Dari uang mahar Rp1 miliar sampai pesta 10 hari: Apa penyebab pernikahan 'semakin mewah'?

Foto dari akun Instagram Rina Gunawan yang mengorganisir berlangsungnya pesta 10 hari di Binuang yang menjadi perbincangan di media sosial. Hak atas foto Instagram/RinaGunawan28
Image caption Foto dari akun Instagram Rina Gunawan yang mengorganisir berlangsungnya pesta 10 hari di Binuang yang menjadi perbincangan di media sosial.

Sebuah pernikahan yang berlangsung di Binuang, Kalimantan Selatan, menjadi perbincangan di media sosial karena dilangsungkan selama 10 hari dan digelar secara besar-besaran. Namun ini bukan satu-satunya pesta pernikahan yang menjadi viral di media sosial dalam beberapa tahun terakhir. Benarkah ini artinya masyarakat Indonesia semakin kaya?

Pernikahan pasangan Yudha dan Izha, anak pengusaha tambang H Muhammad Hatta (H Ciut), di Binuang, Kalimantan Selatan, berlangsung sejak 11 Februari dan berakhir pada 21 Februari.

Selama 10 malam, artis-artis silih berganti. Sebut saja Afgan, Zaskia Gotik, Ayu Ting-Ting, Wali Band, Via Vallen, Duo Serigala, sampai Rhoma Irama dan OM Soneta.

Ceramah dari Ustaz Ahmad Al Habsyi menjadi penutup acara yang diadakan di Lapangan Wasi Kuning, Binuang, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan.

Rina Gunawan, wedding organiser pesta tersebut menyebutkan dalam akun Instagramnya bahwa tamu yang datang dalam seluruh rangkaian upacara diperkirakan mencapai 100.000 orang. Pada acara utama, tamu yang diundang hanya tamu VVIP yang kurang lebih berjumlah 3.000 orang.

Pesta pernikahan besar-besaran ini bukan yang pertama terjadi, dan tentu saja bukan yang terakhir.

Di Mamuju, Sulawesi Barat, pengusaha kapal bernama Daniel Betteng menikahkan anaknya dengan pesta mewah. Penyanyi Citra Scholastika menjadi bintang tamu di resepsi yang digelar 17 Februari lalu.

Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni, menikahkan putrinya, Mazaya Zhafarina, dengan mengundang 6.000 tamu, September tahun lalu. Foto-foto mewah Mazaya dalam balutan baju karya desainer menjadi pembicaraan di Instagram.

Lain lagi dengan pengusaha Makassar dan mantan Wakil Bupati Soppeng, Aris Muhammadia.

Tamu di pernikahan putranya, Dimas Adiputra, dihibur oleh pedangdut Zaskia Gotik dan berkesempatan mendapat doorprize berupa mobil, paket umrah, dan motor.

Tahun lalu, pernikahan mewah pengusaha Anjas Malik dan Amalia Hambali di Jeneponto, Sulawesi Selatan, menjadi berita karena uang mahar yang diberikan berjumlah Rp1 miliar tunai.

Selain uang tunai, mempelai pria juga mempersembahkan satu rumah mewah, satu mobil Alphard, dan tiga kilogram emas.

Apa penyebabnya?

Peneliti Institute For Economic and Development Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai, kenaikan harga komoditas sepanjang tahun 2017 menjadi salah satu penyebab kemewahan pesta-pesta pernikahan ini.

"Kekayaan pengusaha di sektor ekstraktif, seperti pertambangan batubara dan kelapa sawit memang sedang naik," kata Bima saat dihubungi BBC Indonesia.

Harga komoditas sepanjang tahun 2017 naik cukup signifikan, sehingga kekayaan para pengusaha di sektor tersebut otomatis meningkat.

Menurut Bhima, kemewahan dalam pesta pernikahan tersebut bukan berarti naiknya tingkat ekonomi masyarakat.

Kenaikan pendapatan hanya dirasakan oleh 20% kelompok pengeluaran teratas.

"Pengusaha kaya pamer, sementara kelas bawah kenaikan pendapatannya tak signifikan. Dampaknya justru ketimpangan sosial yang makin lebar di luar Jawa," kata dia.

"Jangan sampai kelas bawah ikut-ikutan, menggelar pesta di luar kemampuannya sampai terpaksa berutang. Jadinya malah makin terjebak dalam siklus kemiskinan," kata Bhima.

CEO Bridestory, Kevin Mintaraga, menjelaskan bahwa memang ada peningkatan anggaran pernikahan di daerah-daerah di luar Jakarta.

"Ada pertumbuhan yang signifikan di daerah-daerah, di mana mereka makin bisa berekspresi dan mengeluarkan lebih banyak uang untuk pernikahannya," kata Kevin saat dihubungi BBC Indonesia, Senin (19/02).

Faktor-faktor yang menyebabkan belanja pernikahan yang makin meningkat itu antara lain disebabkan peran teknologi.

Adanya media sosial membuat tren-tren pernikahan lekas menyebar ke daerah-daerah. "Ada peer pressure dan persaingan, sehingga setiap pengantin ingin pernikahannya menjadi yang paling sempurna," kata dia.

Meski demikian, menurut Kevin, pernikahan di luar Jakarta lebih mengikuti adat istiadat yang berlaku di daerah tersebut.

"Tapi mereka lebih pintar menggabungkan unsur-unsur modern dalam kulturnya masing-masing," kata Kevin.

Foto ratusan juta

Peran orang tua para calon pengantin juga dianggap sangat mempengaruhi.

"Orang tua yang menikahkan anak pertamanya, kini berusia 40-50an, dan mereka lebih berpikiran terbuka, sehingga memungkinkan pesta yang lebih meriah dengan anggaran tinggi," kata dia.

Roy Wibowo, fotografer di balik akun Instagram @riomotret yang telah memotret pernikahan sejak 2004 menyatakan bahwa para calon pengantin tak segan membayar mahal demi hasil foto terbaik.

Tarif jasa fotonya untuk pemotretan prewedding hingga rangkaian acara pernikahan bisa mencapai ratusan juta rupiah.

"Harganya tergantung bagaimana keinginan klien. Bisa ratusan juta kalau acaranya beberapa hari, atau fotonya di luar negeri," kata dia.

Butuh waktu setidaknya tiga bulan sebelum Hari-H untuk memesan ketersediaan jasa Rio.

Rio terkenal karena banyak memotret para artis ternama, seperti pernikahan Miss Universe Indonesia 2013 Whulandary Herman dan Chelsea Olivia.

Meski demikian klien Rio tak hanya para artis, tapi juga banyak dari luar Jakarta, seperti dari Malang, Cirebon, Jawa, dan Banjarmasin.

"Justru biasanya yang dari luar Jakarta ingin foto prewedding di luar negeri," kata dia. Eropa masih menjadi tujuan paling disukai, disusul dengan Jepang.

Salah satu klien Rio adalah seleb Instagram, Tasya Farasya, yang pada hari Minggu, (18/02) menikah dengan Ahmad Assegaf.

"Mereka adalah salah satu klien saya yang menghabiskan budget tinggi. Rangkaian acaranya saja sampai enam hari," kata Rio.

Menurut Kevin Mintaraga, meskipun tren biaya meningkat, tren jumlah tamu justru menurun.

"Anggaran yang besar digunakan untuk meningkatkan style dan kualitas resepsi," kata dia. Para calon pengantin juga menjadi lebih memperhatikan detil-detil dalam pesta pernikahannya.

Hal ini dibenarkan calon pengantin bernama Dewi Setyorini, seorang praktisi terapi perilaku yang akan menikah bulan Juli mendatang dengan dua resepsi, di Balikpapan dan di Bali.

Resepsi di Bali adalah pesta privat yang hanya berisi 50 orang undangan dengan biaya sekitar Rp540 juta.

"Sebenarnya kami tak merencanakan untuk menghabiskan biaya sebesar itu, tapi makin lama biayanya makin membengkak saat kami mulai survei lokasi, memilih vendor, dan seterusnya," kata Dewi pada BBC Indonesia.

Dewi dan calon suaminya mengaku tak sayang menghabiskan biaya mahal untuk resepsi pernikahan.

"Saya ingin yang terbaik untuk mengawali kehidupan baru saya dan suami. Yang penting acaranya menyenangkan, keluarga dan sahabat berbahagia menikmati pesta," kata Dewi.

Meskipun demikian, tak semua pengantin ingin merayakan pernikahannya dengan megah.

Bagi Lika Aprilia, editor di sebuah perusahaan swasta, sahnya pernikahan lebih penting daripada resepsi. "Saya menikah di KUA Jakarta Selatan, waktu itu gratis tanpa dipungut biaya apa-apa," kata Lika kepada BBC Indonesia.

Lika hanya menghabiskan biaya sekitar Rp10 juta untuk mentraktir sekitar 60 orang teman di pub favoritnya di Jakarta Pusat. Menurut Lika, pesta di pub membuatnya lebih santai dan tak perlu memikirkan dekor, band atau makanan karena semua sudah tersedia.

"Kami lebih ingin merayakan dengan pesta, bukan resepsi," kata dia.

Berita terkait