Sripun, David Beckham, dan lima fakta tentang 'bullying'

Sripun dan teman-temannya berswafoto bersama David Beckham. Hak atas foto UNICEF/SIEGFRIED MODOLA
Image caption Sripun dan teman-temannya berswafoto bersama David Beckham.

Sripun menginspirasi pembaca BBC Indonesia berbagi cerita tentang pengalaman bullying yang pernah mereka alami, dari dimasukkan ke tong sampah dan diejek karena mata sipit.

Sri Pundati, pelajar SMP di Semarang, sukses membuat iri banyak orang karena diajak beraktivitas dan berdialog dengan bintang sepakbola Inggris David Beckham.

Beckham menemui Sripun karena gadis 15 tahun itu berperan aktif dalam melawan bullying di sekolahnya.

Selain turut berbahagia melihat Sri tertawa bersama Beckham, kisah Sripun memicu para pembaca BBC Indonesia berbagi cerita tentang pengalaman perundungan yang pernah mereka alami atau terjadi di sekitar mereka.

"Saya dulu juga korban bully di SMP awal saya. Sekarang saya lihat ini jadi sedikit gembira," kata pembaca bernama Shirley.

Pembaca dengan akun Instagram @d3bzon3 menyatakan mendukung Sripun karena sudah seharusnya sekolah menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk seseorang berkembang.

"Dulu saya juga pernah di-bully saat saya SMP karena saya pindahan dari daerah. Saya hidup dalam dendam karena tidak berani curhat pada guru dan orangtua saya. Akhirnya potensi2 saya banyak yang terkubur. Terus kampanyekan anti-bullying ya! Karena semua anak BERHARGA!" kata @d3bzon3.

Banyak hal bisa jadi alasan untuk melakukan perundungan. Pembaca bernama Friske Kusliani menceritakan anaknya yang dirundung karena belum punya ponsel.

"Aku dulu juga sering dibully karena mataku sipit enggak kayak yang lain. Dan teman-temanku selalu mengejekku, katanya kalau tertawa merem," kata pembaca bernama Jessica Eveline.

1. Dampak pada anak sulit hilang

Pembaca BBC Indonesia dengan akun @arwan_dev bahkan pernah dimasukkan tong sampah saat dirundung waktu SMP. "Jaman SMP saya sering di bully, dari hal biasa sampai yg terparah. Mulai dari di ejek sampai di masukan ke dalam tong sampah pernah saya alami, dan kejadian itu masih saya ingat sampai sekarang," kata dia di Instagram.

Sebuah penelitian melacak para korban perundungan yang lahir pada 1958.

Hasilnya, anak-anak korban perundungan masih merasakan dampak psikis dari kejadianperundungan yang dialaminya puluhan tahun lalu.

2. Sangat banyak terjadi

Menurut data UNICEF, satu dari lima anak usia 13-15 tahun di Indonesia telah mengalami perundungan. Jika ditotal, jumlahnya sekitar 18 juta anak. Satu dari tiga anak mendapat serangan fisik di sekolah.

Menurut penelitian The Health and Social Care Information Centre (HSCIC) pada 120.000 lebih dari setengah remaja yang diteliti mengaku pernah mengalami bullying. 25% responden mengaku sebagai pelaku.

3. Kasus perundungan berawal dari rumah

Seorang pembaca mengatakan bahwa anaknya menjadi korban dan bertanya, apa yang bisa dia lakukan?

Sebuah tinjauan mengungkapkan bawah anak-anak yang memiliki orang tua yang terlalu mengekang rentan bullying.

Tapi anak-anak yang punya orang tua yang mendidik dengan keras, juga meningkatkan risiko diintimidasi.

Solusinya, orang tua tidak boleh terlalu berlebihan saat melindungi anaknya dari bahaya di luar. Sebab, anak-anak harus belajar untuk mengatasi konflik.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Saat bayi jadi guru anti-bullying

4. Hal yang bisa dilakukan jika anak menjadi pelaku perundungan

Risiko bully memang tinggi, namun masih sedikit pengetahuan soal apa yang harus dilakukan jika Anda tahu bahwa pelaku bullying adalah anak Anda sendiri.

BBC mendapat berbagai saran dari para ahli dan seorang ibu yang menceritakan pengalamannya menangani kasus perundungan yang dilakukan oleh putrinya.

Salah satu yang bisa dilakukan oleh orang tua, "Pertama, duduklah bersama mereka dan cobalah untuk membangun fakta-fakta seputar kejadian tersebut dengan pikiran terbuka. Sebagai orang tua, terkadang kita dibutakan dengan perilaku anak-anak kita sendiri - jadi cobalah untuk tidak bersikap defensif."

Cerita lengkapnya bisa Anda baca di sini.

5. Berikut ini beberapa sosok inspiratif yang membuktikan prestasinya meski pernah mengalami perundungan

Zulfikar Rahmat, pelajar Indonesia di Inggris, dulu menjalani kehidupan yang sulit karena bully. Karena tak bisa bicara lancar akibat Ashpyxia neonatal, dia menjadi sasaran empuk.

"Saya mengalami berbagai macam bullying, seperti ditertawakan, diejek, dikunci di kamar mandi, gerakan tangan saya yang 'aneh' diperagakan di depan kelas, dan lain-lain," kata Zulfikar.

Zulfikar berhasil jadi sarjana dengan predikat terbaik dari Universitas Qatar. Dia kini sedang melakukan penelitian doktoral di Universitas Manchester, Inggris.

Meliani Siti Sumartini, duduk sendiri ketika murid lainnya makan bersama atau berkumpul sambil bermain, saat jam istirahat sekolah tiba.

"Teman-teman di sekolah menjauhi saya, bahkan ada yang melarang saya duduk bersama" kata Meliani.

Demi punya teman, dia mulai menjadi pemusik dengan gitarnya. Tak tanggung-tanggung, genrenya metal. Prestasinya membuat dia dikenal. Dia juga mendapat beasiswa dengan nilai kuliah yang bagus.

Apakah Anda punya pengalaman dirundung atau melawan perundungan? Ceritakan pada kami di Facebook BBC Indonesia atau Twitter @bbcindonesia.

Topik terkait

Berita terkait