Aksi kartu kuning untuk Presiden Jokowi: tidak sopan, wajar, atau malah kreatif?

Kartu kuning di pertandingan sepak bola. Hak atas foto EPA/DIMITRIS LEGAKIS
Image caption Aksi kartu kuning dari Ketua BEM Universitas Indonesia disebut untuk "memberi peringatan" pada Presiden Jokowi untuk "tugas-tugasnya yang belum selesai".

Aksi seorang mahasiswa Universitas Indonesia yang meniup peluit dan memberi kartu kuning bagi Presiden Jokowi menjadi viral di media sosial. Apa sebenarnya yang terjadi dan kenapa kartu kuning diberikan?

Di situs Spredfast, tagar #KartuKuningJokowi digunakan dalam lebih dari 30.000 cuitan sejak Jumat (02/02) siang sampai Minggu (04/02) siang, sementara tagar lain, #KartuKuningUntukJokowi juga digunakan, meski lebih sedikit, yaitu dalam hampir 3.000 cuitan.

Aksi Ketua BEM UI Zaadit Taqwa itu dilakukan saat Presiden Jokowi memberikan pidato di acara Dies Natalis ke-68 Universitas Indonesia, Depok, pada Jumat (02/02). Akibat aksinya itu, Zaadit diamankan oleh Pasukan Pengamanan Presiden dan kemudian dimintai keterangan oleh satuan pengamanan lingkungan kampus dan polisi.

Hak atas foto Bay Ismoyo/AFP/Getty Images
Image caption Aksi kartu kuning yang dilakukan oleh mahasiswa UI dipicu, salah satunya, oleh wabah campak dan gizi buruk yang telah menewaskan 71 anak di Asmat, Papua.

Dalam video yang kemudian viral beredar, terlihat bahwa Zaadit meniup peluit di tengah tepukan tangan mereka yang hadir. Tepuk tangan berhenti, dan Zaadit mengacungkan kartu kuningnya. Dia kemudian terlihat didorong ke belakang oleh petugas paspampres.

Pimpinan Universitas Indonesia, melalui pernyataan Senin (05/02) menyatakan permintaan maaf kepada civistas akademika serta Presiden Jokowi terkait kejadian dalam acara yang "patut dijaga kekhidmatannya."

"Kami sangat menyayangkan mahasiswa tersebut memilih cara penyampaian aspirasi seperti itu, padahal sudah diagendakan pertemuan langsung untuk menyampaikan aspirasi pada Presiden RI," tulis pimpinan UI.

"Penyampaian saran, kritik dan solusi konkrit semestinya harus memperhatikan berbagai kondisi, seperti waktu, tempat, dan situasi yang terjadi. Kami berharap dapat diutarakan dengan cara yang baik, dan tetap menghormati aturan yang berlaku dan menjaga ketertiban dan kenyamanan bersama," tambahnya.

Apa maksud kartu kuning itu?

Dalam konferensi persnya, Zaadit mengatakan bahwa aksinya di dalam Balairung saat Presiden Jokowi memberikan pidato sebagai aksi simbolis dan bagian dari rangkaian 'penyambutan' yang juga dilakukan di Stasiun Universitas Indonesia.

"Ini adalah sebuah simbol bahwa kami memberikan peringatan kepada Pak Jokowi bahwa masih banyak pekerjaan-pekerjaan, masih banyak PR yang belum selesai, dan peringatan ini kami fokuskan, kami khususkan pada tiga isu yang menjadi tuntutan kami," kata Zaadit.

Salah satunya terkait kasus gizi buruk di Asmat yang menewaskan 72 orang. "Sampai hari ini, itu bisa terjadi, karena ada imunisasi yang belum optimal dan kurangnya tenaga medis menghadapi hal tersebut," ujar Zaadit.

Sebenarnya, menurut Zaadit, mereka sempat dijanjikan bertemu Presiden Jokowi, tapi mereka tidak mendapat penjelasan.

"Ini bentuk upaya kami supaya tetap bisa menyampaikan aspirasi. Kalau di sepak bola kartu kuning ini menjadi peringatan supaya lebih berhati-hati atau menjaga dirinya lah. Begitu juga bagi Pak Jokowi, ini menjadi peringatan bahwa mahasiswa tidak akan tinggal diam dan agar kembali menuntaskan tugas-tugasnya yang belum selesai," katanya.

Bagaimana tanggapan Presiden Jokowi?

Presiden Jokowi menghadiri acara di Universitas Indonesia sampai selesai. Namun seusai acara haul pondok pesantren di Situbondo, Jawa Timur, dia mengatakan bahwa dinamika seperti itu sebagai hal yang "biasa".

"Saya kira ada yang mengingatkan bagus sekali. Dan mungkin nanti saya akan kirim Ketua dan anggota-anggota di BEM untuk ke Asmat, dari UI, biar melihat betul bagaimana medan yang ada di sana. Kemudian problem-problem besar yang kita hadapi di daerah-daerah yang ada, terutama di Papua," ujar Jokowi.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani juga mendukung rencana Presiden tersebut.

Perdebatan warganet

Di kalangan warganet, aksi Ketua BEM UI itu pun mendapat banyak tanggapan. Ada yang menyebutnya 'tidak sopan', ada juga yang menyatakan Presiden tak perlu menghiraukannya.

Sementara itu, ada juga yang membandingkannya dengan aksi protes seorang wartawan Irak yang melempar sepatu ke arah Presiden AS George W. Bush atau membandingkannya dengan aksi demonstrasi membawa kerbau yang ditulisi 'SBY'.

Berbagai percakapan lain di kalangan warganet yang mendukung Jokowi memuji respons Presiden yang dianggap 'santai' atau tidak mempermasalahkan aksi tersebut.

Perdebatan soal aksi kartu kuning itu juga sampai ke politisi, salah satunya yang mencuit adalah politisi PDI-P, Eva Kusuma Sundari, yang mengingatkan soal tata krama, sementara politisi lain, Fahri Hamzah, mengatakan "bravo" untuk aksi Zaadit.

Beberapa warganet lain memberikan tanggapan bahwa aksi kartu kuning itu merupakan hal yang wajar, meski begitu ada yang mempertanyakan reaksi yang dinilai "berlebihan" dari para pendukung Presiden Jokowi atas aksi itu.

Namun bagi pengacara hak asasi manusia, Veronica Koman, dalam cuitannya dia mengatakan bahwa aksi itu tergolong kreatif.

"Kalau aksi biasa-biasa saja memang sudah tidak akan didengar lagi oleh rezim ini," cuitnya.

Berita terkait