnya anggaran untuk memenuhi kebutuhan pokok pangan, yaitu mencapai Rp98,7 triliun.

Hak atas foto Desi/AFP/Getty Images
Image caption 15 pasien akibat gizi buruk dan campak kini masih dirawat di RSUD Agats.

Badan pemerintah lain yang juga ikut mencuit soal Hari Gizi Nasional termasuk dari BPOM dan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.

Akun Twitter resmi PBB di Indonesia, @UNinIndonesia juga menyebut bahwa "memperbaiki status gizi masyarakat, sebagai investasi bangsa...".

Ada juga warganet yang berpartisipasi dalam tagar ini dan menggunakannya sebagai cara menyampaikan harapan atau humor.

Sementara itu, akun @PulauPapua termasuk yang menghubungkan tagar atau peringatan Hari Gizi dengan krisis kesehatan gizi buruk dan campak yang menewaskan hampir 100 orang, kebanyakan anak-anak.

Beberapa warganet lain juga menyoroti hubungan antara peringatan Hari Gizi Nasional yang dibayangi oleh wabah campak dan gizi buruk di Papua, yang ternyata tidak hanya terjadi di Kabupaten Asmat, tapi juga di wilayah Pegunungan Bintang yang berjarak 286 km dari Agats, ibukota Asmat.

Dinas Kesehatan Kabupaten Bintang, Provinsi Papua menyebutkan sebanyak 28 orang dilaporkan meninggal dunia di Kampung Pedam, Distrik Okbab, Kabupaten Bintang, lantaran mengalami dehidrasi berat akibat diare, campak dan gizi buruk atau kelaparan.

Pada Senin (22/01) lalu, juru bicara Kementerian Kesehatan Oscar Primadi menyebut, tim pemerintah berusaha keras menangani masalah ini. "Tim kita sedang turun, lagi memastikan sebabnya apa, gimana kondisi riilnya di sana," kata Oscar kepada BBC Indonesia.

Data terakhir mencatat jumlah korban meninggal di Kabupaten Asmat mencapai 68 orang. Satu orang di antaranya meninggal Senin (21/1) akibat campak, kata Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial, Harry Hikmat.

Sementara 67 lain sudah meninggal sebelumnya, semuanya anak-anak: 64 anak meninggal akibat campak dan 3 anak meninggal karena gizi buruk.

Kementerian Kesehatan menyatakan sudah mengirimkan bantuan yang dibutuhkan sesuai penilaian Dinas Sosial, yaitu beras tiga ton, dan 8.000 paket makanan siap saji.

Berita terkait