Profesor Amerika meneliti jurnalisme Islam di Indonesia, apa temuannya?

Seorang pria sedang salat di Masjid Istiqlal. Hak atas foto Getty Images/AFP/BAY ISMOYO
Image caption Seorang pria sedang salat di Masjid Istiqlal.

Saat mendengar tentang media dan Islam, yang ada di pikiran Barat adalah budaya Arab, pers yang dikontrol ketat oleh pemerintah, dan bahkan terorisme.

Namun riset Janet Steele, profesor dari Universitas George Washington, Amerika Serikat, membuktikan anggapan itu salah.

"Saya meneliti mengenai bagaimana Islam memengaruhi jurnalis dalam menjalankan kerja jurnalistiknya," kata Janet. Risetnya "Jurnalisme Islam" tidak berisi teologi Islam, tapi lebih ke apa yang dilakukan oleh jurnalis yang beragama Islam. Selain Indonesia, Janet juga meneliti media di Malaysia.

Media di Indonesia yang dia teliti selama kurang lebih delapan tahun itu adalah Sabili, Republika dan Tempo.

Di Malaysia, dia meneliti Al Hujurat dan media milik partai Partai Islam Se-Malaysia (PAS), Harakah.

Sabili, menurut Janet, adalah media yang mewakili Islam skripturalis. "Bagi Sabili, jurnalisme adalah dakwah. Jurnalisnya dipandang sebagai ustaz dan diminta berceramah saat sedang liputan," kata Janet. Dalam bukunya dia menyebut bahwa meskipun Sabili punya sifat dasar provokatif, beberapa redaktur majalahnya memikirkan jurnalisme secara serius.

Majalah ini didirikan tahun 1984, saat Muslim Indonesia merasa dipinggirkan meskipun jumlahnya mayoritas. Sabili beredar di bawah tanang di antara anggota kelompok-kelompok tarbiah dan kampus. Orde Baru memberikan cap ekstrem kanan, meskipun tak pernah resmi berafiliasi dengan organisasi politik mana pun.

Perspektif Sabili adalah bahwa Islam dan masyarakat muslim dikepung oleh banyak musuh. Lima topik utamanya adalah: sekte menyimpang, Jaringan Islam Liberal, pemurtadan, Kristenisasi, dan politik internasional, terutama isu Palestina.

Hak atas foto Getty Images/ADEK BERRY
Image caption Pemeluk syiah menangis saat aksi di Jakarta.

Sabili akhirnya tutup April 2013 karena, salah satunya, salah kelola keuangan. "Pastinya, saya tidak tahu. Ada banyak rumor, semua orang memberikan keterangan yang berbeda satu sama lain," kata Janet dalam Bahasa Indonesia yang lancar.

'Pasar yang harus dilayani'

Dari tiga media Indonesia yang dia teliti, Republika dipandang Janet sebagai media islam komersial. "Republika melihat umat Islam sebagai pasar yang harus dilayani," kata dia.

Didirikan pada 1993, Republika berusaha bertahan dengan membuat pasar Republika menentukan apa isi terbitan mereka.

Republika tumbuh menjadi koran Islam terbesar dan paling berpengaruh di Indonesia. Republika berusaha menjadi media dengan prinsip dasar: modern, moderat, Muslim, nasionalis dan populis.

Jurnalisme adalah salah satu upaya untuk menegakkan amar ma'ruf nahi munkar, yaitu menjauhkan keburukan dan mendekati kebaikan.

Meskipun demikian, wartawan Republika tak wajib memelihara jenggot atau memakai jilbab. "Itu urusan pribadi," kata Janet mengutip Nasihin Masha, Pemimpin Redaksi Republika hingga Maret 2016.

Republika merayakan toleransi dan pluralisme, meskipun, salah seorang editornya mengeluhkan, bahwa artikel apapun yang ditulis di Republika online, pasti ada yang tak puas karena banyaknya mahzab Islam di Indonesia, dan semuanya menganggap diri benar.

Media ketiga adalah Tempo, yang dimasukkan dalam daftar meskipun bukan media Islam, tapi 80 persen jurnalisnya beragama Islam.

Janet menyebut bahwa Tempo mewakili Islam kosmopolitan dalam praktik. Kata Janet, kebanyakan jurnalis Tempo yang diwawancarainya menganggap pekerjaan mereka adalah ibadah.

"Tempo tidak sekuler tapi juga tidak membela agama tertentu," kata Janet. Tempo membela pluralisme dan hak-hak agama minoritas. Banyak wartawannya yang diwawancara Janet mengaku bangga bergabung dengan Tempo karena independensinya dari rezim yang berkuasa.

Tempo sering dikaitkan dan dituduh mendukung Jaringan Islam Liberal. "Mengapa Anda harus menjadi 'Islam liberal' untuk menghormati agama lain?" kata Toriq Hadad seperti dikutip Janet.

Menurut Janet, Tempo fleksibel dengan tetap skeptis, dan menggantungkan kerjanya pada data yang bisa diamati.

Hasil riset Janet Steele selama delapan tahun di lima media di Indonesia dan Malaysia itu dibukukan dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul 'Jurnalisme Kosmopolitan di Negara-Negara Muslim Asia Tenggara'.

Prasangka Barat

Sebagai pakar media yang mengajar di Amerika, Janet tahu benar bahwa ada prasangka di Amerika ketika melihat media-media Islam.

Saat mendengar tentang media dan Islam, yang ada di pikiran mereka adalah budaya Arab, pers yang dikontrol ketat oleh pemerintah, dan bahkan terorisme.

"Saya ingin menjelaskan kepada pembaca di Amerika dan di negara-negara barat, bahwa Islam tidak monolitik. Tidak hanya ada satu versi Islam, seperti di Arab Saudi misalnya," kata Janet dalam peluncuran bukunya di atamerica, Jakarta, Rabu (14/03).

Padahal, kata Janet, di Indonesia dan Malaysia yang berpenduduk mayoritas Islam, para jurnalisnya memegang erat prinsip-prinsip jurnalisme seperti kebenaran, keseimbangan, verifikasi dan independensi dari penguasa.

Hak atas foto BBC Indonesia/Famega Syavira
Image caption Janet Steele di atamerica, Jakarta.

Wartawan Muslim yang dia temui menggambarkan prinsip-prinsip dasar jurnalisme dengan ayat Al quran atau hadis. Ayat Quran yang paling menyita perhatian Janet adalah Al Hujarat ayat 6.

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."

Ayat ini menunjukkan bahwa kata tabayyun, yang artinya memeriksa dan mengkonfirmasi dengan teliti adalah sesuatu yang penting dalam menerima suatu informasi.

"Dalam Islam juga ada tradisi untuk memberikan kritik kepada penguasa, bahkan Khalifah Umar bin Khattab menerima kritik dari seorang perempuan," kata dia. Menurut Janet, fungsi inilah yang kini dijalankan oleh media di Indonesia.

Hal ini berbeda dengan yang dilihatnya di Amerika, yang melihat jurnalisme sebagai sesuatu yang sekuler. "Di Amerika, jurnalisme memperjuangkan kebebasan. Di sini, yang diperjuangkan adalah keadilan dan independensi," kata Janet.

Hak atas foto Nonie Arnie
Image caption Saat dua Budi, yang satu romo dan yang satu kyai, berdialog.

Janet memuji media di Indonesia yang sangat demokratis dan menjunjung tinggi kebebasan beropini. "Islam di Indonesia sangat demokratis, tidak ada Islam yang diturunkan oleh negara," kata dia.

Hal ini berbeda dengan apa yang dilihatnya di Malaysia, di mana orang sangat berhati-hati atau menolak bicara tentang agama.

"Di Indonesia, saya tidak pernah menemukan ada orang yang enggan atau takut bicara soal agama," kata dia.

Janet memuji kerja jurnalistik para wartawan di Indonesia. Meskipun pada Orde Baru wartawan tidak bebas, tapi mereka tetap menjunjung nilai-nilai jurnalisme. "Semua wartawan yang saya ajak bicara sudah mengerti apa itu jurnalisme yang bagus, meskipun tidak bisa mempraktekkannya karena keterbatasan," kata dia.

Dalam menulis insiden intoleransi, media di Indonesia punya dua macam cara untuk menyikapinya.

"Tempo akan menuliskan dari sudut intoleransi, sedangkan Republika akan memberitakan bagaimana kemudian toleransi muncul dari insiden tersebut," kata Janet. Kedua perspektif ini dipandangnya saling melengkapi dan tidak ada yang salah.

Mendapat tekanan dari hoaks

Peneliti Indonesia dari organisasi pegiat HAM Human Rights Watch Andreas Harsono yang menjadi moderator dalam acara peluncuran buku ini berpendapat bahwa jurnalisme dan Islam bisa saling mendukung.

Masalah besar dalam jurnalisme maupun dalam Islam menurutnya justru berasal dari tekanan internet yang dipenuhi dengan kabar bohong yang justru mendapatkan banyak perhatian dan menyebar luas di masyarakat.

Muslim Cyber Army dan situs-situs yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya menjadi ancaman yang nyata.

"Jurnalisme berjalan lamban sementara hoaks menyebar dengan sangat cepat. Inilah sebenarnya ancaman demokrasi yang sesungguhnya," kata Andreas.

Kondisi ini makin dinilai mengkhawatirkan karena jurnalisme belum punya model bisnis baru yang bisa membiayai jurnalisme dalam "perang" melawan hoaks.

"Internet menekan jurnalisme, sampai media-media berada dalam kondisi keuangan yang mencemaskan," kata dia.

Berita terkait