Pemilihan Presiden Rusia: Bagaimana sikap 'generasi Putin'?

Warga berakhir pekan ke Lapangan Merah, Moskow, di hari pemilihan presiden, Minggu (18/03). Hak atas foto Clara Rondonuwu untuk BBC Indonesia
Image caption Warga berakhir pekan ke Lapangan Merah, Moskow, di hari pemilihan presiden, Minggu (18/03).

Rakyat Rusia tidak perlu menebak pemenang pemilihan umum Rusia, mereka sudah tahu hasil pemilu kali ini akan berujung pada penobatan Putin sebagai presiden. Tapi tak semua 'Generasi Putin', atau mereka yang sejak lahir hanya merasakan era Putin sebagai presiden Rusia, mendukungnya. Berikut laporan mahasiswa Indonesia di Rusia, Clara Rondonuwu.

Anastasiya Moskalyova yang berbagi kamar dengan saya menolak ikut pemilu. Pemilihan Presiden Rusia yang jatuh pada Minggu (18/03) dilewatkan mahasiswi yang genap 19 tahun tersebut dengan tidur-tiduran sambil menyetel musik rock kencang-kencang.

''Suara saya tidak penting.''

"Rakyat biasa seperti saya cuma jadi atribut untuk sebuah pertunjukkan. Dan saya menolak ambil bagian di pertunjukkan tersebut,'' kata Nastia — sapaan akrabnya.

Menurut dia, 'segalanya digelar untuk sebuah legitimasi' bahwa Kremlin sudah menyelenggarakan pemilihan presiden. ''Siapa yang keluar sebagai pemenang, semua sudah tahu.''

''Menyedihkan, sebab ini untuk pertama kalinya saya punya hak pilih.''

Generasi Putin, terkecuali Nastia?

Oleh media, pemilih pertama seperti Nastia yang sudah berusia antara 18 dan 24 tahun dilabeli #GenerationPutin — generasi yang hampir seumur hidupnya ada di bawah kepemimpinan Vladimir Putin.

Lembaga jajak pendapat independen Levada Center di Moskow menyebutkan 88% warga Rusia dalam kelompok umur ini adalah pendukung Putin.

''Tidak ada yang memfavoritkan Putin. Salah kalau menganggap kami (generasi muda Rusia) sependapat dengan dia,'' kata Nastia yang mengaku 'gerah' dengan anggapan bahwa mereka yang berlabel #GenerationPutin otomatis pendukung Putin.

''Memang kami hidup semasa Putin menjadi presiden, tapi kami juga juga melihat perkembangan yang ada di Eropa dan Amerika. Lalu, membandingkannya dengan apa yang ada di Rusia.''

''Saya tidak suka melihat perbedaannya. Ada beberapa hal yang abnormal di Rusia,'' ujar Nastia. ''Seharusnya ada perubahan, tapi saat ini kami pun tidak bisa melakukan perubahan apapun. Kami tidak punya alternatif.''

Lebih jauh soal 'tidak punya alternatif', Nastia mengaku tidak melihat figur pemimpin kuat dari kubu oposisi paling menonjol seperti Aleksey Navalny sekalipun.

Hak atas foto Clara Rondonuwu untuk BBC Indonesia
Image caption Anastasiya Moskalyova, mahasiswi Rusia, yang merupakan bagian dari 'Generasi Putin'.

Navalny yang mengusung kampanye anti-korupsi di Kremlin dianggap Nastia masih kalah jauh dengan Putin dalam hal mengurus negara sebesar Rusia.

''Saya akui dia mampu memimpin revolusi baru,'' ujarnya. ''Tapi dia belum siap memimpin Rusia.''

''Untuk memimpin negara besar, amat-sangat-besar, pemimpin perlu memiliki kualitas mengelola negara dan kemampuan diplomasi yang baik. Sayangnya, Putin yang terbaik yang dimiliki Rusia saat ini.''

Nastia menyebutkan bahwa ayahnya yang seorang komunis pun berpendapat Putin kandidat terbaik tahun ini.

''Seandainya saja ada yang lebih baik dari dia, tentu ayah saya akan mendukung yang lain.'' Sedangkan ibunya, sama seperti Nastia, berusaha memisahkan diri dari politik.

'Tanpa Putin, tidak ada Rusia'

Masih teman sekamar saya di asrama, Svetlana Kocetkova, 18, memilih bangun siang dan menikmati akhir pekan. ''Buat apa ikut pemilu, kalau hasilnya sudah jelas?''

''Tapi jangan salah, saya sangat mendukung Putin menang," kata Sveta.

''Bayangkan, dia membangun negara yang hancur. Rusia kacau saat pertama dia menjabat presiden. Sekarang sedikit demi sedikit semuanya sudah jauh lebih baik,'' kata mahasiswi kelahiran Krasnodar Kray di barat daya Rusia.

''Saya tidak tahu bagaimana Rusia kalau dia menjabat sampai 2024, tapi yang saya tahu pasti sekarang Rusia sudah jauh lebih baik.''

Hak atas foto Clara Rondonuwu untuk BBC Indonesia
Image caption Warga asal Ulyanovsk, kota yang berjarak 700 km lebih dari Moskow, ikut berpesta merayakan 'Kembalinya Krimea' di Lapangan Manezhnaya, Kremlin.

Sveta juga memuji ketenangan Putin selama mengubah Rusia pascakeruntuhan Uni Soviet. ''Kapan saja Putin bisa dibunuh oleh lawan politiknya atau orang luar, tapi dia melewati segala sesuatu dengan tenang.''

''Tanpa Putin tidak ada Rusia seperti sekarang. Pemimpin lain cuma bisa menghancurkan,'' ujarnya.

Berbeda dengan Nastia dan Sveta, guru bahasa Rusia saya Yulia Kruglova, 26, justru tidak ingin golput.

'Walau pemilu kali ini aneh, saat ini saya punya status politik aktif. Itu sebabnya saya gunakan, supaya nanti tidak perlu kecewa dengan hasilnya,'' kata Yulia yang berangkat mencoblos di Moskow Barat.

Yulia mengaku yakin betul, di bawah kepemimpinan Vladimir Putin politik luar negeri Rusia 'tidak berubah banyak'.

''Sampai 2024 posisi Rusia di dunia internasional kurang lebih sama. Cuma, sayangnya, baru-baru ini Putin dalam pidatonya mengenalkan senjata-senjata baru yang dimiliki Rusia.''

Benarkah Putin terlampau sulit dikalahkan?

Dalam putaran pemilu Rusia kali ini, figur Aleksey Navalny yang dianggap berpeluang sudah lebih dulu tersingkir.

Adapun, kandidat lain yang lolos bersaing dengan Putin kalah populer atau bahkan tidak punya peluang menang sama sekali.

Sebut saja sosok nasionalis dengan karakter meluap-luap seperti Vladimir Zhirinovsky, pemimpin Partai Komunis Pavel Grudinin, serta seleb merangkap wartawan Ksenia Sobchak.

Di media sosial, mengemuka sederet kritik untuk Pilpres Rusia.

Salah satunya datang dari Navalny dan sejumlah pengguna Twitter yang berkicau soal sarapan yang dipakai untuk memancing warga datang ke tempat pemungutan suara.

Cara ini disamakan dengan pemilu zaman Soviet.

Komandan International Space Station Anton Shkaplerov yang kelahiran Sevastopol ikut mencoblos dari luar angkasa

Sedangkan akun @maxseddon berkicau soal foto Putin yang letaknya tepat di tengah kertas suara.

Dan, kritik paling serius adalah soal kotak-kotak suara yang sudah terisi surat suara.

Tuduhan itu langsung dijawab oleh akun Twitter Komisi Pemilihan Pusat (CIK) Rusia, namun justru semakin banyak temuan serupa yang kemudian diunggah ke media sosial.

Penerima Suaka dari Rusia, Edward Snowden, salah satu yang ikut nimbrung menghangatkan topik yang satu ini.

Ditutup dengan pesta 'kembalinya' Krimea ke Rusia

Di pusat kota Moskow, hari pemilihan ditutup dengan pesta merayakan empat tahun 'kembalinya' Sevastopol, Krimea, ke Rusia.

Tanggal perayaan memang bertepatan dengan hari pemilu dan tahun ini untuk pertama kalinya juga warga Krimea ikut mencoblos Presiden Rusia.

Tepat pukul 20.00 malam, saya dan warga yang merubung kawasan Kremlin diperbolehkan masuk setelah melewati pemeriksaan berlapis.

Sebuah layar besar sudah mempertontonkan keindahan Krimea, 'wilayah Rusia yang menghadap Laut Hitam'.

Panggung dengan pencahayaan hebat berdiri di sudut Kremlin. Dari musik nostalgia era Soviet sampai musik tekno diputar. Pengunjungnya tidak cuma warga Moskow, tetapi banyak warga datang dari luar kota.

Hak atas foto Clara Rondonuwu untuk BBC Indonesia
Image caption Di pusat kota Moskow, hari pemilihan ditutup dengan pesta merayakan 4 tahun 'kembalinya' Sevastopol, Krimea, ke Rusia.

Penyelenggara acara juga membagi-bagikan bendera Rusia, sedangkan sekelompok warga lain sudah datang dengan bendera bertuliskan, ''Persaudaraan dalam pertempuran''.

Bertambah malam, tepat di saat pemilu tuntas di Kaliningrad, Rusia, Putin muncul ke atas panggung menyampaikan terima kasih buat pendukungnya.

Hingga 19 Maret 2018 sore, Komisi Pemilihan Pusat Rusia sudah selesai menghitung 99% suara yang masuk.

Putin meraih 76,65% suara. Pavel Grudinin dari Partai Komunis duduk di urutan dua, mengantongi 11,81% suara, diikuti oleh Vladimir Zhirinovsky, dan Ksenia Sobchak.

Total, Putin mendapatkan 56,2 juta suara — perolehan suara terbanyak dalam tujuh kali pemilihan presiden di masa sesudah runtuhnya Uni Soviet.

Berita terkait