Ernest Prakasa: 'sari rapet jangan dioles di mata', ejekan tentang keturunan Cina yang jadi terapi

Ernest Prakasa mengatakan pengalamannya dibully karena Cina dijadikannya sebagai bahan komedi dan sekaligus terapi. Hak atas foto Dokumentasi Ernest Prakasa
Image caption Ernest Prakasa mengatakan pengalamannya dirisak karena keturunan Cina dijadikannya sebagai bahan komedi dan sekaligus terapi.

Komedian dan artis Ernest Prakasa mengatakan ejekan yang ia terima termasuk "makanya sari rapet jangan dioles di mata" membuatnya sedih tapi sekaligus menjadi terapi.

Ernest - yang sempat berkunjung ke London pekan ini dan berdiskusi tentang filmnya Cek Toko Sebelah dengan para mahasiswa Indonesia- mengatakan pengalamannya yang sering dirisak sebagai keturunan Cina menjadi bahan 'keresahan' yang dia angkat saat melawak.

"Pengalaman pahit jadi bahan lawakan karena waktu awal belajar stand-up dengan mencari keresahan yang jujur, yang paling gampang ya di-bully sebagai orang Cina di Indonesia, itulah karenanya materi itu muncul di awal kemunculan saya di panggung," kata Ernest kepada wartawan BBC Indonesia, Endang Nurdin.

"Kata-kata diskriminatif paling sering sih... 'jangan ketawa lu ntar ditinggal kabur.' Terus 'makanya sari rapet jangan dioles di mata.' Terus... yang lebih ringan tapi sering, kalau kita ngobrol, terus (ada yang bilang) 'ngobrol ya ngobrol jangan tidur dong,'" tambahnya.

Setelah menjadi komedian, Ernest terjun ke industri film dengan menggarap sejumlah film termasuk Ngenest, dan Susah Sinyal.

Hak atas foto Dokumentasi Ernest Prakasa
Image caption Ernest dan istrinya Meira Anastasia di depan teater Harry Potter, London.

"Jeri mendengar Cina jadi lawakan"

Namun Ernest - yang disapa "kokoh" termasuk oleh pengikutnya di media sosial mengatakan ia tidak memiliki misi khusus dengan mengangkat pengalaman diskriminatif ini.

"Saya hanya ingin mengangkat good values (kebaikan)," kata Ernest.

Tetapi Ernest mengakui ada generasi tua keturunan Cina "terutama mereka yangngalamin jangankan 1998 bahkan 1965 yang masih saja jeri mendengar Cina dijadikan lawakan."

"Tapi anak muda rata-rata merasa ada keterwakilan, ada sesuatu yang jadi cair karena kita tertawakan bareng-bareng," tambahnya.

Eric Sasono, pengamat film yang tengah studi di London, mengatakan, "Iya good values itu yang memang dibutuhkan karena seharusnya hal itu bisa diterima dan menjadi bagian penting orang dengan latar belakang etnis apapun."

"Menurut saya itu yang jadi poin penting materi humor Ernest, baik dalam bentuk stand up maupun dalam film CTS (Cek Toko Sebelah)," kata Eric.

Hak atas foto Dokumentasi Ernest Prakasa
Image caption Ada generasi tua Cina yang masih jeri mendengar soal Cina, kata Ernest.

Ditanya soal isu intoleransi yang muncul belakangan ini, Ernest mengatakan ia yakin hal itu terjadi karena dipolitisasi.

"Fenoma intoleransi setahun dua tahun belakangan, aku percaya itu terjadi dalam setahun dua tahun belakangan itu politisasi. Karena dari dulu orang Indonesia baik-baik saja, kita hidup berdampingan, tetangga beda suku beda agama. Tapi karena ada kepentingan politik, jadi ya dimain-mainin lah biar berantem gitu," katanya.

Tekanan kasih angpau besar

Ernest mengaku, dalam peraayaan Imlek, keluarganya tak punya tradisi khusus, selain hanya kumpul-kumpul bersama keluarga.

"Sejak jadi artis gitu ya, ada beban untuk kasih angpau yang lebih banyak,... Sering ada yang kurang ajar, terima langsung dibuka di depan kita.... kasih Rp10.000, Rp5.000... terus di depan kita mereka bilang, ya artis kasihnya goceng! Kan nggak enak di depan keluarga besar."

Hak atas foto Dokumentasi Ernest Prakasa
Image caption Ernest dan istrinya, penggemar Harry Potter.

Berita terkait