Kekayaan buah Indonesia: 'Durian segenggaman tangan' sampai 'rambutan hutan tanpa rambut'

Salah satu foto di akun Facebook Hanif Wicaksono yang mengumpulkan buah hutan. Hak atas foto Facebook/Hanif Wicaksono
Image caption "Enam jenis tapi bukan durian," tulis Hanif Wicaksono dalam keterangan foto buah-buahan hutan Kalimantan yang diunggahnya di akun media sosialnya.

Lewat akun Facebook dan Instagramnya, seorang pegawai negeri sipil di Kalimantan Selatan membagikan foto-foto buah-buahan, yang sebagian berasal dari pohon langka di hutan dekat tempat tinggalnya.

Unggahan foto dari pria bernama Hanif Wicaksono itu menjadi viral di media sosial beberapa waktu lalu. Foto itu disebarkan lebih dari 7.000 kali dan disukai lebih dari 4.500 kali.

Meski buah-buahan itu tampak seperti durian, namun sebenarnya bukan. Dalam cuitan selanjutnya disebut bahwa buah-buah itu, "...menurut yang tukang foto, nama-nama buah di atas adalah Mahrawin, Karantungan, Lahung, Pampakin, Kalih dan Trako."

Foto yang diunggah oleh akun @manusiasuper itu berasal dari akun Facebook Hanif Wicaksono yang memang dalam beberapa tahun terakhir sering mengunggah foto-foto buah-buahan hutan asal Kalimantan.

Sejak 2012, dalam pekerjaan sehari-harinya sebagai pegawai BKKBN yang berpindah-pindah tugas di Kalimantan Selatan, Hanif kerap mencari pohon-pohon dan buah-buahan hutan yang tak pernah ditemuinya di Pulau Jawa.

"Awalnya memang karena penasaran. Saya ini kan hitungannya pendatang. Saya ke Kalimtantan, saya lihat buah-buah, ini apa? Banyak orang ternyata hanya tahu buahnya saja, tapi ketika saya tanya mana sih tanamannya? Ternyata banyak yang tidak tahu," kata Hanif pada BBC Indonesia, Kamis (5/4) lalu.

Karena penasaran dengan pohon buah-buahan tersebut, dia berjalan berkeliling masuk ke hutan untuk mencarinya. Awalnya, Hanif tinggal di Kandangan, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.

"Awalnya memang sulit, karena buah-buah hutan itu adanya jauh di pedalaman," kata Hanif.

Namun, ekspedisi kecil-kecilan pencarian buah-buah hutan yang dilakukan Hanif mulai mendapat hasil ketika dia kemudian pindah berdinas di Desa Marajai, di Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan.

Tempat Hanif kini tinggal dan berdinas itu berbatasan dengan hutan sekunder yang kaya dengan pohon buah-buahan hutan tersebut.

Dan dalam lima tahun menjalani hobi mengumpulkan buah-buahan hutan, Hanif bisa menemukan kurang lebih 120 sampai 150 jenis buah yang membuatnya merasa tertantang untuk mendokumentasikannya.

"Saya ingin orang tahu, bahkan orang di sini pun tidak tahu buah apa yang saya kumpulkan, apalagi orang di luar Kalimantan. Saya lihat di pasar, paling apel, anggur, kan tidak ada yang ditanam di Kalimantan. Aneh juga, padahal buah di Kalimantan itu luar biasa," kata Hanif.

"Misalnya buah keledang, itu banyak di sekitar rumah, tapi tidak sampai ke pasar, karena antara itu habis dimakan tupai atau dimakan keluarga," imbuhnya.

Durian segenggaman tangan

Tapi tak semuanya buah-buahan hutan yang ditemukan oleh Hanif masih banyak pohonnya.

Dia mencontohkan, buah Durio acutifolius atau durian segenggaman tangan yang ditemuinya. "Saya sudah keliling, nggak sampai 10 pohon saja."

Selain itu juga jenis durian lain yang diduganya adalah Durio excelsus juga tak lebih dari dua pohon saja.

Hampir setiap akhir minggu Hanif masuk ke kawasan hutan untuk mencari buah-buahan hutan, dan sampai sekarang, dia masih tetap menemukan buah-buahan jenis baru dan spesies baru yang sebelumnya tak pernah ditemui.

"Saya pikir sayang sekali ini, jangan sampai hilang. Minimal orang sini tahu dulu. Semakin orang tahu, semakin tertarik, kan mereka penasaran. Dari ingin tahu aja, sudah banyak feedback, 'oh pengen bibit, pengen apa'. Berarti orang itu tertarik dengan buah lokal, peduli," kata Hanif.

"Pemikiran saya, tanaman ini kan identitas. Misalnya, Kalimantan Selatan itu kan buah khasnya kasturi, tapi sampai sekarang belum ada kebun kasturi di Kalsel. Malah di California, mereka sudah panen kasturi berkali-kali dengan pohon yang pendek," kata Hanif.

Identifikasi

Ada beberapa cara yang digunakan oleh Hanif untuk mengidentifikasi buah-buahan yang ditemuinya.

Pertama, yang paling mudah, dengan menanyakannya ke warga sekitar atau ke grup taksonomi tempat dia bergabung. Grup tersebut, yang juga berisi ahli taksonomi dari IPB, bisa membantu dalam mengidentifikasi jenis buah-buahan.

Selanjutnya, Hanif kemudian mengidentifikasi sendiri buah-buahan sejenis yang berbeda variannya. "Tapi kalau benar-benar blank, saya lemparkan ke teman-teman taksonomi, mereka yang mengidentifikasi," katanya.

Setelah itu, untuk memastikan Hanif akan mengeceknya di herbarium online internasional yang membuka datanya untuk publik.

Desa Marajai, tempat Hanif biasa mencari buah, menurutnya adalah suatu wilayah yang kaya. Dia pernah menemukan suatu area yang luasnya tak lebih dari 100 meter persegi, tapi penuh dengan 40 jenis pohon buah-buahan yang berbeda.

"Kalau tidak disosialisasikan, tidak diedukasi, biarpun banyak, akan hilang juga nanti," tandas Hanif.

Topik terkait

Berita terkait