Cheta, yang tunanetra pada usia 34 tahun: 'Buta seperti jalani setengah kematian'

Cheta Nilawaty Hak atas foto Cheta Nilawaty
Image caption Cheta Nilawaty

Menjadi tunanetra pada usia 34 tahun, mengutip kata-kata Cheta, adalah sangat mencekam dan menyedihkan.

"Buta itu seperti menjalani setengah kematian," kata wartawan Tempo Cheta Nilawaty (36 tahun) saat dihubungi BBC Indonesia.

Bayangkan, sebelumnya dia masih bisa naik motor ke mana-mana sendiri. Setelah kehilangan penglihatan pada 2016, berjalan atau duduk pun awalnya Cheta harus dituntun.

Cheta harus mempelajari semuanya dari awal lagi, mulai dari hal yang paling sederhana.

Seperti cara makan, cara berjalan, naik lift, menggunakan telepon genggam maupun mencuci piring dan memasak. Hal yang awalnya sangat sederhana ketika Cheta masih bisa melihat, seperti pergi ke warung sebelah rumah, menjadi momok.

Hilangnya penglihatan Cheta berawal pada Mei 2016, saat tengah bekerja di kantor.

Dia melihat lingkaran seperti asap di sekeliling lampu di depan kubikelnya. Pandangannya mulai kabur dan berasap. Dokter menyatakan dia terkena Ablasio Retina, robeknya retina karena proses kebocoran protein akibat diabetes.

Tadinya kebocoran retina hanya terjadi di mata kanan Cheta, setelah operasi, justru mata kirinya mengalami hal yang sama. Setelah delapan kali operasi mata, ujungnya justru kegagalan.

Dia masih ingat hal-hal terakhir yang dilihatnya, yaitu saat dalam perjalanan ke rumah sakit untuk operasi.

"Saya ingat sekali, 21 Desember 2016, saat itu saya berusaha mengingat baik-baik semua yang saya lihat, karena mungkin saya tidak akan pernah melihat lagi," kata dia.

Setelah operasi terakhir, mata Cheta justru kehilangan penglihatannya sama sekali.

Sempat sangat terpukul

Tidak mudah menerima kondisi tanpa penglihatan.

"Saya masih menangis melulu, marah dengan keadaan, empat bulan tidak ada semangat. Terutama bingung, bagaimana dengan masa depan saya? Harus jual kerupuk atau jadi tukang pijat?"

Untungnya dia menemukan Mitra Netra, sebuah yayasan yang bertujuan meningkatkan keterampilan tuna netra agar dapat bersaing di lapangan kerja.

"Di sini saya banyak belajar untuk menjadi inklusif," kata Cheta. Tapi yang terpenting, di situlah dia mendapatkan dukungan moral dan semangat untuk melanjutkan kehidupannya yang "baru".

Dia belajar cara menggunakan telepon genggam, komputer bicara, membaca Braille, hingga berenang.

Selain banyak belajar mengenai cara hidup tunanetra, Cheta juga memberikan ilmunya untuk teman-teman barunya sesama tunanetra.

Dia sering melatih mereka untuk menulis. Beberapa waktu lalu postingan Cheta juga sempat viral ketika dia mencari relawan yang bersedia membacakan buku untuk para tunanetra.

Bukan buku biasa, tapi buku pelajaran bagi anak-anak tunanetra yang harus belajar di kelas mereka. "Karena saya belajar banyak dari teman-teman, saya juga ingin ikut berkontribusi," kata dia.

Setelah hampir setahun keluar masuk rumah sakit untuk operasi mata, dia kembali lagi ke kantor dan bekerja. Dari rumahnya di Sawangan, Depok, ke kantor Tempo di Palmerah, dulu Cheta biasa naik motor sendiri.

Kini dia bergantung pada ojek online. Senjata Cheta yang lain untuk mengarungi ibu kota adalah tongkatnya yang diberi nama Elektra.

Hak atas foto Cheta Nilawaty
Image caption Cheta Nilawaty dan tongkatnya.

Tunanetra atau bukan, Cheta tetaplah seorang perempuan yang mandiri. Dia menjadi tulang punggung keluarga, dan harus mencari nafkah untuk dirinya sendiri dan ibunya.

Cheta tinggal berdua bersama ibunya yang tidak bekerja, sehingga mau tidak mau dia harus tetap bekerja.

Sebelum menjadi buta, Cheta adalah seorang wartawan yang mumpuni. Dia biasa menulis soal politik, hukum, hingga gaya hidup.

Setelah kehilangan penglihatan, Cheta sempat merasa pesimistis untuk kembali menjadi wartawan. Sebab selama ini dia selalu menganggap bahwa pekerjaan wartawan memerlukan lima pancaindra.

"Sekarang saya hanya bisa mengandalkan empat pancaindera yang lain," kata Cheta.

Meski tak dapat melihat, dia tetap bisa mengetik berita dengan memanfaatkan "komputer bicara". Teman-teman di kantornya pun terkejut saat mengetahui Cheta tetap bisa mengetik seperti semula.

Kembali bekerja

Kini Cheta diserahi tanggung jawab untuk menulis di Indonesiana, platform citizen jurnalisme di Tempo. Tulisan Cheta berfokus pada isu-isu disabilitas, terutama pada tunanetra dewasa.

Tulisannya membawa pembaca menyelami persoalan tunanetra yang mungkin tak terpikirkan bagi mereka yang punya penglihatan. Misalnya, apakah tunanetra masih merasa perlu mengenakan makeup, bagaimana cara tunanetra menonton film, dan cara mereka menggunakan internet.

Dia juga menulis tentang cara orang yang bisa melihat untuk memberikan bantuan kepada tunanetra. Misalnya, cara menuntun tunanetra melewati jalan. Rupanya banyak orang yang masih tak mengerti bagaimana cara membantu tunanetra.

"Ada tukang ojek membantu saya naik motor, tapi dengan memegang pinggang. Saya jadi bingung ini sebenarnya niatnya "nakal" atau memang mau membantu tapi caranya salah," kata dia. Cheta berniat membuat buku panduan bagi orang yang menjadi buta ketika sudah dewasa.

Tak hanya itu, Cheta juga menuliskan diskriminasi yang banyak diterima oleh para tunanetra. Misalnya, dilarang masuk ke pusat perbelanjaan karena dikhawatirkan tak sengaja merusak barang.

Atau bagaimana mereka yang difabel diperlakukan terlalu berlebihan. Misalnya, kata Cheta, tunanetra kerap kali ditawari kursi roda di rumah sakit atau di bandara. "Padahal kami bisa kok berjalan sendiri," kata dia.

Di kantornya pun, Cheta masih berjuang untuk mendapatkan kepercayaan, bahwa kemampuannya sebagai wartawan tidak hilang hanya karena dia kehilangan penglihatan.

"Saya terus berusaha membuktikan bahwa meskipun tunanetra, saya bukan orang yang perlu dikasihani. Cita-cita saya hanya ingin terus berguna, sampai mati, itu saja," kata Cheta.

Berita terkait